Tidak banyak aktivitas pekerjaan yang dilakukan sambil mundur. Satu diantara yang langka ini adalah aktivitas menanam padi. Menanam padi?
Tandur istilah dalam bahasa jawanya, kerata basa dari nata karo mundur (menata sambil mundur). Aktivitas ini biasanya dilakukan oleh perempuan secara berkelompok, yang laki-laki biasanya menabur benih (uwor) untuk disemai dan mencabut bibit hasil semaian (ndaut) untuk ditanam. Laki-laki emang ga jauh dari urusan menebar benih
.
Tandur lebih sering dilakukan oleh perempuan barangkali karena mereka lebih rapi dalam menata bibit yang ditanam. Sebenarnya rapi di sini bukan hanya mengacu pada aspek estetika semata tetapi lebih jauh lagi sampai pada produktivitas. Tidak lain karena hasil panen (output) yang akan didapat sangat tergantung dari optimalisasi antara bibit (input) dan ruang (media). Terlalu rapatnya jarak tanam jelas berkonsekuensi pada borosnya bibit yang diperlukan dan kurang mendukung pertumbuhan padi di kemudian hari. Terlalu longgar jarak tanamnya juga berakibat rendahnya hasil panen.
Pertanyaannya, kenapa harus dilakukan sambil mundur? Bukankah dengan mundur jadi memperlambat aktivitas? Pertanyaan ini dulu pernah menggelayuti benakku. Sampai sekarang pun aku belum punya jawaban yang paten. Perkiraan sementara sih, demi tidak merusak tatanan yang sudah ada. Kalau dilakukan sambil maju tentunya akan mengganggu hasil pekerjaan sebelumnya.
Tingkat kesulitan dari aktivitas ini adalah daya tahan untuk membungkuk karena aktivitas ini hanya bisa dilakukan dengan posisi tubuh cenderung membungkuk. Fenomena yang sama ditemui dalam banyak aktivitas bertani lainnya (mencangkul, mencabut bibit, menyiangi tanaman/matun, dll). Tak heran jika penyakit umum yang diderita petani adalah boyok pegel (nyeri punggung dan pinggang) dan cenderung lebih cepat bungkuk permanen di usia senjanya dibanding non petani.
Di Filipina, sudah ada alat untuk menanam padi sehinga orang tidak perlu lagi membungkuk saat menanam padi. Alat ini sangat membantu dan efisien untuk pertanian dengan area yang cukup luas. Bayangin aja menanam padi di area 2 hektar, berapa banyak buruh tandur yang diperlukan? Dengan semakin sulitnya mencari tenaga kerja di sektor pertanian, maka bukan lagi capeeeek dech tapi encooook dech.
Bedanya, kalau di Filipina saya optimis ga bakalan ada kiriman segomegono pas rehat makan siang. Bagi orang kota, makan di saung/gubug di tengah sawah adalah eksotis tapi bagi buruh tandur makan siang dengan nasimegono ini terasa lebih nikmat karena dimakan pas capek dan lapar.