Dari okezone Selasa, 31/07/2007 22:01 WIB

Cetak E-mail

JAKARTA – Penyakit yang menyerang warga Magelang kemungkinan besar karena bakteri pseudomonas cocovenenans. Bakteri ini diketahui hidup di tempe gembus yang dimakan para korban.

“Mereka makan tempe gembus yang dijual orang lewat. Yang kena banyak perempuan karena perempuan lebih banyak yang tinggal di rumah. Laki-lakinya bekerja di luar,” jelas Menteri kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari di Jakarta, Selasa (31/7/2007).

Hal ini menjadi faktor kuat penyebab 31 orang korban di Magelang. Yakni 21 orang perempuan 10 laki-laki. Sedangkan korban meninggal berjumlah 10 orang, yakni 9 perempuan dan satu laki-laki.

Menurut Menkes, dugaan sementara ini dihasilkan dari penyelidikan epidemiologis oleh dinas kesehatan (Dinkes) provinsi Jawa tengah, Dinas kesehatan (Dinkes) Kabupaten Magelang, Puskesmas Ngablak, dan BLK Semarang. Penyelidikan yang dilakukan sejak 23 Juli lalu telah mengambil sampel sisa makanan, muntahan, dan sumber air di lingkungan sekitar rumah korban.

Pada 26 Juli penyelidikan dilakukan bersama tim Rumah Sakit (RS) Dr. Kariadi untuk memeriksa sampel darah, tinja, cairan lambung. Kemudian pada 28 Juli sampel air dari mata air dan udara diperiksa Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan Pengendalian Penyakit Menular (BBTKL-PPM), Yogyakarta.

Sampai akhirnya, hasil penyelidikan membuktikan penelitian ke logam berat negatif, gas beracun negatif, dan hanya bakteri pseudomonas cocovenenans yang positif.

 

bumisegoro: Bakteri pseudomonas cocovenenans biasanya tumbuh pada bahan yang mengandung parutan kelapa/coco. Jadi mikir, emang tempe gembus memakai parutan kelapa? Atau bakteri tersebut bermigrasi ke tempe gembus? atau bagaimana?

Kendati demikian, departemen kesehatan (depkes) belum bisa memastikan jenis penyakit yang menyerang para korban di Magelang. Sebab, pihaknya masih akan melakukan penyelidikan bahan kimia lainnya yakni logam Krom, Cuprum, Barium, Cadmium, dan Besi (Fe).

Dirjen pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan (P2PL) I Nyoman Kandun mengatakan meski baru kali ini tempe gembus bisa menyebabkan kematian. Namun, hal tersebut belum bisa diartikan sebagai hal yang definitif. Karena itu, pihaknya masih akan melakukan penyelidikan terhadap bahan kimia dan pestisida.

 

bumisegoro: Umumnya tempe gembus aman dikonsumsi. Berdasarkan frekuensi kejadian di masa lalu (historis) tingkat prefalensi keracunan tempe yang lebih tinggi ada pada tempe bongkrek.

Namun, dia memastikan penyakit di Magelang tidak berpotensi mewabah. Tapi berasal dari satu sumber (common source). “Ada peristiwa mendahului sebelum kejadian, ada penjual tempe gembus. Dan kasus baru tidak ada lagi,” jelasnya.

Peneliti Lembaga penelitian Eijkman Herawati Sedoyo mengatakan bakteri pseudomonas cocovenenans membutuhkan suatu media untuk berkembang biak. Sementara itu, media yang paling baik diketahui berada di ampas kelapa, jagung dan biji-bijian.

Selain itu, bakteri itu bisa tumbuh karena faktor kelembaban dan keasaman di media yang berkaitan. Dalam hal ini, kelembaban dan keasaman tempe gembus memungkinkan bakteri pseudomonas cocovenenans hidup dan berkembang biak.

Terkait indikasi sanitasi buruk di sekitar masyarakat Magelang, Kepala Dinkes Jawa Tengah Hartanto mengatakan selama tidak ada virus atau toksin, tetap tidak akan menimbulkan keracunan di masyarakat. (susi/sindo/ism)