September 2009


kemarin sore, sekitar pukul 17.45 di jl kayu manis condet ada sebuah mobil MPV (sejenis kijang) warna coklat muda yang nyerempet penulis yang sedang berjalan tepat di pinggir jalan aspal. batas antara jalan aspal dengan pinggiran got yg ditutup semen (blok) oleh pemilik rumah di situ. maklum, ini jalan lingkungan, bukan jalan raya. meskipun jalan lingkungan, lebar jalan ini cukup untuk 2 mobil MPV berpapasan.

kondisi jalan saat itu tidak ramai, dan mobil tidak sedang berpapasan dengan kendaraan lain. yang ada cuma motor di belakang mobil. jelas sekali mobil itu terlalu mengambil ke kiri dan tidak memperhitungkan spion dan pejalan kaki.

tanpa ba bi bu… tiba-tiba seperti ada yg menampar lengan kananku. rupanya spion mobil telah menghajar lenganku sampai spion itu menutup. tentu saja tidak nyaman kesampluk seperti itu. masih untung laju mobil tidak kencang.

sebelnya pengemudi tidak merasa bersalah apa-apa. tidak turun, sekedar menanyakan ga apa-apa kan? minta maaf atau apa. yg ada dia mengemudikan mobilnya seolah tidak terjadi apa-apa dan membetulkan spion mobil kira-kira 100 m dari TKP. tepatnya, persis di depan rumah penulis.

reaksiku saat itu, menunggu reaksi pengemudi. begitu ga ada gelagat berhenti langsung lihat-lihat sekeliling nyari batu. tapi segera aku urungkan melempar mobil itu krn ingat bahwa aku masih puasa dan tinggal sebentar lagi buka.

seandainya saat itu tidak puasa, niscaya sudah aku lempar mobil itu dengan batu. anarkis? emang, tapi itu perlu dilakukan untuk aksi tabrak lari seperti itu. apalagi aku jalan cuma 100an meter dari rumahku sendiri.

semoga pelaku atau keluarganya membaca postingan ini.

weekend kemarin aku berdiskusi dengan seorang petugas dari salah satu lembaga amil zakat (lengkapnya lembaga amil zakat, infak dan sedekah atau disingkat LAZIS tetapi daripada rancu dengan nama lembaga maka aku pilih istilah lembaga amil zakat aja). dalam kesempatan itu aku sampaikan kekhawatiranku bahwa antar lembaga amil zakat tidak ada sinergi. sinyalemenku ini muncul dari pengamatan bahwa antar lembaga amil zakat terjadi tumpang tindih (over lap) di satu sisi dan di sisi lain ada ruang yang tidak tersentuh (white space).

jika overlap terjadi karena sangat sedikitnya penerima zakat tentu saja merupakan berita gembira karena dapat diartikan kesejahteraan masyarakat sudah tinggi. tapi hal ini segera terbantahkan dengan berita kelaparan di beberapa daerah baik yang disampaikan oleh media massa maupun orang-per orang yang sering turun ke lapangan.

back to basic, setahuku fungsi zakat secara makro adalah untuk mendistribusikan harta agar tidak berputar-putar di segelintir kalangan. dengan fungsi seperti itu, maka menjadi ironis jika zakat yang jumlahnya belum banyak itu (karena kesadaran umat yang belum optimal) masih berputar-putar di sedikit kalangan. belum lagi potensi tumpang tindih yang tidak kalah parahnya dengan distribusi zakat secara langsung dari wajib zakat (muzakki).

bagi mereka yang menerima double atau triple tentu akan merasa beruntung, lantas bagaimana dengan mereka yang tidak tersentuh? padahal mereka sangat membutuhkannya.

dari diskusi dengan petugas tersebut, informasi yang kudapat bahwa sebetulnya forum organisasi zakat sudah ada tetapi belum berfungsi optimal.

masih menurut petugas tersebut, tidak dapat dinafikan bahwa ada semacam persaingan yang tidak sehat di antara sesama lembaga amil zakat. masing-masing ingin tampil heboh dan menjadi yang paling duluan menggulirkan suatu program populer.

alangkah eloknya jika ada sinergi antar lembaga amil zakat, mulai dari hulu (promosi, penggalangan dana) sampai hilir (penyusunan program alokasi zakat, distribusi zakat). di sektor hulu, sinergi bisa mengefisienkan dana promosi tetapi dengan hasil yang lebih efektif.  dengan sinergi di sektor hulu ini dapat dibuat program-program spektakuler sehingga bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada lembaga amil zakat baik secara keseluruhan maupun lembaga per lembaga. sehingga ujung-ujungnya dapat menghasilkan nilai yang lebih optimal dalam penggalangan dana (high value fund raising).

di sektor hulu, koordinasi juga akan meminimalkan tumpang tindih dan white space. katakanlah ada semacam konsensus kapling A (misalkan segmen orang jompo) siapa yang garap, kapling B (misalkan segmen anak usia sekolah) siapa dst. Program dari masing-masing lembaga juga bisa disinergikan sehingga harapannya ada pemberdayaan, tidak sekedar membagi. harapannya mereka yang menerima zakat tahun ini, hopefully tahun depan justru akan memberikan zakat. tidak stagnan jadi penerima zakat terus menerus, atau dengan kata lain berhasil dientaskan dari kemiskinan.

sinergi ini menjadi urgent mengingat sekarang ini dana yang terkumpul di lembaga amil zakat baru beberapa persen dari potensi yang sesungguhnya. dari dana yang masih terbatas ini kalau tidak dikelola dengan semestinya akan kurang berbunyi.

last but not least, bagaimanapun ini adalah dana umat yang harus dipertanggung jawabkan secara vertikal kepada Allah SWT dan secara horizontal kepada pihak yang seharusnya menerima zakat serta pihak yang telah menitipkan zakatnya.

semoga tulisan singkat ini dapat menjadi masukan yang tidak numpang lewat saja tetapi ada tindak lanjut secara nyata, demi perbaikan secara terus menerus.

sejak menjelang ramadan lalu aku sudah beberapa kali dihubungi orang dari lembaga penyalur ZIS (zakat, infak dan sedekah). rupanya mereka ga kalah proaktif dari petugas pajak :-) .

kalau petugas pajak modusnya mulai dari pasang iklan (di media, baliho, spanduk), insentif bebas fiskal bagi yang punya NPWP, kirim blanko NPWP ke wajib pajak, … sampai pembukaan gerai layanan di mal.

sedangkan penyalur ZIS karena pemainnya banyak jadi beragam strateginya. sangat fragmental, mulai dari pasang spanduk, iklan di kendaraan (pernah lihat iklannya di KRL), pasang iklan di media, inforial di media, pengiriman flyer ke rumah-rumah, facebook …. sampai kirim sms.

apakah fenomena ini berlaku umum seperti halnya petugas pajak atau hanya kasuistis menimpa aku dan sebagian teman lain?

karena target penyalur ZIS kurang lebih sama, apakah lantas di antara mereka ada “semacam” kompetisi?