Artikel menarik dari Suara Merdeka 07 Februari 2005:
”MAS pulang dulu, Ibu masak sayur lodeh tolak bala, ayo cepat pulang!” Begitu adik saya menelepon, kemarin. Sembari tersenyum, saya pun segera pulang dan benar ternyata di rumah semua anggota keluarga sudah berkumpul. Mereka siap menyantap sayur lodeh dalam mangkuk-mangkuk kecil.
Bukan sayur lodeh biasa. Rasa memang boleh sama dengan sayur yang ada di warung atau yang biasa dimasak sehari-hari. Akan tetapi ini lain. Nuansanya berbeda karena makan sayur lodeh dalam beberapa hari terakhir ini bagi masyarakat Yogyakarta seperti menjadi kewajiban. Sebelum menyantap, semua harus berdoa agar terhindar dari segala bencana.
Semenjak Gubernur DIY yang juga Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X mengungkapkan kekhawatirannya bakal terjadi topan di Pantai Selatan, masyarakat cemas. Apalagi data dari Meteorologi Lanud Adisucipto juga menyatakan hal sama, akan datang topan dengan kecepatan 75-175 km/jam dari arah Darwin, Australia. Topan akan menerjang sehitar tanggal 5, 6, 7, 9, dan 10 Februari.
Penduduk asli Yogyakarta memercayai kekhawatiran Sultan tersebut sebagai sebuah kebenaran yang bakal terjadi. Karena itu, mereka segera berupaya mencegah agar bencana tidak mampir di kota ini. Salah satunya, kecuali berdoa seperti yang dianjurkan Sultan, adalah memasak sayur lodeh dengan jenis sayuran tertentu.
Sayur lodeh tolak bala yang merupakan sayur rakyat tersebut sudah sejak dahulu ada dan dipercaya dapat menghindarkan seseorang dari bencana. Konon, puluhan tahun silam ketika Yogyakarta dilanda pagebluk, masyarakat beramai-ramai memasak sayur itu lantas memakannya. Alhasil, banyak yang selamat dari prahara. Sejak itulah, sayur lodeh tolak bala selalu menjadi konsumsi setiap bakal terjadi sesuatu atau tiap kali ada musibah.
Memasak Bersama
Bukan hanya penduduk asli Yogyakarta yang mengikuti saran yang dipercaya dari Keraton itu. Hampir semua warga pendatang di kampung-kampung ataupun perumahan memasak serta mengonsumsi masakan lodeh. Seperti di Perumahan Nogotirto, Sleman. Di sana, ibu-ibu RT berkumpul, memasak bersama, menghidangkan untuk warga serta menyantap bersama-sama pula.
”Boleh percaya atau tidak, yang jelas tradisi sayur lodeh tolak bala sudah ada sejak zaman leluhur saya dahulu dan sampai kini masih dipercaya oleh penduduk Yogyakarta,” tutur Caritas Warun Kusumo, penduduk Perumahan Nogotirto.
Caritas menuturkan, paling tidak ada 12 jenis sayur yang diolah menjadi lodeh tersebut. Dia menyebut kluwih, waluh kenthi (waluh kuning), kacang panjang, nangka, kol, daun melinjo, terong ungu, kulit melinjo, tempe gembus, pepaya, lembayung, dan labu siam. Kadang ada yang dicampur dengan petai agar terasa lebih sedap.
Cuma itu saja? Ternyata masih ada yang lain. Di samping itu, sayur lodeh harus dimakan bersama dengan bubur beras. Itu saja belum cukup, masyarakat juga mendengar kabar yang konon juga dari Njeron Beteng Keraton, menanam uang logam bergambar gunungan di halaman rumah atau di depan pintu atau di pojok rumah.
Sayur lodeh tolak bala barangkali belum akan bermakna tanpa doa. Karena itu, masyarakat masih harus menambah dengan berdoa secara khusyuk setiap malam sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Di masjid-masjid, dalam beberapa hari ini sudah terlihat umat yang berdoa sesuai dengan anjuran Sultan membaca 30 surat, mohon keselamatan. Begitu pula umat Katolik disarankan oleh pemuka agama tersebut agar berdoa Rosario pada malam hari pukul 23.00.
Kekhawatiran bakal muncul bencana rupanya menjadi tali penguat persaudaraan. Semua berperilaku sama, berdoa bersama-sama agar selamat dari bencana dengan media kebersamaan sayur lodeh.