Berdasarkan informasi yang penulis terima, saat ini ada program pemerintah yang bernama PNPM mandiri bidang pariwisata. Khusus untuk kecamatan Borobudur, tahun 2009 ini direncanakan ada 5 desa yang menjadi target pengembangan. Salah satunya adalah Bumisegoro. terima kasih buat pak Maladi yang sangat concern terhadap hal ini. Ada apresiasi khusus dari Pak Bakri dan timnya dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata atas antusiasme dan kerjasama yang ditunjukkan pak Maladi.
yang menjadi pertanyaan, apa konsep desa wisata yang akan dikembangkan?
selama ini ada 3 tipe desa wisata yang dikembangkan pemerintah. pertama desa tujuan wisata dimana desa wisata menjadi daya tarik yang dapat memikat dan menarik wisatawan (wisman, wisnus) untuk datang berkunjung. kedua, desa pendukung suatu obyek daya tarik wisata. ketiga, desa pendukung usaha pariwisata.
sejarah mencatat bahwa sejak candi borobudur didirikan bumisegoro adalah pendukung setianya. yang terjadi justru pengelola candi borobudur yang terkesan meninggalkan bumisegoro. konsep mandala yang dulunya menyatukan candi borobudur dengan lingkungannya diblok oleh pengelolanya secara fisik dengan pagar pembatas yang pintunya selalu tertutup. alhasil, bumisegoro sekarang ini dipantati oleh kompleks Taman Wisata Candi Borobudur. Dulu wilayah Jaten, Tobong, Dagi adalah jalur sutra bagi warga bumisegoro ke arah utara dan timur laut. Sekarang dengan pagar menjulang setinggi 2 meteran, warga bumisegoro harus ngalang (menempuh jalan memutar) melalui ngaran ngisor atau kujon. tidak heran jika banyak warga bumisegoro yang harus memanjat pagar untuk menuju kawasan candi atau sebagai jalan pintas menuju lokasi lain (ke pasar/terminal bus) misalnya.
terputusnya aksesibilitas ini menjadi cermin bagaimana orientasi pengembangan candi borobudur dalam perspektif warga bumisegoro. hal ini berpengaruh besar bagi perkembangan sosial dan ekonomi warga bumisegoro. Karena dipantati, dibelakangi dan ditinggalkan membawa dampak tidak menerima manfaat nyata secara signifikan dari keberadaan candi ini.
kembali ke topik desa wisata, menurut hemat penulis hal pertama yang harus dirubah adalah aksesibilitas antara candi borobudur dengan bumisegoro. pertama, pintu di wilayah Gebang (sisi barat daya candi, dekat kandang gajah) harus dibuka. apalagi secara historis titik ini pernah menjadi pintu masuk utama candi borobudur (periode awal 80-an). Selain masalah pintu dan konektivitas perlu dipikirkan juga sarana transportasi multimoda. alternatif yang kepikir adalah: gajah, andong/delman/kereta kuda, kereta mini, becak, dan kendaraan roda empat yang lazim (bus, mobil carteran, angkot).
yang kedua adalah mengembangkan atraksi wisata sebagai daya tarik bagi wisatawan untuk datang ke bumisegoro. untuk itu harus dipetakan potensi yang dimiliki bumisegoro dan sekitarnya…. yang penulis tahu antara lain kali sileng, industri kecil (pembuatan tahu di Gopalan, pembuatan cenderamata seperti ukiran bambu), aktivitas budaya (nyadran, yasinan, selapanan, krida siswa, dayakan, kuntulan, gatoloco, permainan anak-anak/dolanan bocah), pertanian (membajak sawah/ngluku/nggaru, menanam padi/palawija, panen dengan ani-ani plus ngiles sampai bawon, pengolahan daun tembakau), kuliner (apem, sego megono, lentho pethek, peyek belut dari daun singkong, gaya baru, bubur sayur, pergedel talas, jenang baning, jenang candil, jenang ketan, jajanan pasar dll). apa lagi ya? masing-masing daya tarik tersebut harus diplot ke dalam kalender kegiatan (calendar of event) tiap tahunnya yang diusahakan untuk selalu konsisten sehingga memudahkan dalam kegiatan promosi dan pemasaran.
dari potensi yang ada tersebut dapat dipilah mana yang bisa dilihat (sebagai obyek tontonan pasif), dirasakan (wisatawan bisa ikut terlibat di dalamnya) dan dibeli oleh wisatawan (cendera mata). pengembangan potensi ini dapat mentransformasi bumisegoro untuk menjadi desa wisata dengan titik berat pada pendukung obyek daya tarik wisata (candi borobudur), tetapi dapat juga menjadi daya tarik tambahan sehingga mengurangi beban yang dirasakan candi borobudur (intensity dan density dari pengunjung yang selama ini tumplek blek terutama pas peak season, misal lebaran). dengan demikian bumisegoro menjadi salah satu sabuk hijau (green belt) dan sabuk budaya bagi candi borobudur. pengembangan potensi juga dapat dilakukan melalui intensifikasi pertanian untuk mendukung hotel-hotel yang ada di sekitar candi dan usaha-usaha pariwisata lainnya.
yang ketiga adalah perlunya dibuat paket wisata yang berisi pola perjalanan wisatawan dimana wisatawan tidak cuma numpang lewat bumisegoro tetapi singgah dengan waktu yang cukup. misalkan paket A, naik gajah dari borobudur, bumisegoro baru ke tanjung sari, … sampai ke hotel Amanjiwo. paket B, dari borobudur naik kereta ke bumisegoro, gopalan, ngaran ngisor, kembali ke borobudur (lewat pintu sebelah manohara). paket C dari borobudur, bumisegoro ke kretek, bumen, bumisegoro, balik lagi ke borobudur dengan rute yang berbeda. paket D dari borobudur, bumisegoro, gunung bakal, maitan, kujon, dagi, borobudur. paket E dari borobudur, bumisegoro, tanjung sari, kalitengah, seganan, ngaran, borobudur. dan seterusnya…
paket tadi lebih berorientasi untuk kunjungan siang, padahal beberapa daya tarik lebih afdol kalau dinikmati malam. untuk itu homestay dapat dipertimbangkan untuk dibangun disamping kerjasama dengan losmen/hotel yang sudah ada. perlu ditekankan di sini model kerja samanya bersifat dua arah. disamping memfasilitasi akomodasi (penginapan dan makan)bagi wisatawan, pihak losmen/hotel juga harus memasarkan dan menjual desa wisata kepada wisatawan.
dukungan inilah yang paling dibutuhkan agar bumisegoro sebagai desa wiata dapat memberi manfaat nyata. dukungan lain tentu saja diperlukan, antara lain dalam bentuk bimbingan teknis, pelatihan dan dana.
