Borobudur


Ada informasi menarik yang disampaikan oleh “Golden Horde” dalam milis budaya_tionghoa terkait dengan peran Tan Jing Sin (KRT Secodiningrat, 1760-1831) dalam penemuan kembali candi borobudur. Yang bersangkutan pernah menjabat sebagai Kapiten Cina di Kedu, dan kemudian Yogyakarta. Uniknya, yang bersangkutan memiliki kedekatan dengan tiga golongan sekaligus (Cina, Jawa, Eropa). Tidak heran jika oleh sebagian kalangan dikatakan sebagai “Cino wurung, Jowo tanggung, Londo pun durung” atau dengan kata lain, Cina ya tidak lagi, Jawa ya tanggung, jadi Belanda pun belum. Bahkan identitasnya pun sering menimbulkan kerancuan antara China dan Jawa. (lagi…)

Pemberitaan tentang lima arca Museum Radya Pustaka yang disita Poltabes Solo di rumah Hashim di Kemang cukup menghebohkan. Berita itu makin menambah panjang “penjarahan” terhadap cagar budaya kita. Seperti yang disampaikan oleh Djulianto Susantio,

“Bisa dipastikan belum banyak orang tahu kalau Prasasti Watukura (bertarikh 902 hingga 1348) sejak lama bermukim di Denmark dan menjadi koleksi keturunan keluarga L Norgaard. Prasasti Wukayana (angka tarikhnya tidak ada) saat ini tersimpan di Museum Tropen, Prasasti Sangsang di Koninklijk Instituut voor de Tropen, Prasasti Guntur di Museum Maritim, dan Prasasti Tulangan di Museum voor Volkenkunde, semuanya di Belanda. (lagi…)

untuk memperkaya wawasan, nyambung dengan asal usul nama borobudur, berikut aku copy paste tulisan notok di blognya dengan sedikit editing redaksional agar lebih enak dibaca.

Beberapa Penafsiran Nama Borobudur
Para ahli menafsirkan nama Borobudur berdasarkan literatur-literatur yang ada, diantaranya dari:
1. Kitab Negara Kertagama
Naskah dari tahun 1365 Masehi yaitu kitab Negara Kertagama karangan Mpu Prapanca, menyebutkan kata “Budur” untuk sebuah bangunan Agama Budha dari aliran Wajardha. Kemungkinan yang ada nama “Budur” tersebut tidak lain adalah Candi Borobudur. (lagi…)

terus terang aku sendiri belum baca secara lengkap cerita bersambung yang dimuat di suara merdeka ini, tetapi melihat adanya catatan kaki (foot notes) yang menyertainya menandakan keseriusan penulisnya dalam penelusuran informasi.

Cerbung

25-08-2007

Karya Seno Gumira Ajidarma

NagaBumi (221)

NagaBumi (221)
 

Kitab 3: Kematian dan Kesempurnaan

54: S-a-s-t-i…

DENGAN ilmu meringankan tubuh yang mendekati sempurna, aku memang dapat bergerak melebihi kilat, dan dengan cara seperti itu maka gerakanku tidak dapat diikuti mata orang awam. Dengan begitu, selama aku bergerak dengan ilmu meringankan tubuh, tidak satu makhluk pun akan mampu melihat pergerakanku, kecuali jika ilmu meringankan tubuhnya pun mendekati sempurna. Namun jika aku tidak bergerak sama sekali, tentu saja siapa pun akan dapat melihat diriku. Apalagi ketika perhatianku terserap oleh gambaran kehidupan sehari-hari yang sedang dipahatkan pada dinding itu. (lagi…)

selama ini aku tahunya borobudur berasal dari bumi sambara budara. ternyata ….

berikut aku copy paste keterangan lebih lengkap dari budhist information network.

Nama aslinya “Dasabhumi Sambhara Budara” yang berarti “Bukit Sepuluh Tingkatan Kerohanian”, yang disingkat menjadi Sambhara Budara, lalu Bharabudara dan dengan logat Jawa menjadi Borobudur.

Borobudur menghadap ke arah Timur dan didirikan di atas bukit pada tahun 826, prasastinya dikeluarkan pada tahun 824. (lagi…)

tulisan menarik yang ditayangkan di milis mediacare. betapa global warming telah menjadi ancaman serius. tidak heran jika PBB mencanangkannya sebagai salah satu di antara 3 isu global utama bersama dengan global terrorism dan global aging.

Thursday September 6, 12:01 PM

MAGELANG, Indonesia (Reuters Life!) – Like any historical monument, Indonesia’s magnificent Borobudur temple in central Java has suffered the ravages of time.

But now conservationists fear the world’s biggest Buddhist temple, topped with stupas and decorated with hundreds of reliefs depicting Buddhist thought and the life of Buddha, faces a new threat: climate change. (lagi…)

Diambil dari Suara Merdeka online tanggal 12 Mei 2007.

