Tujuh puluh tahun bukanlah waktu yang singkat, tetapi itu juga tidak cukup bagi H. Mustofa untuk menghapus kenangan pada apa yang dialaminya waktu itu. Zaenuri kecil (nama lahir, berganti nama menjadi Mustofa pada waktu menunaikan haji) merupakan satu di antara sedikit anggota keluarga yang selamat dari pagebluk yang menimpa Bumisegoro.

Pagebluk itu membuat suasana kampung menjadi sangat mencekam karena dalam satu hari bisa sampai beberapa orang meninggal dunia. Bahkan, pernah terjadi belum selesai jenazah dimakamkan sudah terdengar titir kematian (bunyi kentongan satu-satu secara ritmis sebagai pertanda datangnya rajapati) di tempat lain. Duka di atas duka, dengan segudang tanya ada apa gerangan? Siapa lagi yang akan mendapat giliran? Masihkah diri ini melihat hari esok?

Dalam duka, masyarakat menyebut kromoleo tengah beraksi, dengan membawa keranda, siap menjemput calon korbannya. Tidak putus doa dipanjatkan sebagai reaksi dan antisipasi. Yang hanya bisa berbahasa Jawa, berdoa sederhana dalam tembang penenang hati, penghibur diri. …. kromoleo ojo oleho….. yang memiliki dasar agama islam cukup kuat sesekali mengumandangkan adzan di sela untaian doa. Dalam kepasrahan, kumandang adzan merupakan teriakan lantang penggugah keberanian orang-orang yang mendengarnya untuk menghadapi kematian.

Waktu jua yang mengakhiri pagebluk itu tanpa masyarakat sadar apa yang sebenarnya terjadi. Sampai puluhan tahun kemudian, sekitar tahun 2002-an masyarakat Bumisegoro kembali dikejutkan oleh kematian berangkai. Lebih dari lima warga yang kebetulan rumahnya tidak begitu berjauhan meninggal dalam minggu yang sama. Tragedi yang mengingatkan masyarakat pada pagebluk di masa lalu. Apalagi korban pertama rumahnya kebetulan tepat berada di depan rumah Haji Mustofa. Membangkitkan ketakutan Haji Mustofa, Pak Haji generasi awal di Bumisegoro ini, yang secara naluriah mengungsikan cucu-cucunya ke Kwayuhan (Wayuhrejo, Mertoyudan). Pada pagebluk yang lampau ia selamat karena diungsikan ke Jangkungan (Mertoyudan) oleh Mbah Padmo. Harapan serupa ia sandarkan untuk cucu-cucu penyambung keturunannya.

Dalam lima waktu masjid utama kampung dan 6 mushola yang ada banyak didatangi masyarakat. Saat pagebluk merebak tingkat hunian masjid dan mushola mencapai rekor tertinggi untuk kategori bukan hari raya (exclude waktu sholat Jumat/tarawih hari pertama). Dalam duka, orang ingat pada Sang Pencipta.

Entah karena masih percaya pada kromoleo atau bagaimana, masyarakat bereaksi dengan tidak tidur di atas amben/lincak/tempat tidur tetapi mendekati bumi dengan tidur di atas tanah. Tidurnya pun menyatu di ruang tengah yang umumnya cukup lega. Tirakatan juga digelar di tengah kampung waktu malam menjelang, memanjatkan doa secara bersama-sama.

Pada waktu itu, Bumisegoro cukup ditakuti masyarakat di desa sekitarnya. Travel warning secara getok tular disampaikan, wal hasil tukang ojek pun gentar mengantar orang yang mau ke Bumisegoro.

Kembali, waktu jualah yang mengakhiri pagebluk itu tanpa masyarakat sadar apa yang sebenarnya terjadi.

 

* Berdasarkan kisah nyata, dikisahkan oleh salah seorang cucu H. Mustofa