Ada informasi menarik yang disampaikan oleh “Golden Horde” dalam milis budaya_tionghoa terkait dengan peran Tan Jing Sin (KRT Secodiningrat, 1760-1831) dalam penemuan kembali candi borobudur. Yang bersangkutan pernah menjabat sebagai Kapiten Cina di Kedu, dan kemudian Yogyakarta. Uniknya, yang bersangkutan memiliki kedekatan dengan tiga golongan sekaligus (Cina, Jawa, Eropa). Tidak heran jika oleh sebagian kalangan dikatakan sebagai “Cino wurung, Jowo tanggung, Londo pun durung” atau dengan kata lain, Cina ya tidak lagi, Jawa ya tanggung, jadi Belanda pun belum. Bahkan identitasnya pun sering menimbulkan kerancuan antara China dan Jawa.

Dikatakannya, Tan yang telah berkenalan dengan Raffles ketika itu, juga ikut berperan bersamanya dalam menemukan dan merestorasi kembali candi Borobudur yang telah lama terbengkalai dan dilupakan orang serta tertutup oleh semak belukar.

Tan membuat peta lokasi dan laporan tentang keadaan candi Borobudur yang akan digunakan oleh Raffles dan tim ahli purbakala lainnya dalam kunjungannya pada tahun 1814. Dalam rangka kunjungan Raffles dan tim ahli purbakalanya ke Borobudur itu, Tan membangun jalan selebar 5 meter dari desa Bumisegoro menuju candi Borobudur.

Karena Tan juga dapat berbahasa Inggris dan Jawa-Sanskrit, maka Raffles juga pernah memintanya untuk menjadi penerjemah naskah-naskah yang dikumpulkannya dalam penyusunan buku sejarah Jawa “History of Java”, sekiranya dibutuhkan.

Buku mengenai Tan Jin Sing pernah diterbitkan oleh Penerbit PT Pustaka Utama Grafiti pada tahun 1990 (cetakan pertama) dengan judul “Tan Jin Sing Dari Kapiten Cina sampai Bupati Yogyakarta”. Ditulis oleh T.S. Werdoyo yang disebutkan sebagai salah satu keturunannya.