Soliloque Dari Tumpang
————————————————————————————–
Tulisan ini aku comot mentah-mentah dari salah satu milis sebagai wujud empati atas fenomena “ahistoris” masyarakat kita. fenomena discontinuity dan meninggalkan akar ciri yang mengindikasikan gejala inferiority complex. Tulisan ini cukup panjang untuk ukuran blog ini, tapi demi menjaga orisinalitasnya, aku tidak bermaksud menyunatnya. Apalagi yang tersaji ini sudah dari tangan ke dua. semoga bisa membangkitkan semangat untuk nguri-uri kabudayan, demi peradaban yang lebih baik.
—————————————————————————————-
Empatbelas kilometer arah timur Kota Malang, satu dusun didiami oleh empat dari sedikit seniman tradisi topeng Malangan yang tersisa sampai detik ini. Glagahdowo nama dusun itu. Satu dari empat seniman yang masih eksis itu, Soetrisno (64), berinisiatif mengabarkan dinamika keberadaan kesenian mereka melalui tulisan tangan putrinya. Upaya revitalisasi yang sangat sederhana dari sebentuk kebudayaan khas ini jauh dari hingar bingar seminar kebudayaan, analisa budaya pada massmedia, jargon-jargon LSM dan yayasan dibidang kebudayaan, apalagi retorika kancah politik yang sedang membahana di layar televisi setiap hari. Begitu sunyi. Sebagai soliloque (artinya kurang lebih hampir sama dengan ngunandiko dalam istilah Jawa, yang berarti menggumam sendiri dalam hati) yang melindap diam-diam pada kesadaran normatif publik Malang; pemilik kesenian tradisi tersebut. Berikut tulisan yang direvisi seperlunya oleh redaksi – karena kekhilafan aksarawi tanpa bermaksud mengubah intisari dari maksud sebenarnya.
Keunikan-keunikan dari seni drama tari topeng Malang khususnya yang ada di Dusun Glagahdowo, Kecamatan Tumpang.
Pada umumnya pelaku atau pemain seni drama tari topeng bisa memerankan berbagai karakter tokoh topeng, sebut saja mbah Rasimoen (alm), beliau tidak hanya mahir membawakan gerak tari gunung sari atau memerankan karakter tokoh Gunungsari tetapi beliau juga bisa memerankan karakter tokoh-tokoh lain, misalnya : ratu atau raja jenggala, patih, dsb. Mbah Gimun, selain mahir memerankan karakter tokoh Klono (raja Sabrang), beliau juga bisa memerankan tokoh Bapang, emban, dsb. Dan Mbah Jakimin, selain mahir memerankan tokoh pendeta, beliau juga bisa memerankan karakter tokoh wanita, seperti Dewi Sekartaji, Dewi Ragil Kuning, dsb.
Kalau melihat semacam itu, tentu kita bisa menyimpulkan dengan jelas bahwa mereka belajar atau berkecimpung dalam paguyuban seni drama tari topeng tidak hanya setahun atau dua tahun bahkan bisa sampai berpuluh-puluh tahun, meninjau dari usia mereka yang saat ini rata-rata sudah menginjak 75-80 tahun. Dan di usia mereka yang sudah menjelang senja tentunya mereka mempunyai kenangan fenomena tersendiri dalam proses berkesenian terutama dalam seni drama tari topeng Malang. Saat ini yang menjadi masalah adalah kerprihatinan mereka dalam melestarikan atau mencari regenerasi baru untuk kehidupan komunitas seni drama tari topeng Malang yang akan datang. Yang mereka resahkan, masih adakah anak muda di jaman sekarang ini yang masih mau peduli terhadap kesenian tradisi khususnya seni drama tari topeng Malangan yang dirasa sudah dalam keadaan kembang kempis dan akankah seni drama tari topeng Malang bisa tetap eksis ditengah-tengah era globalisasi saat ini.
Di sebuah komunitas yang mempunyai nama Sri Margo Utomo, tepatnya di Dusun Glagahdowo, Kecamatan Tumpang masih ada dua orang personil pemain drama tari topeng Malang, beliau adalah Mbah Gimun dan Mbah Jakimin. Di usia beliau yang bisa dibilang sudah sepuh tetapi beliau masih mempunyai semangat seperti anak muda dalam melestarikan kesenian drama tari topeng Malang, satu misal beliau masih mau memberi pengarahan-pengarahan dan dorongan semangat pada para penari topeng Malang, khususnya yang ada di Dusun Glagahdowo, Kecamatan Tumpang. Sri Margo Utomo memulai kiprahnya berkesenian kira-kira dari tahun 1939 sampai sekarang. Meskipun saat ini peronilnya tinggal dua orang. Berikut ini adalah biografi pemain drama topeng yang ada dipaguyuban tersebut.
