Juni 2007


Ingat Lara Croft yang edisi filmnya diperankan oleh Angelina Jolie? inget tidak? Salah satu yang menarik darinya adalah petualangannya dalam menembus situs-situs purbakala yang dipenuhi mitos dan tahayul. Kenapa ya, tidak ditawarkan saja syutingnya di Indonesia yang banyak situs bersejarahnya? kan lumayan tuh sebagai ajang promosi wisata.

Kalau Lara Croft berpetualang, di beberapa tempat di negeri ini petani dalam aktivitasnya dengan tidak sengaja menemukan benda purbakala. Di bumisegoro bagian timur, tidak jauh dari candi borobudur pernah ditemukan benda purbakala pada saat pak Kabul sedang menggali tanah. wujudnya apa sudah banyak dilupakan orang. satu yang masih diingat adalah, dengan takutnya pak Kabul melaporkannya kepada pejabat setempat. Yang menarik, pak Kabul mendapat imbalan berupa tanah garapan dari pak pejabat. Apakah tanah tersebut tanah pribadi atau tanah negara nobody care.

Di desa tetangga, pernah terdengar cerita dari mulut ke mulut bahwa seorang bapak menemukan arca dan sebagai imbalannya yang bersangkutan diangkat menjadi …. satpam.

imbalan dari kedua penemuan benda purbakala tersebut mencerminkan kemiskinan masyarakat di sekitar candi.

Jika ada yang kebetulan lewat atau berkunjung ke Borobudur, jangan lupa mampir di warung sate/tongseng pak Kurdi di Bojong Mendut yang lokasinya tidak jauh dari Candi Mendut (arah ke Borobudur).

bagi kebanyakan orang, yang spesial dari pak kurdi tuh TONGSENG kambing-nya. rasanya mantap! porsinya juga jumbo. Sebagai informasi tambahan, belom afdol makan di daerah Magelang jika tidak pesen tongseng spesial pake pete. Jika Anda suka pete, jangan khawatir, karena kalo Anda bilang pake pete, maka ditanggung puas dech :-)

Bagi yang belum tahu, tongseng adalah makanan sejenis gulai namun dengan bumbu yang lebih “tajam”. Perbedaan yng lebih jelas adalah penggunaan dagingnya. Tongseng dibuat dengan menggunakan daging yang masih melekat pada tulang, terutama tulang iga dan tulang belakang. Tongseng dianggap sebagai makanan khas daerah Solo dan sekitarnya.

saking banyaknya pelanggan, warung pak kurdi sampe ada dua. satu di kanan jalan, satunya di kiri jalan, saling berhadapan secara frontal. keduanya bersaing, meski katanya bapak-anak. bapaknya (warung di sebelah kiri jalan, dari arah mendut menuju borobudur) mengklaim diri sebagai versi yang asli.

saking banyaknya pelanggan, sampe banyak kompetitor yang iri hati dan meniupkan gosip tak sedap. konon, pernah terjadi pemburu musang mampir ke warung pak kurdi untuk ngiras, makan di tempat. Momen ini dijadikan sebagai black campaign dengan memunculkan isu bahwa tongseng pak kurdi make daging musang! pernah juga beredar isu bahwa tongseng pak kurdi tuh sengsu (tongseng asu, tongseng daging anjing).

Salah satu klien dari bandung dalam waktu dekat berencana nemenin anaknya liburan ke magelang selama seminggu. Tahu kalau aku berasal dari magelang, dia sudah menyiapkan beberapa list pertanyaan buatku.  Salah satunya, makanan apa aja yang statusnya recommended di Magelang dan sekitarnya.

Di antara sekian yang disebutkan dia paling tertarik dengan Tahu Pojok Magelang. Warung bernuansa hijau yang berberlokasi di jalan Tentara Pelajar km 14 Magelang. Menu yang disediakan adalah kupat tahu, yang bahan dasarnya sesuai namanya adalah tahu dan beberapa potong ketupat yang dipotong kecil-kecil, ditambah sayuran seperti taoge, kol dan seledri sebagai taburan, bawang goreng, serta kuah lezat dari bahan kacang dan gula jawa.

Untuk teman makan kupat tahu, disediakan gorengan seperti tahu susur (tahu isi), tempe goreng tepung, dan udang goreng tepung yang ditusuk seperti sate. Pokoknya tinggal pilih apa yang disuka.  Harganya? murah meriah laaaah.

