April 29, 2008
orang “sakit” di KRL
Posted by bumisegoro under cerita, kehidupan | Tag: Add new tag, kereta, KRL, sakit, stasiun, TMII |KRL Jabodetabek berikut stasiunnya adalah salah satu miniatur sosial yang paling orisinil dari masyarakat berbangsa Indonesia. Darinya potret sosial kemasyarakatan niscaya lebih tegas dan jelas dibandingkan dengan TMII misalnya. Bagaimana tidak, kalau TMII berusaha memotret sisi indah semata dari Keindonesiaan sementara KRL berikut stasiunnya menghidangkan realitas kehidupan masyarakat penghuninya. Sajian yang benar-benar lugas dan telanjang, apa adanya.
Jadi penasaran, adakah Indonesianis atau peneliti sungguhan formal yang sudah meneliti dengan menyempatkan diri membaur selama beberapa hari dari kereta pertama di pagi buta sampai kereta terakhir di malam hari. Kalau ada mau donk dibagi hasilnya. Tentu akan menarik.
lha wong, dalam sekali dua kali kesempatan naik KRL aja sudah banyak kejadian aneh bin ajaib yang bikin aku geleng-geleng kepala.
Kemarin pagi misalnya, dalam perjalanan dari sta Tanjung Barat ke Bogor di tengah jalan rel KRL tiba-tiba berhenti. aku yang lagi baca koran sempet bingung, bukan stasiun kenapa berhenti. kebingunganku teralihkan oleh suara gaduh di gerbong sebelah. Kegaduhan yang terjadi antara massa penumpang yang mau main hakim sendiri terhadap 3 penumpang “sakit” yang berusaha kabur setelah dengan seenaknya menarik tuas rem kereta. dua penumpang “sakit” berhasil melompat di sisi kiri dan satu sisanya melompat di sisi kanan. apa coba maksudnya? menarik tuas rem demi kepentingan segelintir orang dan berpotensi menimbulkan bencana bagi seluruh kru dan penumpang KRL sungguh hanya bisa dilakukan oleh orang “sakit”. orang bumisegoro bilangnya, “syaraf”, sambil menaruh satu jari telunjuk dimiringkan di dahi.
pagi tadi di sta pasar minggu juga ada orang yang tidak kalah “sakit”nya. seorang bapak stw dari etnis b mengacung-acungkan golok sambil ngomel-ngomel ke seseorang yang sedang duduk membaca koran di bangku lapak penjaja gorengan. karena ga ngikutin dari awal aku nanya ke tetangga sebelah. rupanya dia ga rela ditegur oleh bapak yang lagi baca koran tsb. “Padahal negurnya sih cukup sopan, ” kata tetangga.
oalah…. semprul … semprul. orang “sakit” kok pada berkeliaran bebas…
April 29, 2008 at 4:37 pm
ya iyalah..di TMII bayarnya mahal. Di KRL kita bisa mBludus plus nGGandul tanpa tiket.
Jadi ingat semboyan Men Sana in Cor Porisano
>>pengen belanja naiklah KRL<<
April 30, 2008 at 2:59 pm
lhah kok semboyan ‘men sana in corpore sano’ ini gimana nyambungnya? ini ‘kan orang tubuhnya (corpore-nya) sehat, tapi jiwanya (men)seperti sakit? ato dianggap penulis begitu? lha yg bisa berbuat banyak hal2 agak sakit di KRL ya orang yg tubuhnya sehat … he..he.. :D

wah, gak di kota, gak di desa; orang yg ’sakit’ itu tetap ada kok… :)
Mei 9, 2008 at 10:20 pm
Nggak cuma orang-orang itu yang sakit sepertinya. Bangsa ini khabarnya juga sedang sakit parah.