KRL Jabodetabek berikut stasiunnya adalah salah satu miniatur sosial yang paling orisinil dari masyarakat berbangsa Indonesia. Darinya potret sosial kemasyarakatan niscaya lebih tegas dan jelas dibandingkan dengan TMII misalnya. Bagaimana tidak, kalau TMII berusaha memotret sisi indah semata dari Keindonesiaan sementara KRL berikut stasiunnya menghidangkan realitas kehidupan masyarakat penghuninya. Sajian yang benar-benar lugas dan telanjang, apa adanya.

Jadi penasaran, adakah Indonesianis atau peneliti sungguhan formal yang sudah meneliti dengan menyempatkan diri membaur selama beberapa hari dari kereta pertama di pagi buta sampai kereta terakhir di malam hari. Kalau ada mau donk dibagi hasilnya. Tentu akan menarik.

lha wong, dalam sekali dua kali kesempatan naik KRL aja sudah banyak kejadian aneh bin ajaib yang bikin aku geleng-geleng kepala.

Kemarin pagi misalnya, dalam perjalanan dari sta Tanjung Barat ke Bogor di tengah jalan rel KRL tiba-tiba berhenti. aku yang lagi baca koran sempet bingung, bukan stasiun kenapa berhenti. kebingunganku teralihkan oleh suara gaduh di gerbong sebelah. Kegaduhan yang terjadi antara massa penumpang yang mau main hakim sendiri terhadap 3 penumpang “sakit” yang berusaha kabur setelah dengan seenaknya menarik tuas rem kereta. dua  penumpang “sakit” berhasil melompat di sisi kiri dan satu sisanya melompat di sisi kanan. apa coba maksudnya? menarik tuas rem demi kepentingan segelintir orang dan berpotensi menimbulkan bencana bagi seluruh kru dan penumpang KRL sungguh hanya bisa dilakukan oleh orang “sakit”. orang bumisegoro bilangnya, “syaraf”, sambil menaruh satu jari telunjuk dimiringkan di dahi.

pagi tadi di sta pasar minggu juga ada orang yang tidak kalah “sakit”nya. seorang bapak stw  dari etnis b mengacung-acungkan golok sambil ngomel-ngomel ke seseorang yang sedang duduk membaca koran di bangku lapak penjaja gorengan. karena ga ngikutin dari awal aku nanya ke tetangga sebelah. rupanya dia ga rela ditegur oleh bapak yang lagi baca koran tsb. “Padahal negurnya sih cukup sopan, ” kata tetangga.

oalah…. semprul … semprul. orang “sakit” kok pada berkeliaran bebas…