Agustus 2007


pagi-pagi baca imel dari temen yang katanya disadur dari sebuah tulisan yang sudah lama hilang – versi Inggris. Lumayan untuk mengurangi kepenatan dalam perjalanan berangkat ke kantor. Jangan lupa baca sampai habis ya…. :-)

Begin ________________________________________________________________________________________________

Abjad yang digunakan di dalam bahasa Indonesia berjumlah 26. Ke-26 abjad tersebut rasanya masih terlalu banyak, dan lagipula ada beberapa abjad yang jarang sekali digunakan.

Oleh karena itu mari kita sederhanakan abjad-abjad tersebut dan menyesuaikan dengan kata-kata yang kita gunakan.

Pertama-tama, huruf X, kita ganti dengan gabungan huruf K dan S. Kebetulan hampir tidak ada kata dalam bahasa Indonesia asli yang menggunakan huruf ini, kebanyakan merupakan kata serapan dari bahasa asing. Misalnya taxi menjadi taksi, maximal menjadi maksimal, dst. (lagi…)

Di bumisegoro mudik terdiri atas beberapa arus. Arus besar tentu saja tentu saja terjadi dalam rangka menyongsong hari riyaya / lebaran / bada / idul fitri. Arus kedua terjadi pada bulan Syakban, di kalender Jawa disebut Ruwah, bulan terakhir sebelum Ramadhan. Pada bulan Ruwah ini milestone yang menjadi tradisi adalah Nyadran atau disebut juga Ruwahan mengikuti nama bulannya. Seperti yang dilakukan di daerah lain yang masih menjalankan tradisi ini, aktivitas utamanya berupa nyekar, berziarah ke kubur leluhur.

Yang membedakan Nyadran dengan ziarah pada umumnya adalah waktu pelaksanaannya yang telah ditentukan secara sepihak oleh pihak yang memiliki otoritas di daerah tersebut dan pelaksanannya yang kolektif. (lagi…)

Satu lagi dari Mas Muslih….

JANGAN TERLALU PERCAYA PADA SEKOLAH !!!

Oleh : Muh. Muslih

Sudah berjalan dua bulan dari tahun ajaran baru 2007/2008 . Dengan semangat para pelajar berangkat ke sekolah. Meski semangat dan keriangan mereka kadang menjadi kendor seiring dengan berjalannya waktu dan banyaknya bahan pelajaran yang mesti mereka hafalkan.Dan apabila kita merenung lebih dalam dengan kondisi nyata di sekolah sehari-hari yang menggambarkan bahwa anak-anak itu sesungguhnya lebih banyak tidak siap untuk belajar di sekolah. Lihatlah ekspresi kegembiraan mereka bila ada guru kosong atau saat bel panjang tanda pulang berbunyi. Sekolah hampir dapat disamakan dengan penjara bagi anak-anak kita namun mereka sadar harus menjalaninya karena telah didoktrin oleh orang tua bahwa mereka harus pandai . Dan tempatnya adalah di sekolah. Lalu apakah yang keliru ? (lagi…)

Menyambung tulisan Mas Muslih, menarik untuk menuliskan tentang profesi yang oleh Iwan Fals dipopulerkan lewat hitsnya Oemar Bakrie. Format mp3nya bisa didownload di sini.Sebetulnya profesi guru itu muncul dalam beragam bentuk mulai dari pengajar di playgroup, TK, SD, madrasah, SMP, SMU, perguruan tinggi, guru ngaji, ulama (ustadz), instruktur (aerobik, body language, fitness, senam, beladiri), trainer, dll yang terkait dengan kegiatan mengajar. Tetapi entah kenapa kata guru lebih identik terbatas pada pengajar di sekolah formal dari tingkatan pendidikan paling rendah sampai SMU. Di perguruan tinggi lebih populer dengan istilah dosen (master, profesor), suhu/sensei untuk sebagian beladiri, dst. (lagi…)

 

Berikut tulisan menarik sumbangan dari mas Muh. Muslih, seorang guru MA Ma’arif Borobudur yang aktif menulis di beberapa media massa, untuk blog bumisegoro.

MENULIS SEBAGAI PENAMBAH INCOME GURU

Oleh : Muh.Muslih

Profesi guru saat ini, utamanya di Indonesia, masih menempati urutan bawah dalam hal pendapatan. Menjadi guru merupakan salah satu profesi yang sangat didambakan hingga tahun 1950-an. Namun pada awal 60-an, profesi guru bukan lagi pilihan pertama. Peringkatnya telah digusur oleh profesi lain seperti dokter, ahli hukum atau teknisi. Bahkan para anak guru kalau ditanya kebanyakan tidak ingin berprofesi sebagai guru seperti orang tuanya. Mungkin benar hasil beberapa penelitian di banyak negara yang menyatakan : that teaching as an occupation for people with low commitment and willing to accept low salaries. ( H.R. Tilaar, 50 Tahun Pembangunan Pendidikan Nasional, Grassindo,1995 )

Bagi kaum guru pendapatan yang masih rendah itu perlu disiasati. Sebab sebagai seorang profesional, tentulah tak mungkin bagi seorang guru untuk berpindah haluan mencari pekerjaan yang bukan bidang keahliannya. Sangat ironis bila seorang tamatan sarjana pendidikan harus menjadi tukang batu atau pemulung sampah ( Nyata, Desember 2005 ). Itu karena sebagai guru GTT gajinya tidak cucuk dengan kebutuhan harian. Nah, saran yang paling pas, menurut saya adalah menulis sebagai penambah income seorang guru. (lagi…)

Seorang tetangga di bumisegoro yang kebetulan veteran pejuang bercerita tentang pengalaman konyolnya di jaman revolusi. Saat bercerita, kesan konyol dan rasa syukur sangat terasa dalam ekspresi wajah dan tubuh sepuh-nya.

Dalam perjalanan kembali dari tugas kurir menuju ke markas, tanpa sengaja dia melihat sekelompok kecil pasukan patroli Belanda sedang beristirahat. Saat itu, mereka dalam posisi tidak siaga (off position, senjata di mana, orangnya di mana) karena sedang menikmati degan (kelapa, diambil air dan daging buahnya) sambil menikmati semilirnya angin di suatu siang yang panas. (lagi…)

Masyarakat (khususnya Jawa) kadung mengenal istilah Mo-Limo sebagai Maling (mencuri, termasuk juga korupsi), madat (nyabu), main (berjudi), minum (mabuk-mabukan), dan madon (main perempuan). Semuanya sebagai pantangan, ora ilok, yang harus dijauhi (prefentif), diberantas (post facto), dan pihak-pihak yang jadi korban diobati (kuratif).

Dengan latar belakang seperti itu maka terbilang aneh jika ada orang yang memberi nasehat untuk melakukan Mo Limo, apalagi nasehat itu diberikan sebagai nasehat pernikahan bagi mempelai. Orang yang nekat menentang arus tersebut kebetulan adalah ki Dalang yang sedang manggung karena ditanggap oleh shahibul hajat yang sedang menikahkan anaknya. Bayangin ki Dalang yang tugasnya sangat mulia ngudal piwulang (memaparkan ilmu dan hikmah) memberi nasehat bagi mempelai untuk melakukan Mo Limo. (lagi…)

Halaman Berikutnya »