Keberadaan Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah bukan mustahil di bekas kawasan danau purba karena di kedalaman sekitar 40 meter dari permukaan tanah di kawasan itu saat ini terdapat air asin.

“Bukan mustahil ada danau purba, tetapi kemungkinan besar jutaan tahun lalu, sebelum dibangun Candi Borobudur, bukan mustahil pula Borobudur dibangun di kawasan rawa,” kata Budayawan Borobudur Ariswara Sutomo di Magelang, Sabtu (12/5).

Peneliti geologis Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, Helmy Murwanto melakukan penelitian danau purba Borobudur sejak 1995 hingga saat ini. Danau purba Borobudur mulai hilang akibat endapan vulkanik dan letusan sejumlah gunung berapi purba seperti Sumbing, Merapi, dan Merbabu. Diperkirakan akhir abad ke-13 danau purba Borobudur itu hilang dan mengakibatkan banyak sungai purba mencari aliran ke tempat lain menuju Laut Selatan.

Ariswara menyebut temuan air asin berada di Desa Candirejo, Sigug dan Ngasinan di kawasan Candi Borobudur yang pada masa lalu diperkirakan sebagai bagian lautan. Pegunungan Menoreh yang berada di dekat Candi Borobudur dan berupa batu-batu karang kemungkinan sebagai karang laut pada zaman lampau. Batuan marmer di Selogriyo, Pegunungan Menoreh juga salah satu bukti bahwa pada zaman dahulu kawasan itu bagian dari lautan.

bumisegoro: benang merah dari ketiga desa tersebut adalah lokasinya di pinggir sungai. Candirejo dipinggir Kali Sileng dan Progo, Sigug di pinggir Kali rogo, dan Ngasinan di pinggir kali Tangsi. Keberadaan batu karang juga tercermin dari banyaknya nama desa dengan unsur karang, mulai dari Karang Bunder, Karang Tengah, Karang Nampan, Karang Rejo dst.

Ia menyatakan meragukan danau purba mulai hilang antara abad ke-10 hingga akhir abad ke-13. “Kemungkinan hilangnya danau purba jauh sebelum abad itu, sebelum Borobudur dibangun, Borobudur dibangun abad ke-8,” kata Ariswara yang juga penulis buku Temples of Java itu.

Sewaktu Candi Borobudur dibangun, katanya, di kawasan itu telah ada pemukiman penduduk. Pemakaman umum di beberapa desa di sekitar Borobudur ada yang berumur sebelum tahun 1300. Nisan makam kuno itu bukan dari batu melainkan dari kayu jati relatif tipis. “Di kampung-kampung sekitar sini, ada makam-makam tua dengan kayu jati tipis, artinya sudah jadi pemukiman, kalau masih danau purba maka belum ada pemukiman,” katanya.

Jika Candi Borobudur dibangun di sebuah bukit yang dikelilingi danau, katanya, kemungkinan mudah runtuh. Menurut dia, kemungkinan Candi Borobudur dibangun di atas bukit yang di sekelilingnya berupa rawa, bekas suatu danau purba. Hingga saat ini di sebelah selatan Candi Borobudur terdapat Desa Sabrang Rowo yang artinya menyeberangi rawa.

bumisegoro: sampai sekarang masyarakat menyebut daerah antara bumisegoro dan sabrangrowo, serta antara bumisegoro dan candi borobudur sebagai Ngrowo, persawahan yang lendoh (air mudah didapat).

“Orang yang akan menuju ke lokasi pembangunan candi harus menyeberangi sebuah rawa. Mereka adalah para pejabat atau pengawas pembangunan candi yang tinggal di Desa Bumi Segoro, kalau mau masuk ke desa itu ada Desa Gopalan, asal usulnya dari kata gupala (Patung Dwarapala) sebagai tanda pintu masuk ke sebuah rumah pejabat,” katanya.

bumisegoro: orang bumisegoro menganggap Gopalan sebagai gopelan (pecahan) dari bumisegoro. Luasan area dan kepadatan penduduk Gopalan tidak lebih dari 1 RT di bumisegoro. Di Gopalan juga tidak ada bangunan masjid, yang ada hanyalah mushola, sehingga aktivitas sholat Jumat warganya dilakukan di bumisegoro dan atau desa lainnya. entah kenapa secara administrasi tidak disatukan saja. buat warga Gopalan, piece, no offence ...

Keberadaan danau purba di Candi Borobudur, katanya, memang masih perlu diperdebatkan. Perdebatan secara ilmiah tentang danau purba itu akan semakin menjadi daya pikat kunjungan wisatawan ke Borobudur dan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan tentang Candi Borobudur, kata Ariswara.

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »