desa tematik


atas ajakan temen di fs aku iseng mengunjungi “kota kecil”-nya. rupanya yang ia maksud adalah semacam simulasi online yang disediakan oleh myminicity.com. iseng-iseng hari ini juga aku bangun bumisegoro di situ.

kampung virtual bumisegoro

caranya sangat sederhana, tanpa perlu registrasi, ga perlu download dan yang paling penting nih, ga perlu bayar alias gratis. Cukup pilih negara dan bikin kota virtual yang ente pingin bangun. Terus penduduknya darimana? Pengunjung dari suatu kota virtual secara otomatis akan dihitung sebagai warga kota tersebut. Di situ juga ada papan meninggalkan pesan (shout box) yang bisa diisi.Seperti lazimnya simulasi kota (kayak SimCity), dengan bertambahnya populasi penduduk maka kota tersebut akan berkembang. penasaran? Coba klik aja di http://bumisegoro.myminicity.com

juga di http://borobudur.myminicity.com (belum nemu nih gimana caranya bikin candi borobudur di situ, hehehe).

warning:

penulis tidak bertanggung jawab jika ente jadi ketagihan main simulasi ini ;-)

Koran Tempo, Kamis, 5 February 2004

http://www.korantempo.com/news/2004/2/5/Budaya/47.html
JAKARTA–Seorang pegawai negeri dari Kendal, Jawa Tengah, sejak kemarin sibuk di Habibie Center. Ia bukan ilmuwan, bukan aktivis lembaga itu, dan bukan pula calon anggota dewan legislatif meski Habibie Center sedang sibuk menjual kecap, mensosialisasi pemilu gaya baru Indonesia.

Pegawai negeri itu, Itos Boedy Santoso, sedang sibuk mengurusi pameran kartun. Bukan karena jabatannya sebagai kepala seksi pendidikan kesenian sehingga ia sibuk di pameran ini. Tapi, Itos adalah salah satu pendiri kelompok yang berpameran. Kelompok Kartunis Kaliwungu alias Kokkang.

Tidak dibutuhkan banyak alasan mengapa orang-orang Kaliwungu ini — sebuah kota kecamatan kecil, 20 kilometer dari Semarang — yang berpameran. Anggota Kokkang seperti “menguasai” dunia kartun Indonesia. Malah, di masyarakat kartun dunia pun mulai mengenal.

Kota kecil itu memang memproduksi begitu banyak kartunis, tidak proporsional jika diukur dari jumlah penduduk. Itos pun mungkin tidak pernah bermimpi bahkan kelompoknya menjadi begitu terkenal.

Padahal awalnya sederhana. Itos, yang kuliah di IKIP Negeri Semarang, bertemu dengan teman sekampung sekaligus se-almamater, Darminto M. Sudarmo. Darminto ini seniman “lengkap”. Ia menulis cerpen. Ia menulis esai sastra. Dan, yang terpenting, ia juga kartunis. Gambar lelucon.

Ketrampilan ini ia tularkan ke Itos. Kerja keras Itos rupanya membuahkan hasil. Salah satu karyanya dimuat di majalah psikologi Anda. Majalah yang sudah belasan tahun tidak terbit itu membuat Itos makin percaya diri.

Ia dan Darminto terus berkarya. Mereka, bersama Nurochim, pun mendirikan kelompok yang disebut Kelompok Kartunis Kaliwungu alias “Kokkang” pada 1981. Hingga, suatu ketika, mereka dan Jaya Suprana memiliki ide. “Mengapa tidak pameran di kota kecil,” kata Itos mengenang masa saat itu. Ini terobosan karena pameran kartun biasanya hanya dilakukan di kota besar seperti Semarang.

Selain membuat komposisi musik, menulis esai, atau membuat kartun, Jaya Suprana memang memiliki pekerjaan sampingan sebagai juragan Jamu Djago. Sebagai juragan salah satu pabrik jamu terbesar, dengan gampang ia menjadi sponsor utama pameran di Kaliwungu.

