Pemberitaan tentang lima arca Museum Radya Pustaka yang disita Poltabes Solo di rumah Hashim di Kemang cukup menghebohkan. Berita itu makin menambah panjang “penjarahan” terhadap cagar budaya kita. Seperti yang disampaikan oleh Djulianto Susantio,
“Bisa dipastikan belum banyak orang tahu kalau Prasasti Watukura (bertarikh 902 hingga 1348) sejak lama bermukim di Denmark dan menjadi koleksi keturunan keluarga L Norgaard. Prasasti Wukayana (angka tarikhnya tidak ada) saat ini tersimpan di Museum Tropen, Prasasti Sangsang di Koninklijk Instituut voor de Tropen, Prasasti Guntur di Museum Maritim, dan Prasasti Tulangan di Museum voor Volkenkunde, semuanya di Belanda.
Di Prancis ada Prasasti Dhimalasrama, sementara di India ada Prasasti Pucangan (Batu Kalkutta). Kemudian di Thailand masih banyak tersimpan arca-arca batu yang berasal dari Candi Borobudur dan candi-candi lain di Pulau Jawa. Benda-benda tersebut teridentifikasi sebagai hadiah dari pemerintah Hindia Belanda kepada Raja Siam ketika berkunjung ke Tanah Jawa pada abad ke-19. Artefak-artefak batu kuno juga pernah diboyongi ke Jepang. Dulu merupakan jarahan para serdadu untuk dihadiahkan kepada kaisar mereka, Tenno Heika, ketika berulang tahun.
Itu baru sebagian kecil dari sekian banyak benda purbakala Indonesia yang “terbang” ke mancanegara karena berbagai sebab, seperti penyelundupan, cenderamata dari pemerintah yang berkuasa, dan untuk diteliti, yang terjadi sejak zaman penjajahan serta “oleh-oleh” wisatawan ketika berkunjung ke sini pasca kemerdekaan.”
Tentang arca Borobudur yang dihadiahkan Nurhadi Rangkuti menyampaikan bahwa tercatat Raja Chulalongkorn II atau Rama V dari Thailand datang ke Jawa pada tahun 1896 dan pulang memboyong artefak-artefak bernilai tinggi dari Candi Borobudur. Ia telah mengantongi surat ijin tertanggal 17 Juli 1896 dari Residen Kedu, C.L. Hartmann yang mengabulkan raja dari Thailand itu membawa 5 arca Buddha, 2 arca Singa, arca raksasa dan beberapa ornamen. Pemberian hadiah barang purbakala itu ditentang oleh Dr. Groeneman, arkeolog Belanda. Demikian pula dengan H.H. Patijn dan Niermeijer. Tetapi apa mau dikata, Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu mengijinkan pemberian hadiah tersebut.
Tidak termasuk arca yang dijarah dalam konteks di atas adalah OM Arca. Bukan nama orang tentunya karena panggilan om kurang merakyat di daerah ini, yang populer adalah Pak LIK, Pak atau Lik (saja). OM Arca adalah kependekan dari Orkes Melayu Arca. Seperti diketahui pada tahun 70-an, dangdut lebih dikenal sebagai aliran musik orkes Melayu. Sebutan Dangdut baru dikenal kemudian, sekitar awal tahun 80-an. Penamaan Arca karena domainnya adalah Borobudur yang notabene terkenal karena stupa, arca, dan relief candinya. Dengan harapan sama terkenalnya, maka group musik dangdut yang biasa tampil “berani” ini dinamakan. Meski namanya arca tapi tidak pake gaya batu loh, atau pakaian minim itu justru terinspirasi dari patung-patung yang ga pake baju? Entahlah, yang jelas pada akhir 80-an sampai awal 90-an OM Arca cukup beken sebagai hiburan rakyat yang murah meriah di Borobudur dan sekitarnya.
Di belahan bumi yang lain, ternyata juga ada arca yang berkibar yaitu Arca Group, a consulting, publishing and venture capital firm. Nah lho?
Desember 8, 2007 at 11:50 pm
Nah lo, intinya, perlu adanya perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat demi keselamatan peninggalan-peninggalan bersejarah tersebut. Bersinergi dong… Jadi nggak hanya salah satu pihak saja yang dipersalahkan… Semuanya harus saling memiliki…
Atau, mau arca di Borobudur diaku Malaisia lagi???
Desember 10, 2007 at 9:56 am
setuju mas Arif, sinergi.