bumisegoro


wong ndeso yang agraris dan agamis ternyata juga kenal dg yg namanya mendem (mabuk). bedanya mereka bukan nenggak ekstasi, pil koplo, atawa miras tapi mabuk gadung atau mabuk kepayang.

kalo gadung jelas termasuk umbi-umbian. Biasa dimakan dengan cara dikukus (ditaburi parutan kelapa) dan dalam bentuk keripik. sementara kepayang (kluwek, pangi, picung, klutuk) diambil dari daging biji segede jengkol, hanya saja biji-biji kepayang ini adanya dalam buah yang bentuknya mirip bola yg dipakai orang amrik main football. makanya orang amrik menamainya football fruit. Ada sebagian orang kita yg menamainya klutuk karena dalam satu buah banyak bijinya. Ada cukup banyak variasi dalam menyantap kepayang. Orang sunda menyantap kepayang muda (picung) dengan cara dioseng, digoreng atau disambel.

pengolahan gadung dan picung yang tidak benar membuat orang yg mengkonsumsinya mabuk.

Nah, sekedar ngetes niy ya jack, apakah elo lagi mendem gadung apa tidak cobalah dengan menjawab pertanyaan berikut ini nih dengan singkat, padat dan jelas:

1. apakah mabuk picung dan gadung haram hukumnya?

2. semar mendem apakah bisa bikin mendem jugak?

:-)

atas ajakan temen di fs aku iseng mengunjungi “kota kecil”-nya. rupanya yang ia maksud adalah semacam simulasi online yang disediakan oleh myminicity.com. iseng-iseng hari ini juga aku bangun bumisegoro di situ.

kampung virtual bumisegoro

caranya sangat sederhana, tanpa perlu registrasi, ga perlu download dan yang paling penting nih, ga perlu bayar alias gratis. Cukup pilih negara dan bikin kota virtual yang ente pingin bangun. Terus penduduknya darimana? Pengunjung dari suatu kota virtual secara otomatis akan dihitung sebagai warga kota tersebut. Di situ juga ada papan meninggalkan pesan (shout box) yang bisa diisi.Seperti lazimnya simulasi kota (kayak SimCity), dengan bertambahnya populasi penduduk maka kota tersebut akan berkembang. penasaran? Coba klik aja di http://bumisegoro.myminicity.com

juga di http://borobudur.myminicity.com (belum nemu nih gimana caranya bikin candi borobudur di situ, hehehe).

warning:

penulis tidak bertanggung jawab jika ente jadi ketagihan main simulasi ini ;-)

Ada informasi menarik yang disampaikan oleh “Golden Horde” dalam milis budaya_tionghoa terkait dengan peran Tan Jing Sin (KRT Secodiningrat, 1760-1831) dalam penemuan kembali candi borobudur. Yang bersangkutan pernah menjabat sebagai Kapiten Cina di Kedu, dan kemudian Yogyakarta. Uniknya, yang bersangkutan memiliki kedekatan dengan tiga golongan sekaligus (Cina, Jawa, Eropa). Tidak heran jika oleh sebagian kalangan dikatakan sebagai “Cino wurung, Jowo tanggung, Londo pun durung” atau dengan kata lain, Cina ya tidak lagi, Jawa ya tanggung, jadi Belanda pun belum. Bahkan identitasnya pun sering menimbulkan kerancuan antara China dan Jawa. (more…)

selama ini aku tahunya borobudur berasal dari bumi sambara budara. ternyata ….

berikut aku copy paste keterangan lebih lengkap dari budhist information network.

Nama aslinya “Dasabhumi Sambhara Budara” yang berarti “Bukit Sepuluh Tingkatan Kerohanian”, yang disingkat menjadi Sambhara Budara, lalu Bharabudara dan dengan logat Jawa menjadi Borobudur.

Borobudur menghadap ke arah Timur dan didirikan di atas bukit pada tahun 826, prasastinya dikeluarkan pada tahun 824. (more…)

Di bumisegoro mudik terdiri atas beberapa arus. Arus besar tentu saja tentu saja terjadi dalam rangka menyongsong hari riyaya / lebaran / bada / idul fitri. Arus kedua terjadi pada bulan Syakban, di kalender Jawa disebut Ruwah, bulan terakhir sebelum Ramadhan. Pada bulan Ruwah ini milestone yang menjadi tradisi adalah Nyadran atau disebut juga Ruwahan mengikuti nama bulannya. Seperti yang dilakukan di daerah lain yang masih menjalankan tradisi ini, aktivitas utamanya berupa nyekar, berziarah ke kubur leluhur.

Yang membedakan Nyadran dengan ziarah pada umumnya adalah waktu pelaksanaannya yang telah ditentukan secara sepihak oleh pihak yang memiliki otoritas di daerah tersebut dan pelaksanannya yang kolektif. (more…)

 

Tujuh puluh tahun bukanlah waktu yang singkat, tetapi itu juga tidak cukup bagi H. Mustofa untuk menghapus kenangan pada apa yang dialaminya waktu itu. Zaenuri kecil (nama lahir, berganti nama menjadi Mustofa pada waktu menunaikan haji) merupakan satu di antara sedikit anggota keluarga yang selamat dari pagebluk yang menimpa Bumisegoro.

