Memasuki Dusun Parakan, Desa Ngargogondo, Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tidak jauh berbeda dengan pedusunan lain di wilayah itu. Asri, bersih dan nampak tertata. Pohon rambutan, merupakan ciri khas desa di kaki Bukit Menoreh tersebut.
Dari Taman Wisata Candi Borobudur, Desa Ngargogondo berada 2,5 km ke arah tenggara, berbatasan dengan Desa Wisata Candirejo dan Desa Kriya Wanurejo. Dusun Parakan, cukup strategis untuk ikut menyambut kunjungan wisatawan asing. Desa ini, oleh Mendiknas Bambang Sudibjo, Ahad (28/1) lalu diresmikan sebagai Desa Bahasa pertama di Indonesia.
Penobatan ini, merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk kembali mendongkrak citra wisata di Indonesia yang sedang terpuruk. Penobatan seperti ini, bukanlah yang pertama kali. Kelahiran Desa Bahasa ini memang menyusul lahirnya Desa Kriya dan Desa Wisata. Sebelum keduanya, terlebih dulu lahir Desa Buku.
Desa Buku, berada di lokasi wisata Taman Kyai Langgeng, Kota Magelang. Objek wisata ini lebih banyak dikunjungi wisatawan lokal. Di Desa Buku, tersedia sarana perpustakaan dan sesekali digelar pameran buku yang melibatkan beberapa penerbit. Semua itu, disediakan untuk menjadi magnet bagi para wisatawan sekaligus mendongkrak minat baca warga setempat. Namun, perkembangannya, desa itu tak kuat menopang predikatnya sebagai Desa Buku. Pada akhirnya, denyut warga di desa itu pun menjadi sama persis dengan desa-desa pada umumnya. Tak ada lagi yang istimewa.
Beberapa saat menjelang dinobatkannya Desa Bahasa kemudian lahir Desa Kriya dan Desa Wisata. Desa Kriya menjadi pusat pembuatan kerajinan khas Borobudur semisal topeng, topi, kaus, dan sejenisnya. Barang-barang kerajinan yang lahir di desa ini kemudian memang dipasarkan di kawasan wisata Candi Borobudur. Hingga kini, aktivitas produksi kerajinan di desa tersebut masih berjalan dengan baik.
Untuk memudahkan para wisatawan –umumnya wisatawan asing– yang ingin menginap di dekat Borobudur, di Desa Wisata kemudian disediakan tempat-tempat akomodasi. Di desa ini pula kerap dipertontonkan kesenian tradisional warga setempat untuk menarik minat wisatawan supaya tinggal lebih lama di desa tersebut.
Keberadaan desa-desa ‘berlabel khusus’ itu kemudian dilengkapi dengan lahirnya Desa Bahasa. Desa ini memiliki obsesi agar warganya menjadi sebuah komunitas yang mampu berkomunikasi dengan berbagai macam bahasa, seperti Inggris, Arab, Prancis, Jerman, Jepang, dan tentu Bahasa Kawi yang nyaris punah. Hal ini mengingat wisatawan yang berkunjung ke Borobudur memang berasal dari berbagai bangsa dengan bahasa yang berbeda-beda.
Keberadaan Desa Bahasa ini tidak bisa terlepas dari keberadaan International Community Village, sebuah tempat pembelajaran bahasa yang dirintis Hani Sutrisno, Pemuda Pelopor terbaik II tingkat Jawa Tengah bidang pendidikan. Komunitas yang dirintis sejak tahun 1998 tersebut, kini menjadi semacam laboratorium bahasa, terutama bagi masyarakat setempat. Baik anak-anak, remaja, maupun kalangan orang tua.
Pelatihan bahasa asing di desa ini, tidak hanya sebatas dilakukan untuk kalangan terpelajar, seperti anak-anak SD, SLTP, maupun SLTA, namun diupayakan untuk semua warga. Sehingga seluruh warga desa mampu berkomunikasi dengan wisatawan asing. Secara lebih jauh diharapkan, warga setempat mampu menjadikan bahasa asing sebagai bahasa sehari-hari.
Untuk meperoleh pelatihan bahasa di International Community Village yang kini menempati tiga rumah, yaitu rumah Toha, Lukman dan Muh Danun, memang tidak gratis. Peserta diminta kontribusi Rp 4.000 per bulan. Iuran itu bukan sebagai upaya komersialisasi pelatihan, melainkan untuk melengkapi sarana, terutama diktat.
Bagi anak-anak dan remaja, pelatihan diselenggarakan antara pukul 14.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. Sedangkan untuk kelas bapak-bapak dan ibu diselengarakan sejak pukul 20.00 WIB hingga selesai. Kegiatan pembelajaran bahasa ini, sepekan berlangsung enam hari, yaitu Selasa hinga Ahad. Waktunya dipilih malam hari karena di siang hari, bapak-bapak dan ibu-ibu di desa itu harus bekerja. Umumnya mereka adalah petani.
Agar benar-benar memiliki kemampuan berbahasa asing, setiap dua bulan sekali, para peserta diminta mempraktikkan kemampuan bahasanya di Candi Borobudur. ”Begitu ada turis datang, anak-anak maupun ibu-ibu di sini sudah bisa cas-cis-cus bicara bahasa Inggris,” kata Toha, salah satu penyelenggara pelatihan. Selain bahasa Inggris, pelatihan juga meliputi bahasa Jepang dan Bahasa Kawi. Ke depan, warga akan diperkaya dengan bahasa asing lain seperti Prancis, Jerman dan Bahasa Arab. Lalu bagaiamana mengahadapi bahaya budaya asing yang bakal ‘merobek’ budaya lokal jika impian mereka menarik wisatawan manca untuk tinggal di tempat itu terwujud? Toha mengatakan, sejak dini, mengingat warga desa mayoritas Muslim, baca tulis Alquran serta pelajaran agama menjadi garapannya.
Sumaryati, warga setempat mengakui pelatihan yang diikutinya bisa membantunya memahami bahasa asing, terutama bahasa Inggris. ”Sedikit-sedikit juga bisa ngomong bahasa Inggris,” tutur dia. Lebih jauh, dia berharap nantinya bisa benar-benar mampu memahami dan melayani wisatawan yang hadir ke desanya.
Di samping kemampuan berbahasa, warga Desa Bahasa juga mendapat pelatihan keterampilan hidup meliputi pemasaran, guiding, komputer, dan sebagainya. Cuma, untuk membuka Dusun Parakan dengan Desa Wisata Candirejo, perlu jembatan penghubung dan pengaspalan jalan yang panjangnya tidak lebih dari 350 meter. Sedangkan dengan Desa Kriya, juga hanya butuh pengaspalan jalan sekitar 200 meter.
Sebab dengan kondisi yang sekarang, kendati letaknya dikelilingi Desa Wisata dan Desa Kriya, Desa Bahasa nyaris terpisah. ”Kami memiliki obsesi membuat acara bersama antara ketiganya, sehingga kita bisa maju bersama, memang sarana jalan penghubung,” ujar Toha.
* Diambil dari artikel republika Kamis, 01 Februari 2007
** gambar diambil dari artikel barrie