Nama : Mbah Gimoen
Tempat / Tgl lahir : Malang, 1924
Beliau belajar dan berkecimpung dalam dunia seni drama tari topeng malang dari tahun 1939 sampai sekarang, menurut beliau pada waktu itu drama tari topeng tidak hanya sebagai seni pertunjukan saja tetapi juga sebagai mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dan masyarakat pada waktu itu juga sangat peduli dan benar-benar menghargai seni pertunjukan drama tari topeng. Wujud dari kepedulian mereka adalah dengan mengundang dan mendatangkan rombongan kesenian drama tari topeng pada acara acara hajatan misalnya manten, sunatan, entas-entas orang tengger (selamatan untuk yang sudah meninggal / kirim doa) dll. Mbah Gimun adalah pemeran tetap karakter tokoh topeng Kelono (Raja Sabrang) dan sampai sekarang pula tari Kelono pula yang selalu diajarkan pada anak didiknya.
Nama : Mbah Jakimin
Tempat / Tgl lahir : Malang, 1923
Sama seperti mbah Gimun, Mbah Jakimin berkecimpung di dunia seni drama tari topeng malang sejak tahun 1939 sampai sekarang. Meskipun saat ini beliau tidak aktif lagi diatas panggung Mbah Jakimin adalah pemeran yang mempunyai multi fungsi dalam setiap pertunjukan. Beliau tidak hanya bisa memerankan karakter tokoh wanita atau dewa tapi juga karakter tokoh-tokoh yang lainnya.
Adapun beberapa personil lain yang sudah almarhum yakni Mbah Rasimoen, Mbah Sueb, Mbah Lostari, Mbah Warno, Mbah Bilal, Mbah Roselin, Mbah Saruwi, Mbah Rakim.
Masih menurut Mbah Jakimin dan Mbah Gimoen, bahwa ditahun 1939 saat memulai kiprahnya di dunia seni drama tari topeng malang, bangsa Indonesia masih dalam masa penjajahan, dan perekonomian Indonesia juga masih sangat hancur. Bisa dibilang waktu itu rakyat Indonesia juga merasakan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan rombongan kesenian inipun saat itu merasakan hal yang sama.
Lalu ada tokoh seniman tari topeng yang bernama pak Item (pak Kasimun) yang mempunyai ide mengumpulkan anak didiknya untuk mbarang/ngamen kedaerah daerah Tengger demi memenuhi kebutuhan hidup mereka masing-masing yang termasuk terlibat didalamnya adalah Mbah Gimun, Mbah Rasimun, Mbah Jakimin, Mbah Paran, Mbah Bilal, Mbah Jari, Mbah Samud, dan Mbah Lostari, dalam perjalanannya tidak sedikit hal yang menjadi kendala buat mereka, karena belum ada fasilitas tranportasi maka mereka harus rela berjalan kaki sekaligus membawa peralatan topeng selengkapnya. Dan tidak mereka tidur di tengah hutan dengan hanya beralaskan daun cemara karena kemalaman di jalanan. Mereka juga rela menahan lapar dan haus ketika dalam perjalanan.
Kalaupun ada orang yang mau mempersilahkan mereka untuk mampir kesalah satu rumah penduduk, barulah mereka bisa makan dan minum, itupun seadanya, sesuai dengan keadaan yang punya rumah, biasanya hanya sekedar kopi, jagung rebus atau kentang rebus, singkong bakar, sayur kubis, kadang ada juga yang mempersilahkan mereka mampir sekaligus menyuruh mereka main (nanggap) dan memberi upah. Pada waktu itu upah mereka hanya dua sen untuk satu orang dan upah dua sen waktu itu sudah cukup untuk beli nasi bungkus. Tapi kalau dibandingkan dengan uang sekarang dua sen ternyata nilainya masih kurang dari 100 rupiah uang sekarang. Jarak perjalanan yang mereka tempuh pun sangat jauh yakni mereka berangkat dari Tumpang ke Gubug Klakah, dari Gubug Klakah ke Ngadas, dari Ngadas ke Ngadiwono, dari Ngadiwono ke Ledokombo, jadi terhitung dari kabupaten malang sampai kebupaten Probolinggo, tidak hanya sampai di Probolinggo mereka juga pernah melakukan perjalanan dari Tumpang ke Gubugklakah, dari Gubugklakah ke Ranu Pani (arah ke puncak gunung Semeru), lalu dari Ranupane ke Nggedok, atau tepatnya dari kabupaten Malang ke kabupaten Lumajang.
