Juli 2007


 

Tujuh puluh tahun bukanlah waktu yang singkat, tetapi itu juga tidak cukup bagi H. Mustofa untuk menghapus kenangan pada apa yang dialaminya waktu itu. Zaenuri kecil (nama lahir, berganti nama menjadi Mustofa pada waktu menunaikan haji) merupakan satu di antara sedikit anggota keluarga yang selamat dari pagebluk yang menimpa Bumisegoro.

Pagebluk itu membuat suasana kampung menjadi sangat mencekam karena dalam satu hari bisa sampai beberapa orang meninggal dunia. Bahkan, pernah terjadi belum selesai jenazah dimakamkan sudah terdengar titir kematian (bunyi kentongan satu-satu secara ritmis sebagai pertanda datangnya rajapati) di tempat lain. Duka di atas duka, dengan segudang tanya ada apa gerangan? Siapa lagi yang akan mendapat giliran? Masihkah diri ini melihat hari esok? (lagi…)

Pagebluk adalah bencana (disaster) dalam skala luas dan serius, tingkatan terberat yang dikenal masyarakat desa. Pagebluk bisa menjungkirkan suatu peradaban ke titik nol. Mataram lama sampai dipindahkan dari Jawa bagian Tengah ke Jawa Timur, kata beberapa sumber sejarah, juga dikarenakan oleh pagebluk.

Disaster management ala kampung cenderung process oriented dan dalam perjalanannya sangat memperhatikan psikologi massa melalui terapi sosial yang cantik. (lagi…)

Artikel menarik dari Suara Merdeka 07 Februari 2005:

MAS pulang dulu, Ibu masak sayur lodeh tolak bala, ayo cepat pulang!” Begitu adik saya menelepon, kemarin. Sembari tersenyum, saya pun segera pulang dan benar ternyata di rumah semua anggota keluarga sudah berkumpul. Mereka siap menyantap sayur lodeh dalam mangkuk-mangkuk kecil. 

Bukan sayur lodeh biasa. Rasa memang boleh sama dengan sayur yang ada di warung atau yang biasa dimasak sehari-hari. Akan tetapi ini lain. Nuansanya berbeda karena makan sayur lodeh dalam beberapa hari terakhir ini bagi masyarakat Yogyakarta seperti menjadi kewajiban. Sebelum menyantap, semua harus berdoa agar terhindar dari segala bencana. 

Semenjak Gubernur DIY yang juga Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X mengungkapkan kekhawatirannya bakal terjadi topan di Pantai Selatan, masyarakat cemas. Apalagi data dari Meteorologi Lanud Adisucipto juga menyatakan hal sama, akan datang topan dengan kecepatan 75-175 km/jam dari arah Darwin, Australia. Topan akan menerjang sehitar tanggal 5, 6, 7, 9, dan 10 Februari. 

Penduduk asli Yogyakarta memercayai kekhawatiran Sultan tersebut sebagai sebuah kebenaran yang bakal terjadi. Karena itu, mereka segera berupaya mencegah agar bencana tidak mampir di kota ini. Salah satunya, kecuali berdoa seperti yang dianjurkan Sultan, adalah memasak sayur lodeh dengan jenis sayuran tertentu. 

Sayur lodeh tolak bala yang merupakan sayur rakyat tersebut sudah sejak dahulu ada dan dipercaya dapat menghindarkan seseorang dari bencana. Konon, puluhan tahun silam ketika Yogyakarta dilanda pagebluk, masyarakat beramai-ramai memasak sayur itu lantas memakannya. Alhasil, banyak yang selamat dari prahara. Sejak itulah, sayur lodeh tolak bala selalu menjadi konsumsi setiap bakal terjadi sesuatu atau tiap kali ada musibah. 

Memasak Bersama

Bukan hanya penduduk asli Yogyakarta yang mengikuti saran yang dipercaya dari Keraton itu. Hampir semua warga pendatang di kampung-kampung ataupun perumahan memasak serta mengonsumsi masakan lodeh. Seperti di Perumahan Nogotirto, Sleman. Di sana, ibu-ibu RT berkumpul, memasak bersama, menghidangkan untuk warga serta menyantap bersama-sama pula. 

”Boleh percaya atau tidak, yang jelas tradisi sayur lodeh tolak bala sudah ada sejak zaman leluhur saya dahulu dan sampai kini masih dipercaya oleh penduduk Yogyakarta,” tutur Caritas Warun Kusumo, penduduk Perumahan Nogotirto. 

Caritas menuturkan, paling tidak ada 12 jenis sayur yang diolah menjadi lodeh tersebut. Dia menyebut kluwih, waluh kenthi (waluh kuning), kacang panjang, nangka, kol, daun melinjo, terong ungu, kulit melinjo, tempe gembus, pepaya, lembayung, dan labu siam. Kadang ada yang dicampur dengan petai agar terasa lebih sedap. 

Cuma itu saja? Ternyata masih ada yang lain. Di samping itu, sayur lodeh harus dimakan bersama dengan bubur beras. Itu saja belum cukup, masyarakat juga mendengar kabar yang konon juga dari Njeron Beteng Keraton, menanam uang logam bergambar gunungan di halaman rumah atau di depan pintu atau di pojok rumah. 

