Kalangan pedagang di candi borobudur punya istilah yang khas dan belum pernah aku temukan di daerah lain. Istilah tsb adalah gadugan. Semacam rezeki nomplok yang didapat pedagang akibat kesalahan pihak pembeli.

Gadugan lebih sering didapatkan oleh pedagang dengan pembeli wisatawan mancanegara (wisman). Meski akhir-akhir ini jarang terjadi seiring dengan makin berkurangnya wisman yang mengunjungi Candi Borobudur. “Terutama sejak peristiwa Bom Bali”, begitu yang sering diungkapkan kalangan pedagang di sana. Seorang pedagang post card misalnya, mendapatkan uang 100 ribu ripis untuk transaksi yang seharusnya Cuma 10 ribu ripis. Bisa jadi londo pembelinya kurang ngeh dengan perbedaan antara pecahan uang sepuluh ribuan dan seratus ribuan. Pecahan yang kebetulan warnanya mirip.

Ada dua kondisi yang biasa terjadi dalam menyikapi hal ini.

Pada kondisi pertama pembeli pura-pura tidak tahu dan uang tersebut langsung disakuin. Ada kalanya pemandu wisata yang memergokinya mengingatkan, namun pemandu wisata seperti ini umumnya kurang disukai pedagang. Ada kalanya pedagang memberi uang tutup mulut di kemudian hari kepada pemandu wisata yang memergoki dan berlaku seolah-olah tidak tahu. Prinsip pemandu wisata tipe kedua ini lazimnya adalah sama-sama nyari rezeki, tidak menghalangi rezeki orang lain.

Pada kondisi kedua, saat transaksi pembeli sendiri juga tidak ngeh. Baru tahu beberapa saat sesudahnya. Hal ini dapat terjadi karena dagangannya laku aja sudah merupakan kegembiraan tersendiri bagi pedagang. Sama halnya dengan kasir atau teller di bank yang karena sibuknya dan “azas praduga tidak bersalah” juga tidak ngeh bahwa uang yang dibayarkan konsumen/nasabah kelebihan.

Ingatan atas gadugan ini muncul kemarin saat aku menyadari udah salah bayar, yang harusnya pakai pecahan seribuan tetapi satu lembar lima puluh ribuanku ikut serta. Buntung bagiku, untung bagi entah pedagang atau tukang ojek yang melayaniku. Apalagi ini bukan pengalaman pertamaku, meski yang lebih sering tertukar adalah pecahan antara seribuan dengan dua puluh ribuan.