Mei 29, 2007
Daerah sekeliling Borobudur itu sekarang ada yang bernama Tanjung (Tanjungsari), Karang, Bumisegoro, Sabrangrowo, dan sebagainya. Secara toponimi (asal-usul nama daerah), jelas mengindikasi adanya telaga/rawa di sekitar itu.
Adalah van Bemmelen, diilhami oleh penelitiannya di wilayah Bandung tahun 1933,
berhipotesis bahwa Telaga Borobudur terjadi akibat bendungan piroklastika Merapi menyumbat aliran Kali Progo di kaki timurlaut Perbukitan Menoreh. Itu terjadi sebelum Borobodur didirikan tahun 830-850. Dan adalah van Bemmelen juga yang berhipotesis (bisa dibaca di bukunya : the Geology of Indonesia) yang menyebutkan bahwa piroklastika Merapi pada letusan besar tahun 1006 telah menutupi danau Borobudur menjadi kering dan sekaligus menutupi candi ini – lenyap dari sejarah, sampai ditemukan kembali oleh tim van Erp pada tahun 1907-1911. Kalau melihat gambar peta dan penampang geologi volkano-tektonik Gunung Merapi (van Bemmelen, 1949), akan tahulah kita bahwa ”nasib” Borobudur sepanjang sejarahnya telah banyak ditentukan oleh merosot-runtuhnya dinding baratdaya Merapi.
Hasil kajian geologi yang dilakukan Ir Helmy Murwanto MSc, Ir Sutarto MT dan Dr Sutanto dari Geologi UPN ‘Veteran’ serta Prof Sutikno dari Geografi UGM membuktikan, keberadaan danau di kawasan Candi Borobudur memang benar adanya. Penelitian itu dilakukan sejak 1996 dan masih berlanjut sampai sekarang. Bahkan, tahun 2005, penelitian tentang keberadaan danau purba itu oleh Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi Jawa Tengah, CV Cipta Karya dan Studio Audio Visual Puskat, dibuat film dokumenter ilmiah dengan judul ‘Borobudur Teratai di Tengah Danau’.
Yang diteliti adalah endapan lempung hitam yang ada di dasar sungai sekitar Candi Borobudur yaitu Sungai Sileng, Sungai Progo dan Sungai Elo. Setelah mengambil sampel lempung hitam dan melakukan analisa laboratorium, ternyata lempung hitam banyak mengandung serbuk sari dari tanaman komunitas rawa atau danau. Antara lain Commelina, Cyperaceae, Nymphaea stellata, Hydrocharis. “Istilah populernya tanaman teratai, rumput air dan paku-pakuan yang mengendap di danau saat itu,” katanya.
Penelitian itu terus berlanjut. Selain lempung hitam, fosil kayu juga
dianalisa dengan radio karbon C14. Dari analisa itu diketahui endapan
lempung hitam bagian atas berumur 660 tahun. Tahun 2001, Helmy melakukan pengeboran lempung hitam pada kedalaman 40 meter. Setelah dianalisis dengan radio karbon C14 diketahui lempung hitam itu berumur 22 ribu tahun. “Jadi kesimpulannya, danau itu sudah ada sejak 22 ribu tahun lalu, jauh sebelum Candi Borobudur dibangun, kemudian berakhir di akhir abad ke XIII,” katanya.
Kenapa berakhir, kata Helmy, karena lingkungan danau merupakan muara dari beberapa sungai yang berasal dari gunung api aktif, seperti Sungai Pabelan dari Gunung Merapi, Sungai Elo dari Gunung Merbabu, Sungai Progo dari Gunung Sumbing dan Sindoro. Sungai itu membawa endapan lahar yang lambat laun bermuara dan menimbun danau. Sehingga danau makin dangkal, makin sempit kemudian diikuti dengan endapan lahar Gunung Merapi pada abad XI. Lambat laun danau menjadi kering tertimbun endapan lahar dan berubah menjadi dataran Borobudur seperti sekarang.
