Juli 17, 2007
Semar dalam gambar kaligrafi jawa yang kedua tersebut bermakna :
Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma”, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa.
Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.
Semar bertubuh tambun: melukiskan keluasan hatinya. Ati segoro, begitu kata orang Jawa: hati bagai samudera. Makin luas hatinya berarti makin halus pula rasa-nya. Dalam literatur Jawa, rasa adalah inti terdalam manusia, kebenaran tertinggi. Makin halus rasanya, berarti makin dekat orang itu pada inti kebenaran, makin tinggi tingkat spiritual-nya. Dan makin halus rasa seseorang, dia akan menjadi makin momot, makin luas ruang hatinya, sehingga bagai samudera yang bisa menampung ribuan sungai yang mengalir kepadanya tanpa menjadi penuh maupun kotor.
Sebaliknya makin kasar rasa seseorang, makin rendah tingkat spiritual-nya, makin kaku sikapnya, dan makin sulit menerima pandangan yang berbeda, tidak bisa hidup tenteram dengan kelompok lain, mau menang sendiri… dan ugal-ugalan. Lebih celaka lagi, dengan mengatas-namakan agama dan Tuhan!
* disarikan dari beberapa sumber

Juli 18, 2007 at 5:06 am
setuju mbah…saya suka sekali budaya jawa…soalnya dari kakek buyut saya sudah keturunan jawa aseli…hehe…merdeka
Januari 22, 2008 at 11:23 am
MAS, saya ndak tau apa jenengan bener2 orang jawa atau nggak, tp sebelum mengcopy gambar dan mem-paste-nya serta diupload ke web, mbok tolong dicek dulu, kalo perlu anda beljar dulu huruf jawa dengan benar2. ASAL TAU SAJA, KALIGRAFI SEMAR YANG ANDA TAMPILKAN INI BACANYA TIDAK SESUAI DENGAN YANG ANDA TULIS!!!ok saya tunggu satu bulan n nanti sy kasih komentar lagi kalo anda sd bisa membacanya dengan benar. matur nuwun…….nyuwun pangapunten menawi mboten mranani ing penggalih.nuwun….
Januari 22, 2008 at 2:56 pm
terima kasih atas koreksinya.
saya emang gegabah mendasarkan pada “Ada Gambar kaligrafi jawa berbentuk wayang Semar yang bila dibaca akan berbunyi: Bojo sira arsa mardi kamardikan, ….di http://ki-bambangasmara.com/detail_karawitan.php?xxx=73” langsung berasosiasi pada gambar pertama karena tahunya cuma itu. rupanya ada kaligrafi jawa yang lain lagi.
sampai smp saya cukup lancar membaca buku beraksara hanacaraka tapi kalau kaligrafi sama sekali ga bisa karena lebih rumit. hal yang sama juga kurang lebih berlaku untuk kaligrafi bertulisan arab.
ditunggu pencerahannya untuk bacaan dan arti dari kalihrafi pertama.
matur nuwun
Januari 26, 2008 at 5:15 pm
nah…..kalo ini dah betul mas. kalo yang pertama cara bacanya: ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani yang diciptakan oleh bapak pendidikan kita ki hajar dewantara. semoga koreksi ini bisa menjadikan kemajuan khasanah jawa kita.tulisan ing yang pertama terdapat pada kuncung semar, silahkan diurutkan ke kanan kmd kebawah.berhenti pada kaki belakang yang berbunyi ni.
Februari 28, 2008 at 9:49 am
plihara baik baik ojo sampe di jukuk karo wong sing teo negoro liyo. sebagai wong jowo asli tapi laire ning luar jowo, aku gak akan terima jika hal itu terjadi, eh, besok aku mau ikut lomba madink dg tema jawa. do’ain menang yo!
April 22, 2008 at 7:41 pm
bisa tanya sebentar. saya penasaran dengan kata2 yang sering diucapkan oleh semar
“mbergegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak dulito, langgeng…”
ada yang bisa untuk memberikan penjelasan
saya adalah seorang peneliti tentang punakawan. dan dalam waktu dekat hendak menerbitkan buku tentang filsafat punakawan. mohon bantuannya
anda bisa mengirimkan tulisan anda ke email saya
http://www.zaza_bigboas@yahoo.com
salam kenal dari saya muhammad zaairul haq mahasiswa UIN sunan kalijaga yogyakarta fakultas tarbiyah jurusan penddkan bahasa arab. seorang pemerhati budaya jawa
trimakasih
April 22, 2008 at 7:42 pm
saya minta izin untuk menjadikan tulisan anda sebagai refernsi buat tulisan saya
trimakasih
April 23, 2008 at 8:17 am
@ muhammaed zaairul haq
berikut aku copy paste dari http://prabuwayang.wordpress.com/2008/03/04/mbergegeg-ugeg-ugeg-hmel-hmel-sak-dulito-langgeng/
ucapan mbah semar setiap kali mau mengawali dialog :
mbergegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak dulito, langgeng…
(diam, bergerak/berusaha, makan, walaupun sedikit, abadi)
maksudnya daripada diam (mbergegeg) lebih baik berusaha untuk lepas (ugeg-ugeg) dan mencari makan (hmel-hmel) walaupun hasilnya sedikit (sak ndulit) tapi akan terasa abadi (langgeng).
sebuah pesan agar kita selalu bekerja keras untuk mencari nafkah walaupun hasilnya hanya cukup untuk makan namun kepuasan yg didapat krn berusaha tsb akan abadi.
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=572193
monggo mas
April 28, 2008 at 10:07 am
saya mau tanya lagi, kalau kata2 pendita durna yang kalao nggak salah plekencong warung doyong….
itu bisa dijelaskan tidak maknanya
email: http://www.zaza_bigboas@yahoo.com
April 28, 2008 at 2:14 pm
yang memulai pembicaraan dengan mengeluarkan kata-kata seperti itu adalah Sang Hyang Pukulun Bathara Naradha. sementara ini aku belum tahu artinya. kudu buka primbon dulu.
sementara bisa nanya ke http://narada.wordpress.com
April 29, 2008 at 9:20 pm
kalau pendeta durna ngomongnya gimana?