Setelah membaca liputan6 baru tahu bahwa ternyata cinderamata relief (candi) itu terbagi setidaknya menjadi dua. Yang pertama terbuat dari batu (gelondongan, maksudnya batu pipih sebagai medium) terus dipahat (aliran mPrumpung; merujuk pada sentra pahat patung yang berlokasi antara borobudur-muntilan). Yang kedua terbuat dari serbuk batu (limbah) terus dicetak (aliran ngKretek; merujuk pada home industry yang berlokasi di Karangrejo, sebelah barat bumisegoro).
Sumber foto: liputan6.com
Karena keduanya berbahan dasar batu maka tentunya berbobot alias tidak ringan. lumayan “ngagetin” dan bikin penasaran jika dijadikan hadiah yang dikemas secara manis dengan kertas kado.”apa nih, kok berat amat,” menduga sambil berharap-harap cemas. jangan-jangan bom ….
jika anda berencana “ngagetin” dengan kado ini harap diperhatikan karakteristik dari masing-masing tipe relief. penampilan relief model cetakan memang lebih halus dan rapi tetapi relatif gampang gempil (fragile), bobotnya pun relatif lebih ringan. mangkanya kudu agak hati-hati, jangan anarki, agar keindahannya tetap terjaga. Sebaliknya relief model pahatan memiliki tekstur yang lebih kasar, baik bahannya maupun pahatannya. Selain itu relief model pahatan lebih berat dan tahan banting. Tapi awas, jangan sampai dijatuhin/dibantingin ke dengkul ya, kecuali kalau ente udah jadi pendekar sakti mandraguna.
Dari sisi harga, relief model cetakan seharusnya lebih murah karena proses pembuatannya lebih mudah. Sebagai perbandingan kasar, boleh dech disamakan dengan batik cap (untuk relief cetakan) dan batik tulis (relief pahatan).
Dengan kesadaran atas karakteristik tersebut diharapkan muncul kesamaan persepsi bahwa keduanya memiliki kedudukan setara. Sebagai souvenir yang diperbolehkan, bukan nyolong relief aslinya, baik dari museum maupun nyomot dari candinya. yang terakhir ini jelas-jelas melanggar hukum, melukai hati umat dan mencederai warisan sejarah.

Januari 23, 2008 at 6:51 pm
wah saya malu dulu sehari lewat berapa kali juga baru tahu setelah baca ini…tulisan yang sangat bagus mas!
[bumisegoro] kretek dulu terkenal juga sebagai sentra ukiran bambu (galar). entah bagaimana nasib galar sekarang?
Februari 8, 2008 at 2:51 pm
Hebat ya, ternyata bangsa ini luar biasa,… cita rasa seni yang tinggi.
[bumisegoro] betul, justru karena cita rasa seni ini juga yang mendorong saya sekarang ini sedang membudidayakan pembibitan pohon pule (alstonia scholaris) yang sekarang udah makin jarang. padahal kayu ini sangat dibutuhkan perajin untuk membuat patung. mohon doanya agar pembibitannya lancar.
Januari 23, 2009 at 11:38 am
Dimanakah saya bisa mendapatkannya? Saya benar-benar terpesona dan pengin punya.