Beberapa waktu lalu Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla mengusulkan pemberian suara dalam Pemilu 2009 tidak lagi pakai coblos-coblosan tapi dengan menuliskan nama partai dan nama calon, mendapat penolakan. Ide yang diusulkan dalam rangka memotong anggaran ini mendapat reaksi beragam baik dari kalangan legislatif maupun politisi. Jauh dari hiruk pikuk reaksi orang Jakarta, warga bumisegoro punya pengalaman unik dalam hal ini.

Suatu malam, sesuai undangan lisan secara getok tular, bapak-bapak warga RT 4 berkumpul di rumah salah seorang warga. Agenda malam itu adalah selapanan tingkat RT sekaligus pemilihan ketua RT. Musyawarah mengerucutkan kandidat menjadi 3 orang. Sebut saja pak Abu, pak Banu, dan pak Catur sebagai kandidat ketua RT 4. Mekanisme pemilihan, sesuai “azas demokrasi”, adalah voting. One man one vote, karena pemilihnya emang cuma kepala rumah tangga (tentunya man). Seperti lazimnya acara voting, acara yang paling ditunggu-tunggu adalah penghitungan suara.

 

Pembaca hasil voting: “Pak Abu, …..”

Warga: sah!

Pembaca hasil voting: “Pak Abu, …..”

Warga: sah!

Pembaca hasil voting: “Pak Banu, …..”

Warga: sah!

Pembaca hasil voting: “kosong …..”

Warga: …. (diam saja)

Pembaca hasil voting: “Pak Ukri, …..”

Warga: gerrrrr, hidup Ukri!

 

Singkat cerita, berdasarkan hasil voting malam itu, yang terpilih adalah Pak Abu, yang menguasai 40% suara. Diikuti Pak Banu 20%, Pak Catur 15%, pak Ukri 3%, Pak jarwadi 2%, sisanya hangus. Yang menarik muncul nama pak Ukri dan pak Jarwadi yang sama sekali tidak dicalonkan. Keduanya bukan calon alternatif dalam arti sesungguhnya. Karena selidik punya selidik, orang yang menuliskan nama keduanya bermotif iseng. Buat lucu-lucuan ….

Dari kisah nyata di atas, bukan tidak mungkin jika usulan Kalla direalisasikan akan muncul nama-nama Dian Sastro, Bunga Citra Lestari, Tukul Arwana, dll dalam presentase yang cukup signifikan. Meskipun mereka tidak mencalonkan diri dan bahkan sama sekali tidak mau dicalonkan.

Ngomong-ngomong, anda mau menuliskan nama siapa?