Didalam perjalanan mereka masih sempat melestarikan seni drama tari topeng dengan cara mengajari orang-orang dan anak-anak disekitar tempat mereka singgah untuk istirahat. Jadi keberadaan kesenian tari topeng tidak hanya ada dikabupaten Malang saja tapi juga ada di kabupaten Probolinggo dan kabupaten Lumajang.
Inilah sekapur sirih perjalanan hidup seniman drama tari topeng malang di masa lampau, dan melalui cerita ini beliau mempunyai harapan yang besar pada kita, generasi muda. Yang mereka harapkan ialah rasa peduli kita terhadap suka-duka mereka dalam perjalanan hidup berkesenian dan kesediaan kita untuk menyimak keluh-kesah mereka dalam usahanya melestarikan kesenian tradisi khususnya seni drama tari topeng malang
Nara sumber :
Sutrisno
Mbah Gimun
Mbah Jakimin
(tulisan Dwi Wahyu Asmarani, dusun glagahdowo diketik ulang oleh hisyam mawardie, yayak marsose)
Jaya yayak setiawira
Litbang Dewan Kesenian Malang
Agustus 26, 2007 at 3:34 pm
salam hangat dari kota malang,
membaca sedikit kilasan kisah seniman topeng di dusun glagahdowo, saya cukup terkesan. dan membuka kembali kisah kisah serupa yang pernah saya baca dan bahkan saya temui.
saya adalah salah satu seniman tari, sejak kecil sy amat lekat dengan tarian. selain belajar seni tari secara serius di suatu sanggar secara kebetulan kakek sy adalah teman seperguruan seniman “Pencipta tari Topeng Malang” yaitu Mbah Karimun yg bertempat tinggal di dusun Kedung Monggo kab Malang. sehingga sedikit banyak sy jg mendalami ciptaan tarian beliau, dan beberapa tari tradisional daerah lain.
Tetapi dengan perjalanan wktu kelestarian sanggar tari dan keuletan menggeluti seni tari tidak dapat berlangsung. tuntutan untuk melanjutkan pendidikan, pekerjaan dan berumah tangga, menjadikan sy benar-benar meninggalkan seni tari. hanya sesekali sy menari untuk mengobati kerinduan, sy tampil di acara2 yg diminta.
beberapa waktu dan kesempatan sering membuat saya ingin kembali menelusuri kesenian tari tersebut, ternyata hampir tokoh-tokoh seni bahkan sanggar-sanggar yg amat berharga tidak lg dapat sy temui. yang sy temukan tinggal kisah-kisah perjalanan para seniman yg tak lg mendapat tempat dan penghargaan sebagai perintis dan pelestari seni budaya. sungguh menyedihkan, terlebih dari sekian banyak seniman-seniman daerah tersebut memiliki kehidupan yang amat memprihatinkan. tak terkecuali sang guru tari yang pernah menjadi tempat sy menimba ilmu jg kini hidup dalam keterpapan.
saat ini sy jg sedang merencanakan untuk menemukan teman-teman seniman yagng dulu pernah bersama-sama ber-gulawentah tari bersama. mungkin ke depan memang sudah ada rencana untuk mengumpulkan tari-tari khas malang sebelum semuanya hilang.
tetapi untuk melakukan rencana tersebut saya perlu dukungan dari pihak-pihak yg mau peduli terhadap pelestarian budaya seni tari khas malang. sy rasa saat ini belum terlamabt karena seniman seperti sy masih banyak sekalipun di era yg sudah se modren ini. sy yakin jika teman-teman sy ada yg membaca web ini jg akan merasakan kerinduan yg sama untuk kembali ke dalam sanggar.
Agustus 27, 2007 at 9:42 am
Saya coba oper kembali tanggapan hangat Anda ke milis biar mendapat umpan balik yang lebih banyak.
terima kasih.
salam jabat erat
September 13, 2007 at 3:13 pm
Salam kenal buat pengelola milis dan Mbak Anita..
O ya perlu diketahui saja.. Mbak Karimun bukan PENCIPTA TARI TOPENG MALANG. Bahkan sampai detik ini pun ketika saya menjadi murid beliau, belum ada satupun karya tari yang beliau ciptakan. Kalau kegagahannya dalam menari Klono yang tiada tertandingi.. itu memang kenyataan yang sudah diakui oleh dunia internasional.