Sudah lama timbul keraguan di hati ini terhadap “ayam” dalam mie ayam “abang-abang”. Sebutan mie ayam kelas gerobak, baik yang mangkal maupun yang keliling.

gerobak mie ayam


Kecurigaan berawal dari hasil amatan terhadap teksturnya yang saya yakini lain dengan ayam yang biasa, di samping harganya kok bisa dijual murah amat. Beda banget dengan ayam yang ada dalam mie ayam kelas restoran. belum lagi adanya “rumor” tentang mie tikus yang beberapa kali sempat menghebohkan.

Beberapa waktu yang lalu kebetulan aku dan rekan-rekan kantor punya kesempatan menggali informasi langsung dengan narasumber dari perusahaan yang menyediakan “ayam” untuk mie ayam “abang-abang”.  Meski aku ga seberuntung temen-temen yang site visit, meninjau langsung lokasi dan proses pengerajaannya tapi dari situ keraguanku terjawab sudah.

Ternyata, “ayam” tersebut adalah daging nabati, daging sintetis yang dibuat dari kacang kedelai. Perusahaan yang kumaksud di atas adalah PT. Aneka Sari Vita (United Chemicals Group), yang empunya daging nabati bermerk Proteina. Syukurlah, proteina juga sudah mendapat sertifikat halal dari MUI.

Lucunya, daging sintetis ini tidak hanya untuk mie ayam tetapi bisa dipakai untuk daging/ayam dalam mie instan yang rada mahalan (mie keriting misalnya),  sate, rendang, sampai pizza. Kaum vegetarian biasa memanfaatkannya sebagai pengganti daging. Tertarik mencoba?

Tidak seperti lazimnya buah yang menempel pada dahan dan ranting, buah kepel justru meruyak di sekeliling batang utama pohon yang mencapai diameter 40 cm. Batang tempat buah menempel berwarna coklat-kelabu tua sampai hitam, yang secara khas tertutup oleh banyak benjolan (tubercles) yang besar-besar. Karena ukuran buahnya yang segede kepalan tangan orang dewasa (kepel, dengan “e” pepet), orang Jawa menamakannya buah kepel. Melambangkan unsur kesatuan dan keutuhan mental dan fisik seperti tangan yang terkepal.

Pohon Kepel buah kepel

Di Jawa Barat disebut burahol, sampai dua orang taksonomis mancanegara yang mengidentifikasi tanaman itu memberi nama Latin Stelechocarpus burahol.

Deodoran sekaligus Alat KB

Kepel termasuk tanaman langka di Indonesia. Secara geografis pohon kepel ditemui di Pulau Jawa dan Semenanjung Malaysia. Pohon ini mempunyai arti filosofis tersendiri bagi keraton di samping buahnya berguna untuk memelihara kecantikan puteri keraton Mataram. Hanya dengan memakan buah itu yang sudah masak, para putri ini sudah bisa berbau bunga violces. Keringatnya wangi, dan napasnya harum. Daging buah kepel dapat berfungsi sebagai peluruh kencing, mencegah radang ginjal dan menyebabkan kemandulan (sementara) pada wanita. Jadi, buah ini oleh para wanita bangsawan digunakan sebagai parfum dan alat KB. Baginda menyuruh menanam pohon itu di halaman istana, untuk diambil buahnya bagi para putri keraton.

Di DIY, Jawa tengah dan Jawa Timur pohon ini memiliki reputasi sebagai tanaman keraton membuat rakyat jelata jaman dulu enggan menanamnya. Pada jaman penjajahan orang percaya bahwa hanya orang yang kuat lahir batin yang mampu meniru gaya hidup keluarga keraton. Orang yang tidak kuat akan kualat. Kepercayaan waktu itu adalah hanya pejabat setingkat adipati yang pantas dan kuat lahir batin meniru perilaku keluarga kerajaan. Di Bumisegoro, pohon ini sekarang masih ada meskipun tidak banyak karena sebagian tergusur oleh pembangunan rumah hunian dan atau tergantikan oleh pohon rambutan yang lebih memiliki nilai ekonomis.

Kalau di Jawa Tengah kepel menjadi langka karena rakyat membabatnya habis lantaran takut kualat, di Jawa Barat burahol ditebangi karena dianggap tidak ada harganya. Tak pernah ada usaha menanamnya kembali di kebun pekarangan setiap kali ada pembukaan hutan untuk permukiman baru.

