Di bumisegoro, istilah ujuk-ujuk (tiba-tiba, suddenly) relatif sering terlontar. Demikian juga dengan padanannya, “mak jegagek”, dengan vokal ‘e’ lemah (seperti pada kata lemah). Bahkan, secara hiperbolis keduanya tampil dalam satu kesempatan, sebagai penguat rasa keterkejutan akan momentum perubahan yang demikian cepat.

Jika ujuk-ujuk merupakan aksi maka sebagai reaksinya adalah “gedandapan”, terkaget-kaget dan berakrobat sebisa mungkin.

Intensitas pemakaian kata ujuk-ujuk dan yang sejenis entah menandakan fenomena apa. Kagetankah? Kurangnya perencanaan? Reaktif? Tergagap dengan perubahan?

Tentu saja, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk dapat menyimpulkannya. Bentuk penelitian yang seperti apa, juga masih tanda tanya. Change readiness survey-kah?

sedikit OOT (out of topic), ada temen yang memiliki nama paling unik yang pernah kudengar. Letak keunikannya ada pada pendeknya nama yang hanya terdiri dari 3 karakter dengan satu vokal diulang. Dia bernama UJU, asli Haurgeulis. Dibolak balik gaya ngalam juga tetap UJU. Repotnya, yang bersangkutan beberapa tahun yang lalu melanjutkan kuliah ke jenjang S2. Berarti gelarnya sudah lebih panjang dari namanya: UJU, SP, MS. Padahal, sebagai dosen di salah satu PTN yang berstatus BHMN, Pak Uju memiliki kesempatan besar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih lanjut. Bisa-bisa namanya makin terbenam oleh gelarnya.