Menurut Helmy, pada saat dilakukan pengeboran, endapan danaunya banyak
mengeluarkan gas dan air asin. “Tapi lambat laun tekanannya berkurang, dan sekarang kita pakai sebagai monumen saja,” katanya.
Ditargetkan, pada penelitian berikutnya akan diteliti luasan danau kaitannya dengan sejarah perkembangan lingkungan Borobudur dari waktu ke waktu, mulai air laut masuk sampai laut tertutup sehingga berkembang menjadi danau, kemudian danau menjadi rawa dan menjadi dataran.
* Disunting dari berbagai sumber
** gambar diambil dari kartu ucapan

Agustus 4, 2007 at 9:40 pm
Konsep bangunan candi menyerupai bunga teratai, tapi mengapa teratai dan di tengah danau? apa tujuannya? bukankah banyak tempat lain yang sebetulnya layak juga untuk dijadikan tmpat untuk bangunan candi? seperti misalnya lereng merapi? Karena juka dibandingkan dengan Hindu, bangunan candi merupakan tempat sekolah atau menuntut ilmu, nyepi…seperti dieng, candi songo dll..
Agustus 6, 2007 at 8:39 am
komen anda sangat menggelitik, terima kasih.
saya bukan penganut Budha sehingga kurang memiliki pemahaman tentang ajaran-ajaranya. sepintas, dalam agama tersebut, bunga teratai memiliki tempat tersendiri. Di relief candi, di film Kera Sakti dan beberapa literatur sering digambarkan Budha bersila di atas bunga teratai. barangkali ada rekan yang lebih paham berkenan menambahkan di sini?
pemilihan lokasi candi dan bangunan penting lainnya tentu tidak sembarangan. Ada kompetensi tertentu yang harus dipenuhi untuk dapat mengemban tugas menjadi “juru” pemilih ini. kalau sekarang ada ilmu planologi, feasibility study dll, dulu dikenal konsep mandala dan ritual “laku” dalam setiap “pekerjaan besar” seperti ini.
Agustus 8, 2007 at 4:44 pm
Mesti lebih diperkaya nih situs ini dengan laporan ttg agama buda di borobudur dan masih adakah keturunan para pembuat candi itu. dimana?
Agustus 10, 2007 at 8:27 am
setuju. Dari nick name dan alamat email ini posisi Anda sekarang ada di Borobudur. barangkali punya info yang bisa dishare? terima kasih.
Oktober 3, 2007 at 12:40 am
namanya juga teratai mas,..kan layaknya di tengah danau gitu….seperti borobudur yang kalau dilihat dari atas bebrbentuk bunga teratai
Oktober 31, 2007 at 5:13 pm
Wah, saya kurang paham nih, cuma tadi iseng2 aja baca-baca Artikel diatas, sekalian kasih koment, eh taunya ga tau mau komen apa :-D…!!! Maaf geh..
Nopember 5, 2007 at 3:43 pm
numpang nimbrung…
Teratai memang salah satu dari simbol-simbol yang dipakai dalam penghormatan (puja) agama Buddha, melambangkan kesucian, mengingatkan umat Buddha untuk senantiasa menjaga pikiran dan hati tetap bersih meski berada di lingkungan yang ‘tidak bersih’
Borobudur sendiri dibangun dengan tingkat-tingkat yang juga melambangkan tahap-tahap yang harus dilalui oleh seorang manusia untuk mencapai tujuan tertinggi yaitu Nibbana/Nirvana (padamnya semua nafsu), dilambangkan dengan puncak stupa Borobudur yang polos tanpa relief atau bentuk2, sebagaimana pikiran manusia yang telah terbebas dari bentuk-bentuk kekotoran batin.