Sayur lodeh tolak bala barangkali belum akan bermakna tanpa doa. Karena itu, masyarakat masih harus menambah dengan berdoa secara khusyuk setiap malam sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Di masjid-masjid, dalam beberapa hari ini sudah terlihat umat yang berdoa sesuai dengan anjuran Sultan membaca 30 surat, mohon keselamatan. Begitu pula umat Katolik disarankan oleh pemuka agama tersebut agar berdoa Rosario pada malam hari pukul 23.00. 

Kekhawatiran bakal muncul bencana rupanya menjadi tali penguat persaudaraan. Semua berperilaku sama, berdoa bersama-sama agar selamat dari bencana dengan media kebersamaan sayur lodeh.

Upacara adat Barong Ider Bumi merupakan upacara bernuansa sakral dari Desa Wisata Using Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.

Dalam upacara tersebut, tujuh wanita membawa ubo rampe. Lima wanita membawa beras kuning dan uang sejumlah Rp 99.900, sedangkan dua wanita lainnya membawa kendi. Ada juga sejumlah anggota mocoan. Mereka dengan khidmat mengikuti upacara itu. Tokoh masyarakat Kemiren, Adi Purwadi mengatakan, acara Barong Ider Bumi sudah dilakukan sejak tahun 1940.

‘’Kenapa pelaksanaanya serba 2, karena kekuatan pelestarian alam ada 2, yakni baik dan buruk, wanita dan laki-laki.’’ Dijelaskan, konon dulu ada pagebluk sejenis penyakit atau bencana melanda masyarakat Kemiren. Setelah itu, tokoh masyarakat mendapat wangsit melewati mimpi dari Buyut Cili yang merupakan tetua Kemiren.

Dia mengatakan, untuk menghilangkan pagebluk itu harus segera dilakukan Barong Ider Bumi. ‘’Dalam iring-iringan, ada barong sebagai lambang persatuan, uang koin sebagai pengusir lelembut, dan sembur uthik-uthik beras kuning,’’ sebutnya.

 

Diawali dengan permainan angklung sesepuh desa setempat, warga mengarak barong mengelilingi jalan desa. Sembari mengarak barong, beras kuning bercampur uang receh ditabur di sepanjang perjalanan. Anak-anak pun berebut uang recehan sedang orang tua berebut mengambil pisang yang telah dipersiapkan di pinggir jalan.

Setelah menyusuri jalan desa, arak-arakan pun berakhir. Sejumlah ibu-ibu  telah menyiapkan tumpeng dan pecel pitik (pecel ayam) untuk selamatan yang digelar di tengah-tengah jalan desa. Acara makan bersama yang memungkasi ritual hari itu terasa guyub dan mencerminkan kebersamaan khas masyarakat desa.

barong ider bumibarong ider bumi 2barong ider bumi

* Diolah dari berbagai sumber

kebo keboan jugaKebo-keboan merupakan salah salah satu jenis kesenian tradisional yang sakral di Banyuwangi. Disebut Kebo-keboan karena ritual ini diikuti oleh para laki-laki Desa Alas Malang yang bertingkah seperti kerbau. Kebo-keboan sudah ada sejak abad ke 18.
Menurut Subur Bahri, tokoh masyarakat desa setempat, Kebo-keboan pertama kalinya dikenalkan oleh sesepuh desa Buyut Karti. Saat itu di Desa Alas Malang ada pageblug atau bencana berupa kematian warga tanpa sebab. “Sore sakit, pagi mati, begitu sebaliknya. Setelah itu Buyut Karti mendapat wangsit (ilham,red) untuk melakukan ritual Kebo-keboan. Ritual ini memuja dan minta berkah dewi padi, Dewi Sri,” ujar Subur.

Alkisah, setelah digelarnya Kebo-keboan, pagebluk di desa hilang dan petani hidup makmur. Karenanya,kebo keboan too ritual ini dilakukan setiap tahun sebagai wujud syukur dan untuk menolak bala.

Ritual Kebo-keboan didominasi para laki-laki desa yang bertingkah laku seperti kerbau. Badan mereka dilumuri arang hingga berwarna hitam, dengan rambut gimbal dari tali rafia lengkap dengan tanduk kerbau, tali pengekang dan kalungnya. Mereka hanya mengenakan celana kolor warna hitam, sepasang kerbau dipegangi seorang petani.

 

* Diolah dari berbagai sumber

 ** Gambar diambil dari webnya pemkab banyuwangi dan wisatanet 

Di dukuh Semanding kampung terpencil berjarak hanya 1,5 kilometer perbatasan Kabupaten Temanggung-Kendal atau persisnya di Desa Kedungboto, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah terdapat perkumpulan kesenian tradisional Srandul.