Maka, pada 1982, Itos dan Darminto mengadakan pameran di kampung halamannya. Kota kecamatan kecil Kaliwungu yang jaraknya sekitar 20 kilometer dari Semarang. Sesuai adat Orde Baru saat itu, mereka menggunakan slogan yang cukup “wah” sebagai tema yaitu “Dalam Rangka memasyarakatkan Kartun dan Mengkartunkan Masyarakat.”

Pameran ini sangat sukses. Tiba-tiba saja sekitar 40 hingga 50 remaja ikut bergabung dengan Kokkang. Pemuda kota kecil yang sebelumnya hanya terkenal karena santrinya itu, rupanya melihat menjadi kartunis cukup trendi. Apalagi, kata Itos mengingat reaksi masyarakat kotanya, “Cuma menggambar begitu kan mudah.”

Memang mudah kelihatannya. Mereka pun mengadakan pertemuan mingguan dan diberi latihan-latihan. Mulai saat itu, kartun yang semula tampak sepele gambarnya menjadi lebih serius. Itos mengajari para remaja itu soal teknis grafis. “Bagaimana cara menggambar, bagaimana perspektif yang benar,” katanya.

Di sini Hukum Darwin berlaku. Seleksi alam berlangsung. “Ada faktor talenta di sini,” kata Itos. Meski kepada para yuniornya ia selalu menekankan pentingnya kerja keras. Tanpa talenta pun, jika rajin berlatih, akan berhasil. “Talenta hanya 30 persen.”

Doktrin ini rupanya berhasil. Keajaiban muncul. Dari kota yang hanya seukuran Cibinong itu, muncul para kartunis yang kemudian merajalela di Indonesia. Hampir tidak ada media massa di Indonesia, yang menyediakan rubrik kartun, yang tidak pernah memuat tulisan “Kokkang” di samping nama pembuatnya.

Itos, dan rekan-rekannya dari Kokkang, juga memiliki prestasi lumayan. Tidak hanya di Indonesia, mereka rajin menjarah sejumlah pameran dan kompetisi kartun dunia. Tak heran Itos pernah meraih anugerah Citation and Honorable Award dari Jepang dan Honory Plaque dari Turki.

Rekannya, Muhammad Muslih, meraih Honorable Mention dari Korea Selatan dan Generale Bank Prize dari Belgia. Begitu pula dengan Asbahar Subhi, Tevi Hanafi, Joko Susilo, dan Zainal Abidin yang pernah meraih anugerah serupa dari Jepang, Korea, dan Turki. Ini memang target Kokkang. Setelah menguasai Indonesia, kata Itos, “Harus go international.”

Saat ini Kokkang memiliki 55 anggota kartunis aktif. Sebanyak 15 orang di antaranya telah hijrah ke Jakarta dan Surabaya, bekerja sebagai kartunis atau desainer media cetak.

Keluarga Itos misalnya. Mereka memiliki delapan anak. Semua anak laki-lakinya, empat orang, terjun menjadi kartunis. Selain Itos, dua orang menjadi kartunis sekaligus desainer halaman media cetak di Jakarta.

Seorang menjadi pedagang, meski tetap sesekali menggambar kartun. Dan Itos sendiri, menjadi pegawai negeri di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kendal, kabupaten yang membawahi Kaliwungu. Jabatannya, kepala seksi pendidikan kesenian. Ini jabatan lanjutan setelah ia memulai karir sebagai guru SMP setelah lulus kuliah pada 1981.

Tidak heran, sejak kemarin Itos libur dahulu dari pekerjaan utama sebagai pegawai negeri. Ia pergi ke Jakarta, menikmati pameran kartun di Habibie Center.

Dari banyak tangan, tidak hanya Itos, Pameran yang berlangsung 4-15 Feburari 2004 ini menampilkan puluhan karikatur tentang pemilu. Tema yang ditampilkan cukup beragam. Mulai ijazah palsu para caleg, jualan kecap nomor satu juru kampanye, repotnya memilih banyak partai, konvoi peserta pemilu, sampai uang haram untuk membiayai kampanye pemilihan.