Nopember 19, 2007 at 2:56 pm
borobudur,selalu saja menyimpan banyak pertanyaan yang diharapkan segera berjawaban. sebagai anak magelang,aq msh bangga dengan kebesarannya,tp tolong nyuk bareng2 jaga kebersihan dan keindahannya. bsma kita cari, sebenarnya ada apa di balik borobudur. anda ada inpo,aku sllu menantinya.
salam.
magelanger,satari
Desember 13, 2007 at 9:49 pm
aQ kagum banget ma borobudur,coz pada zaman dulu teknologi kan belum berkembang seperti sekarang tapi candi itu bisa dibangun segitu megahnya walaupun membutuhkan jangka waktu yang lama. makna candi itu begitu dalam cotohnya yang sudah banyak diketahui orang2 yaitu tingkatan untuk mencapai budha yang memiliki beberapa tahapan. itu hanyalah sebagian makna yang kecil dan masih banyak filosofis lainnya lagi.
orang luar negri juga berpendapat bahwa candi borobudur sangatlah menarik dan salah satu tempat yang harus ia kunjungi selama hidupnya. kemungkinan candi berada ditengah rawa itu ada klo mnrut saya sec coz klo dihubungkan dengan teratai, teratai juga hidup didalam air dan bunganya menjulang di permukaan air yang memiliki arti bagi agama budha..
candi borobudur itu memang keren…jangan sebut warga indonesia jika kamu tidak kagum dan tidak berniat mengunjungi tempat yang bersejarah itu,,,ok….
Januari 2, 2008 at 2:11 pm
kalo bleh tau,yang buat candi borobudur siapa????????????saya pnasaran dngan bntuknya yang sangat berkelas…..
Januari 3, 2008 at 10:20 am
@ satrya
Dongeng setempat mengatakan Gunadharma lah yang memimpin pembuatan candi ini di jaman Sailendra pada akhir abad ke-8. Menurut seorang akademisi Belanda, nama Gunadharma adalah murni bahasa Sansekerta. Dengan demikian dongeng rakyat tersebut diduga kuat bersumber dari fakta sejarah, sebab dongeng rakyat yang semata-mata dongeng hanya menampilkan figur nama lokal/setempat.
Februari 14, 2008 at 6:26 am
Trimakasih atas kunjungan ke blog saya. Alhamdulillah kunjungan ke blog ini saya bisa mendapatkan ilmu. (sekalian minta ijin ubtuk saya jadikan kutipan di proposal saya). Kebetulan saya sedang buat proposal ke PU untuk penyusunan Zoning Regulation kawasan Borobudur. Dinas pariwisata sudah tetapkan Borobudur sebagai Kawasan Cagar Budaya, tetapi hanya sebatas areal Borobudur saja. Tentunya diperlukan pengamanan dan penataan kawasan sekitarnya agar cagar budaya ini tidak rusak atau berkurang nilainya oleh pembangunan kawasan sekitarnya yang tidak tertata.
Saya perlu masukan bagaimana mendeliniasi sampai radius berapa perlu diatur zoning regulationnya ? Juga ada kaedah khusus tidak untuk menata kawasan sekitarnya ? tentunya ini sangat terkait dengan sejarah, fungsi dan mungkin ada ritual-ritual khusus yang diperlukan yang terkait dengan situs cagar budaya borobudur ini.
[bumisegoro] dengan senang hati, monggo. barangkali zoning menyesuaikan konsep yang sudah ada: mandala. good luck
Maret 8, 2008 at 12:00 pm
kalau menurut gw,,,,,,,
candi borobudur dah ada sebelum lo lo pade blon lahir,,,,,,,,,jadi gak usah ambil pusing…
key………
Mei 30, 2008 at 12:32 pm
Saya kagum sama teori tentang danau Borobudur. Terbayang oleh saya alangkah indah dan anggunnya bangunan yang fenomenal ini dikelilingi oleh air. Bagaimana ya …. suasananya kalau matahari terbit atau tenggelam… pasti indah sekali. Salut aja sama hasil karya para pendahulu. Hebat.
Juni 26, 2008 at 7:54 pm
Salut atas keuletan para pendahulu kita yang menyamai kejayaan firaun (moga2 komenku bener ya
Oya, kalo buat perbandingan, hasil karya bangunan spektakuler apa ya yang dibuat di jaman komputer ini? eiffel si kalah hebat menurutku..