sudah lama ga makan kue ape tiba-tiba tadi pagi lihat abang-abang yang jualan di deket kolong dukuh atas. karena sambil lalu ke kantor jadinya agak buru-buru. beli yang ada aja tapi itu pun ga tahunya uang kecil di dompet terbatas. terpaksa nyodorin satu lembar 50an ribu. untuk ukuran sepagi itu sebetulnya kasihan buat si abang, tapi apa mau dikata. yang bersangkutan pun sempet bingung karena naga-naganya dia ga ada uang kembalian dan di tempat itu cuma dia seorang yang berjualan.

sempet bilang batal aja, ga jadi beli kalau ga ada kembalian karena aku juga ga ada receh. tapi melihat ekspresinya jadi ga tega dan coba dulu  berusaha cari-cari receh di tas, barangkali ada harta karun… dan ternyata oh ternyata emang ada pas seharga kue ape tadi dan lebih 100 ripis. ekspresi si abang berubah jadi semringah… kalau udah rejeki emang ga akan kemana ya bang… :-)

di kalangan pedagang kaki lima, penglaris (buka dasar) merupakan transaksi yang sakral dan akan dijaga suasananya. tidak heran jika untuk penglaris mereka rela ngasih harga khusus atau bonus…. yang penting deal, mereka ga rugi dan transaksi tetep berjalan lancar. kata sebagian pedagang yang pernah aku ajak ngobrol, penglaris jadi semacam cermin bagaimana transaksi yang akan mereka dapatkan di hari itu. jika transaksi awal sudah bermasalah, bawaannya hari itu akan bermasalah juga. sebagian malah punya ritual mengibas-ibaskan uang hasil transaksi penglaris ini ke barang dagangannya. dengan mengucap mantra laris, laris,laris. tentu saja jika uangnya kertas, kalau receh ya beda lagi caranya hehehe.

di luar validitas mitos tersebut, secara psikologis, transaksi awal ini emang jadi semacam mood setter bagi pedagang. mood bagus pada saat dapat penglaris akan coba dia pertahankan sampai dia pulang.

dalam konteks ini sebagai konsumen alih-alih aji mumpung, alangkah eloknya jika bisa membantu mereka, dengan melancarkan transaksi tersebut.

di kalangan yang lebih luas, penglaris muncul dalam istilah early bird.  kurang lebih nuansa batinnya juga sama…