Bagi masyarakat dukuh Semanding, tari srandul adalah tarian magis yang ditarikan malam hari untuk mengusir pagebluk (wabah penyakit atau hantu). Tari Srandul yang hampir punah itu adalah tarian untuk tolak bala yang lazim dimainkan orang desa apabila daerahnya mengalami kekeringan yang sangat dahsyat atau munculnya /pagebluk/ (wabah penyakit yang mematikan). 

Tarian Srandul biasanya dimainkan delapan penari di bawah cahaya obor. Seluruh alat musik pengiringnya terbuat dari bambu.

srandul

* Diolah dari sajian Kompas

Seni dongkrek  lahir sekitar tahun 1867 di Kecamatan Caruban yang saat ini namanya berganti menjadi Kecamatan Mejayan, kabupaten Madiun. Kesenian itu  lahir di masa kepemimpinan Raden Ngabehi Lo Prawirodipuro yang menjadi demang (jabatan setingkat kepala desa) yang membawahi lima  desa. 

Kesenian dongkrek hanya mengalami masa kejayaan antara 1867 – 1902. Setelah itu, perkembangannya mengalami pasang surut seiring pergantian kondisi politik di Indonesia. Pada masa penjajahan Belanda, kesenian dongkrek sempat dilarang oleh pemerintahan Belanda untuk dipertontonkan dan dijadikan pertunjukan kesenian rakyat. Saat  masa kejayaan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun, kesenian ini dikesankan sebagai kesenian genjer-genjer yang dikembangkan PKI untuk memperdaya masyarakat umum. Sehingga kesenian dongkrek mengalami masa pasang surut akibat imbas politik. 

Konon rakyat desa Mejayan terkena wabah penyakit, ketika siang sakit sore hari meninggal dunia atau pagi sakit malam hari meninggal dunia, dalam kesedihannya, Raden Prawirodipuro sebagai pemimpin rakyat Mejayan mencoba merenungkan metode atau solusi penyelesaian atas wabah penyakit yang menimpa rakyatnya. Renungan, meditasi dan bertapa di wilayah gunung kidul Caruban. Ia mendapatkan wangsit untuk membuat semacam tarian atau kesenian yang bisa mengusir balak tersebut. 

Dalam cerita tersebut wangsit menggambarkan para punggawa kerajaan roh halus atau pasukan gondoruwo menyerang penduduk mejayan dapat diusir dengan menggiring mereka keluar dari desa mejayan, maka dibuatlah semacam kesenian yang melukiskanfragmentasi pengusiran roh halus yang membawa pagelebuk tersebut.  

“Komposisi para pemain fragmen satu babak pengusiran roh halus tersebut terdiri dari barisan buto kolo, orang tua sakti dan kedua perempuan tua separuh baya. Para perempuan yang disimbulkan posisi lemah sedang dikepung oleh para pasukan buto kala dan ingin mematikan perempuan tersebut, maka muncullah sesosok lelaki tua dengan tongkatnya mengusir para barisan roh halus tersebut untuk menjauh dari para perempuan tersebut”; jelasnya. 

Selanjutnya, melalui peperangan yang cukup sengit, pertarungan antar rombongan buto kolo dengan orang tua sakti, dan dimenangkan oleh orang tua tersebut. Pada episode selanjutnya, orang tua tersebut dapat menyelamatkan kedua perempuan dari ancaman para buto kolo tersebut dan rombongan buto kolo itu mengikuti dan patuh terhadap kehendak orang tua sakti tersebut, kemudian orang tua yang didampingi dua perempuan itu menggiring pasukan buto kolo keluar dari desa mejayan sehingga sirnalah pagebluk yang menyerang rakyat desa mejayan selama ini dan tradisi ini menjadi ciri kebudayaan masyarakat caruban, dengan sebutan Dongkrek. 

Masyarakat pada waktu itu mendengar musik dari kesenian dongkrek ini yang berupa bunyian ‘dung’ berasal dari beduk atau kendang dan ‘krek’ ini dan alat musik yang disebut korek. Alat korek ini berupa kayu berbentuk bujur sangkar, di satu ujungnya ada tangkai kayu bergerigi yang saat digesek berbunyi krek. Dari bunyi dung pada kendang dan krek pada korek itulah muncul nama kesenian Dongkrek.Dalam perkembangannya digunakan pula komponen alat musik lainnya berupa gong, kenung, kentongan, kendang dan gong berry sebagai perpaduan antar budaya yang dialiri kebudayaan Islam, kebudayaan cina dan kebudayaan masyarakat jawa pada umumnya. 

Dalam tiap pementasan dongkrek, ada tiga topeng yang digunakan para penari. Ada topeng raksasa atau ‘buto’ dalam bahasa Jawa dengan muka yang seram. Ada topeng perempuan yang sedang mengunyah kapur sirih serta topeng orang tua lambang kebajikan. 

“Dan kalau ditarik kesimpulan, maksud jahat akhirnya akan lebur juga dengan kebakan dan kebenaran sesuai dengan sesanti atau moto surodiro joyoningrat, ngasto tekad darmastuti.” Dalam islam istilahnya, Ja’al haq wa zahaqal bathil. Innal Bathila kaana zahuqa.

* Diolah dari berbagai sumber

Halaman Berikutnya »