Zat lilin yang melapisinya, membuat daun pisang dapat menampung hidangan berkuah kental. Daun pisang pun memberi aroma sedap pada masakan jika kita menuangkan makanan panas di atasnya. Cara membuatnya praktis, hanya bermodalkan daun pisang dan biting (lidi yang diruncingkan). biting merupakan simbol ketajaman pikir dari yang punya hajat, dimaksudkan agar yang empunya hajatan bila mau mengerjakan segala sesuatu harus dipikirkan baik-baik.
Empat wadah model lipatan dari daun pisang yang paling populer di Bumisegoro adalah:
- Pincuk
‘piring’ saji tradisional berbentuk segiempat dengan tiga sisi, yang biasanya dilengkapi dengan suru yaitu sendok dari daun pisang dengan lebar sekitar 2,5 cm dilipat menjadi dua. Bila hendak digunakan untuk mengambil makanan di bagian tengah agak dilekukkan dengan jari telunjuk. suru biasanya dibuat sendiri oleh si penyantap makanan dengan menyobek sedikit bagian pinggir pincuknya.
Pincuk masih banyak digunakan di berbagai daerah di Jawa, dan bahkan di Jakarta, terutama oleh para pedagang pecel.
- Tum
‘piring’ saji tradisional yang dibuat dengan cara menangkupkan ujung-ujung dari daun pisang dan “dikunci” dengan biting. Pincuk lebih ditujukan untuk ngiras (makan di tempat, dine in), sehingga ‘atmosfirnya’ terbuka, siap santap. Sedangkan tum lebih fleksibel, termasuk di dalamnya delivery atau walk through. Di Bumisegoro tum banyak dipakai untuk membungkus bubur lengkap dengan sayur dan kuahnya, pelas, tape ketan, dan meniran.
- Takir
Wadah berbentuk “bak”, kotak yang terbuka bagian atasnya.
Di Bumisegoro banyak dipakai untuk wadah lauk pauk berkuah kental pada berkatan (kenduri). Takir juga sering dipakai sebagai wadah untuk bubur merah – bubur putih.
- Sudi
Wadah bentuk bundar dengan ‘tonjolan’ di tengahnya.
Di Bumisegoro, dipakai sebagai wadah kue atau lauk kering dan pemakaiannya bisa bersifat menggantikan (substitusi) atau saling melengkapi (komplementer) dengan takir. Kompetitornya adalah sudi dari kertas.
catatan. gambar diambil dari:
http://ncc.blogsome.com/2006/05/29/pat-pat-gulipat-lipat-daung-pisangnya/
Ada riset menarik tentang KEMASAN SEBELUM KERTAS DAN PLASTIK oleh Setiawan Saban yang dimuat di Jurnal Seni Rupa dan Desain Volume 1,1, Agustus 2000a. Jika tertarik bisa menyimaknya di sini.

Juli 21, 2007 at 9:26 pm
Wah jadi kangen simbok di desa. Biasanya kalau ada acara Maulud Nabi atau Isro’ Mi’roj simbok saya buat takir dan saya yang bertugas mencari daun pisang sekaligus buat bithing.
BTW memang benar…daun pisang menambah aroma makanan. Lha wong tempe saja jauh beda rasanya antara yg dibungkus daun pisang dgn bungkus plastik
Juli 22, 2007 at 12:21 am
Di Kutoarjo, daun pisang dan gagangnya bisa dipakai utuh untuk membungkus nasi + lauk dalam selamatan. Gampang ditenteng. Saya lupa nama kemasan macam ini.
Juli 22, 2007 at 8:58 am
@ deking
di bumisegoro, istilahnya takiran, baik untuk rejeban, nyadran (ruwahan), maupun acara likuran pas ramadhan.
@ paman Tyo
menarik tuh. aku baru tahu kemasan ini. kalau inget, syukur kalau ada gambarnya, boleh dech dishare.
Agustus 10, 2007 at 9:45 am
bagus, bentuknya juga menarik, tapi bisa nggak ya kalau daun pisang yang sudah kering yang kita gunakan…..
Agustus 10, 2007 at 10:55 am
terima kasih atas apresiasinya.
daun pisang yang sudah kering di bumisegoro disebut klaras. klaras bisa juga dipakai sebagai bungkus dan terkesan nyeni meski biasanya bukan untuk jenis bungkus lipatan. lebih sering mode gulungan seperti halnya dipakai untuk lintingan rokok klaras, mirip rokok klobot (dari kulit jagung yang kering). klaras untuk bungkus lebih baik kualitasnya jika yang digunakan adalah daun pisang yang masih muda. semoga membantu
April 8, 2008 at 11:37 am
thank u…
ngebantu tugas kuliah gw bgd….
Juli 26, 2009 at 6:31 pm
posting yang cukup menarik, ini bisa menjadi ide besar. terima kasih
September 3, 2009 at 12:59 pm
apik mas itu jika daun pisang dikemas untuk yang lain lho
September 9, 2009 at 12:12 pm
untuk yang pesan daun pisang bisa ke saya di 087880670878.
daun pisang yang saya produksi adalah daun pisang yang berbentuk bulat dengan diameter max 25 cm, kami juga menerima order daun pisang lembaran biasanya untuk pincuk, takir,takir ponthang, sudi , alas masakan yang digoreng.bakar, rm padang ,bungkus bothok,sego kucing..dan lain-lain o,..ya untuk pengiriman jabotabek.
[bumisegoro] semoga daun pisangnya laris manis
September 25, 2009 at 10:26 am
Selamat melestarikan kebudayaan nenk moyang kita, itu lo takir dan pincuk mengingatkan kita waktu masih kecil makan pakai daun pisang
eenaak eh.