Pohon hias potensial
Pohon itu lumayan indahnya, dengan batang yang tegak lurus, dan tajuk berbentuk kerucut. Cabang-cabangnya tumbuh hampir mendatar. Di daerah atasan lebih kecil daripada di daerah bawahan, sehingga membentuk kerucut alami yang indah.

Kalau usai berbuah kemudian menumbuhkan tunas daun muda yang baru, pohon itu lebih semarak lagi, karena hijaunya daun tua dihias dengan warna merah daun muda seperti daun kayu manis. Daun itu akan lebih mengkilat kalau tertimpa sinar matahari. Daun kepel bisa juga dimanfaatkan untuk mengatasi asam urat. Lalap daun kepel mampu menurunkan kadar kolesterol. Tak mengherankan, kalau ia disukai sebagai tanaman hias oleh para putri keraton.

tajuk pohon kepel

asik juga nih nemu lagu lawas Borobudur dari blognya endhoot. Menurut musiklawas, lagu ini merupakan lagu festival untuk Asean Song Festival1983. Diciptakan oleh Chacken M dan dinyanyikan oleh Euis Darliah, Nola Tilaar, Masnait VG.

BOROBUDUR

Musim kian berganti musim
Kembali sejarah mencatat kejayaanmu
Untuk yang kedua kalinya
Mahkota gerhana mentari melintasimu

Hati kami tersentuh memandangmu
Untuk sadar melestarikanmu
Agar tak punah dari ganasnya alam
Juga tangan-tangan jahil merusakmu

Borobudur candi yang paling termegah
Diantara tujuh keanehan dunia
Ha… ha…ha…
Borobudur peninggalan nenek moyang kita
Lambang tinggi kebudayaan bangsa Indonesia
Haaaa…

Syalalalalalalala…
Borobudur tercinta
Termasyhur di mata seluruh penjuru dunia
Ha… ha… ha…
Syalalalalalalala…
Borobudur tercinta
Kebanggaan bangsa Indonesia

Huuuuu….
Hati kami tersentuh memandangmu
Untuk sadar melestarikanmu
Agar tak punah dari ganasnya alam
Juga tangan-tangan jahil merusakmu

Borobudur candi yang paling termegah
Diantara tujuh keanehan dunia
Ha… ha…ha…
Borobudur peninggalan nenek moyang kita
Lambang tinggi kebudayaan bangsa Indonesia
Haaaa…

Syalalalalalalala…
Borobudur tercinta
Termasyhur di mata seluruh penjuru dunia
Ha… ha… ha…
Syalalalalalalala…
Borobudur tercinta
Kebanggaan bangsa Indonesia.

mp3nya dapat didownload di http://daydie.multiply.com/music/item/269

syaratnya jadi member multiply baru bisa download.

Di mata masyarakat Menoreh, pangeran Diponegoro adalah sosok pangeran yang rela meninggalkan kemapanan hidup untuk berjuang di tengah-tengah masyarakat. Beliau ada di tengah-tengah mereka, baik fisik maupun hatinya. Sangat logis jika masyarakat menyambutnya dengan antusias, penghormatan yang tinggi, keberpihakan, dan dukungan. Hampir setiap daerah di Menoreh mempunyai pahlawan setempat (local heroes) yang merupakan pengikut setia dari Pangeran Diponegoro. Bahkan, tempat-tempat penting yang disinggahi Pangeran Diponegoro di kemudian hari menjadi petilasan yang monumental.

Salah satu petilasan tersebut adalah “Langgar Agung PNP Diponegoro”, sekitar 100 meter dari tepi jalan raya Borobudur-Salaman. Sekedar sebagai ancer-ancer, tidak jauh dari SMEA 53 Salaman (SMEA Senja). Tempat ibadah ini dibangun Pangeran Diponegoro dan pengikutnya di tengah kecamuk peperangan.

Peninggalan lain dari Pangeran Diponegoro di daerah Menoreh adalah darah pejuang yang lahir dari sebagian laskarnya yang menyatu dengan masyarakat, menetap di sana, berkeluarga (kawin mawin) dengan warga setempat. Juga darah yang lahir dari warga setempat yang setia mendukung Pangeran Diponegoro semasa hidupnya dan meneruskan perjuangan setelah Beliau ditangkap Belanda. Di Sabrangrowo misalnya, pak Kadus (Kepala Dusun) dengan bangga menyatakan sebagai keturunan dari pengikut pangeran Diponegoro. Demikian juga di keturunan Eyang Rewas di Ringin Putih dan sekitarnya, keturunan fulan dan fulan, dst.

Halaman Berikutnya »