Pagebluk itu membuat suasana kampung menjadi sangat mencekam karena dalam satu hari bisa sampai beberapa orang meninggal dunia. Bahkan, pernah terjadi belum selesai jenazah dimakamkan sudah terdengar titir kematian (bunyi kentongan satu-satu secara ritmis sebagai pertanda datangnya rajapati) di tempat lain. Duka di atas duka, dengan segudang tanya ada apa gerangan? Siapa lagi yang akan mendapat giliran? Masihkah diri ini melihat hari esok?

(more…)

Diambil dari Suara Merdeka online tanggal 12 Mei 2007.

Keberadaan Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah bukan mustahil di bekas kawasan danau purba karena di kedalaman sekitar 40 meter dari permukaan tanah di kawasan itu saat ini terdapat air asin.

“Bukan mustahil ada danau purba, tetapi kemungkinan besar jutaan tahun lalu, sebelum dibangun Candi Borobudur, bukan mustahil pula Borobudur dibangun di kawasan rawa,” kata Budayawan Borobudur Ariswara Sutomo di Magelang, Sabtu (12/5).

Peneliti geologis Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, Helmy Murwanto melakukan penelitian danau purba Borobudur sejak 1995 hingga saat ini. Danau purba Borobudur mulai hilang akibat endapan vulkanik dan letusan sejumlah gunung berapi purba seperti Sumbing, Merapi, dan Merbabu. Diperkirakan akhir abad ke-13 danau purba Borobudur itu hilang dan mengakibatkan banyak sungai purba mencari aliran ke tempat lain menuju Laut Selatan.

Ariswara menyebut temuan air asin berada di Desa Candirejo, Sigug dan Ngasinan di kawasan Candi Borobudur yang pada masa lalu diperkirakan sebagai bagian lautan. Pegunungan Menoreh yang berada di dekat Candi Borobudur dan berupa batu-batu karang kemungkinan sebagai karang laut pada zaman lampau. Batuan marmer di Selogriyo, Pegunungan Menoreh juga salah satu bukti bahwa pada zaman dahulu kawasan itu bagian dari lautan.

bumisegoro: benang merah dari ketiga desa tersebut adalah lokasinya di pinggir sungai. Candirejo dipinggir Kali Sileng dan Progo, Sigug di pinggir Kali rogo, dan Ngasinan di pinggir kali Tangsi. Keberadaan batu karang juga tercermin dari banyaknya nama desa dengan unsur karang, mulai dari Karang Bunder, Karang Tengah, Karang Nampan, Karang Rejo dst.

Ia menyatakan meragukan danau purba mulai hilang antara abad ke-10 hingga akhir abad ke-13. “Kemungkinan hilangnya danau purba jauh sebelum abad itu, sebelum Borobudur dibangun, Borobudur dibangun abad ke-8,” kata Ariswara yang juga penulis buku Temples of Java itu.

Sewaktu Candi Borobudur dibangun, katanya, di kawasan itu telah ada pemukiman penduduk. Pemakaman umum di beberapa desa di sekitar Borobudur ada yang berumur sebelum tahun 1300. Nisan makam kuno itu bukan dari batu melainkan dari kayu jati relatif tipis. “Di kampung-kampung sekitar sini, ada makam-makam tua dengan kayu jati tipis, artinya sudah jadi pemukiman, kalau masih danau purba maka belum ada pemukiman,” katanya.

Jika Candi Borobudur dibangun di sebuah bukit yang dikelilingi danau, katanya, kemungkinan mudah runtuh. Menurut dia, kemungkinan Candi Borobudur dibangun di atas bukit yang di sekelilingnya berupa rawa, bekas suatu danau purba. Hingga saat ini di sebelah selatan Candi Borobudur terdapat Desa Sabrang Rowo yang artinya menyeberangi rawa.

bumisegoro: sampai sekarang masyarakat menyebut daerah antara bumisegoro dan sabrangrowo, serta antara bumisegoro dan candi borobudur sebagai Ngrowo, persawahan yang lendoh (air mudah didapat).

“Orang yang akan menuju ke lokasi pembangunan candi harus menyeberangi sebuah rawa. Mereka adalah para pejabat atau pengawas pembangunan candi yang tinggal di Desa Bumi Segoro, kalau mau masuk ke desa itu ada Desa Gopalan, asal usulnya dari kata gupala (Patung Dwarapala) sebagai tanda pintu masuk ke sebuah rumah pejabat,” katanya.

bumisegoro: orang bumisegoro menganggap Gopalan sebagai gopelan (pecahan) dari bumisegoro. Luasan area dan kepadatan penduduk Gopalan tidak lebih dari 1 RT di bumisegoro. Di Gopalan juga tidak ada bangunan masjid, yang ada hanyalah mushola, sehingga aktivitas sholat Jumat warganya dilakukan di bumisegoro dan atau desa lainnya. entah kenapa secara administrasi tidak disatukan saja. buat warga Gopalan, piece, no offence ...

Keberadaan danau purba di Candi Borobudur, katanya, memang masih perlu diperdebatkan. Perdebatan secara ilmiah tentang danau purba itu akan semakin menjadi daya pikat kunjungan wisatawan ke Borobudur dan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan tentang Candi Borobudur, kata Ariswara.