Lebih tepatnya Mbah Karimun adalah Begawan kesenian wayang topeng. Tempat orang-orang “ngangsu kaweruh” (menimbah ilmu) tentang nilai-nilai luhur yang ada dalam kesenian wayang topeng itu sendiri. Sebelum kedua kakinya lumpuh beliau merupakan Penari Klono yang tiada tandingannya terutama di komunitas seniman wayang topeng wilayah Malang selatan. Teknik geraknya yang estetik, menjadikan banyak orang yang tertarik belajar gerak tari kepada beliau. Bentuk-bentuk karakter gerak baik gerak topeng alus maupun gagahan yang dimiliki Mbak Karimun sangat mudah untuk diadaptasi bagi semua orang yang baru belajar tari Topeng. Selama hampir 15 tahun saya belajar Kesenian Topeng Malang, tidak ada satu orang pun seniman topeng tradisional yang teknik geraknya bisa diadaptasi dengan mudah oleh seniman pemula. Tidak berlebihan jika Mbak Karimun pernah diundang menjadi dosen tamu di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya. Bahkan ragam gerak tari Beliau sekarang sudah banyak dipelajari di lembaga-lembaga kesenian baik formal maupun informal. Oleh sebab itu dalam masyarakat orang lebih akrab dengan TARI TOPENG BAPANG, gaya Kedungmonggo daripada Tari topeng Bapang dari ragam komunitas kesenian topeng di lain tempat.
Selain menari, Mbak Karimun adalah seorang pemahat topeng Malang yang karya2nya sudah tersebar di seluruh nusantara bahkan hingga ke luar negeri. Memahat atau mengukir Topeng Khas Malang merupakan rutinitas keseharian Beliau. Karismanya nya sebagai seorang guru, telah melahirkan seniman-seniman pemahat Topeng. Berkat jasa beliau dalam mengajarkan teknik memahat dan mengukir topeng Malang ini telah tercipta lapangan kerja baru bagi generasi muda yang tinggal di sekitar tempat tinggal beliau.
Kemampuannya berkesenian topeng tidak hanya ditunjukan dengan kemahirannya dalam menari dan memahat topeng saja. Akan tetapi beliau juga mampu menDalang dengan bagus dalam suatu pertunjukan kesenian wayang topeng. Tidak hanya itu saja.. kemampuan yang hampir tidak dimiliki oleh seniman wayang topeng di Malang adalah kemahirannya memainkan kendang untuk mengiringi gerak tari dalam wayang topeng Malang.
Kesenian Topeng Malang tidak bisa dilepaskan dari Kehidupan Beliau. Nilai-nilai budaya yang luhur dalam kesenian Topeng Malang seperti MAJEK, MAPAK, MEGENG, MENGKU, betul-betul dijalaninya dalam kehidupannya sehari-hari dengan penuh konsekuen dan bertanggungjawab.
Dari fakta di atas, predikat Mbak Karimoen Paryo, sebagai MAESTRO KESENIAN TOPENG MALANG, bukan suatu yang berlebihan.
September 29, 2007 at 5:17 pm
salam kenal juga buat mas hery budiyanto … mungkin kita sudah kenal tapi karena lama ndak sambang mbah karimun,… jadi kita dipertemukan di milis ini. pasti mas hery satu generasi dengan mas suroso,mas susilo dan ribut dkk. jika boleh saya minta email anda. mungkin kita bisa sharing tentang seni tari khususnya tari malangan. terlebih jika mas hery masih aktif berkesenian pasti bnyak perkembangan yang bisa dibagi. apa masih ada sanggar yang menaungi aktivitas seni mas hery, sanggar apa dimana ya? terimakasih atas info nya. mas hery jauh lebih mengenal mbah karimun. tapi meski dalam waktu yang relatif singkat saya berguru pada beliau saya juga merasakan kesan kagum dan bangga pada beliau. salam untuk semua …terimakasih
November 14, 2007 at 12:34 am
Salam kenal,
Saya senang tulisan saya ada yang meneruskan publikasinya. Silahkan mampir ke blog saya …
Thank’s
Hisyam Mawardie
Desember 4, 2007 at 4:23 pm
Suatu saat nanti, saya ingin sekali bisa menyaksikan langsung topeng gaya Malangan dan memahami isi ceritanya. Semoga kesenian ini selalu lestari, amin…
Maret 19, 2008 at 2:46 pm
Topeng malangan???
sedikit asing buat seumuran remaja skrang…
moga bsa trus lstari…
Februari 20, 2009 at 9:10 am
terima kasih sudah mau mengangangkat materi topeng malangan. saya bukanlah seniman tapi saat ini sedang berusaha mengumpulkan apa saja mengenai topeng malang terutama tentang mbah karimun. seperti kita ketahui usia mbah karimun sudah sangat tua. dan secara fisik tidak mampu lagi berkarya. bahkan untuk berbicarapun sudah kurang jelas. oleh karena itu seandainya ada info berupa foto atau pun tulisan mengenai beliau tolong saya diberitahu. akan saya klip mungkin bisa menjadi kenang -kenangan buat buat keluarga mbah karimun.