beberapa tahun terakhir ini kenaikan harga barang kebutuhan publik sering banget menjadi berita heboh. Mulai dari kenaikan harga BBM, beras, minyak goreng, dan seterusnya. Yang terbaru adalah kedelai. meskipun demikian tingginya frekuensi kejadian ini tidak banyak mendatangkan pelajaran bagi kita. fenomena yang kurang lebih sama kita dapati dalam hal bencana. bedakan dengan jepang yang langganan gempa dan tsunami, kemudian belajar banyak dan menjadi ahli dalam bidang itu. Juga Belanda yang karena negaranya terpapar resiko tenggelam menjadi ahli dalam bidang teknik sipil yang terkait dengan air.

lha kita, bangsa tempe? bertahun-tahun berwacana tentang impor kedelai tetapi sampai sekarang masih bergantung pada impor kedelai. donkey? yang jelas donkey=keledai, tidak biasa makan kedelai ;-) .

dengan kondisi di tataran bangsa seperti itu, maka fenomena yang muncul di akar rumput adalah “kreativitas sementara.” misalnya saja, akal-akalan produsen tahu dan tempe berikut ini:

1. menaikkan harga mengikuti kenaikan bahan baku (kebijakan tidak populer)

2. demo ke presiden (semua persoalan cenderung didemokan ke pimpinan tertinggi)

3. mengurangi ukuran (kompromi win-win)

4. mencampur bahan dengan material lain yang lebih murah (menurunkan kualitas, baca di sini)

5. berpaling ke bahan lain (baca di sini, cukup cerdas tapi biasanya respon kurang seimbang, penyakit lama kita yang monokultur)

6. berpaling ke kedelai lokal

7. tiarap (hibernasi, wait n see)

8. berpaling profesi (pelarian)

9. rame-rame nanam kedelai (fenomena trend sesaat di agribisnis, seperti yang sudah-sudah: budidaya jamur, jangkrik, cacing, lobster darat, gelombang cinta dll)

10. …. ada tambahan lain??