“Pameran ini bisa menjadi pendidikan politik dan sosialisasi pemilu,” kata Muladi, bekas menteri kehakiman yang memimpin The Habibie Center, memberi komentar yang berbau politik.

Bagi Itos, barangkali, pameran kartun ini membuktikan bahwa ketrampilan kartun itu seperti virus flu burung. Bisa menulari seisi kota.

HelpMenyimak karikatur karya Kokkang bukan baru kali ini aku lakukan, tapi aku baru tahu kalau Kokkang itu ternyata bukan merujuk pada satu individu tetapi justru pada kelompok. Tahunya dari kepanjangan KOKKANG (Kelompok Kartunis Kaliwungu). komunitas kartunis yang konon tertua di Indonesia.

Rupanya di Kaliwungu (daerah di kendal) yang tidak jauh dari Semarang, tumbuh subur komunitas kartunis Kokkang. Beberapa karya dari para anggotanya sudah lama menghiasi koran lokal maupun nasional. Namun demikian, ini masih minim menghasilkan serial bergambar atau komik.

Menarik juga ada desa tematis semacam kampung kartunis ini. desa kecil mengusung prestasi hingga luar negeri. Lucu-lucu kali ya orang-orangnya :-).

No Comment

Memasuki Dusun Parakan, Desa Ngargogondo, Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tidak jauh berbeda dengan pedusunan lain di wilayah itu. Asri, bersih dan nampak tertata. Pohon rambutan, merupakan ciri khas desa di kaki Bukit Menoreh tersebut.

Dari Taman Wisata Candi Borobudur, Desa Ngargogondo berada 2,5 km ke arah tenggara, berbatasan dengan Desa Wisata Candirejo dan Desa Kriya Wanurejo. Dusun Parakan, cukup strategis untuk ikut menyambut kunjungan wisatawan asing. Desa ini, oleh Mendiknas Bambang Sudibjo, Ahad (28/1) lalu diresmikan sebagai Desa Bahasa pertama di Indonesia.

desa_bahas.jpg

Penobatan ini, merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk kembali mendongkrak citra wisata di Indonesia yang sedang terpuruk. Penobatan seperti ini, bukanlah yang pertama kali. Kelahiran Desa Bahasa ini memang menyusul lahirnya Desa Kriya dan Desa Wisata. Sebelum keduanya, terlebih dulu lahir Desa Buku.

Desa Buku, berada di lokasi wisata Taman Kyai Langgeng, Kota Magelang. Objek wisata ini lebih banyak dikunjungi wisatawan lokal. Di Desa Buku, tersedia sarana perpustakaan dan sesekali digelar pameran buku yang melibatkan beberapa penerbit. Semua itu, disediakan untuk menjadi magnet bagi para wisatawan sekaligus mendongkrak minat baca warga setempat. Namun, perkembangannya, desa itu tak kuat menopang predikatnya sebagai Desa Buku. Pada akhirnya, denyut warga di desa itu pun menjadi sama persis dengan desa-desa pada umumnya. Tak ada lagi yang istimewa.

Beberapa saat menjelang dinobatkannya Desa Bahasa kemudian lahir Desa Kriya dan Desa Wisata. Desa Kriya menjadi pusat pembuatan kerajinan khas Borobudur semisal topeng, topi, kaus, dan sejenisnya. Barang-barang kerajinan yang lahir di desa ini kemudian memang dipasarkan di kawasan wisata Candi Borobudur. Hingga kini, aktivitas produksi kerajinan di desa tersebut masih berjalan dengan baik.

Untuk memudahkan para wisatawan –umumnya wisatawan asing– yang ingin menginap di dekat Borobudur, di Desa Wisata kemudian disediakan tempat-tempat akomodasi. Di desa ini pula kerap dipertontonkan kesenian tradisional warga setempat untuk menarik minat wisatawan supaya tinggal lebih lama di desa tersebut.

Keberadaan desa-desa ‘berlabel khusus’ itu kemudian dilengkapi dengan lahirnya Desa Bahasa. Desa ini memiliki obsesi agar warganya menjadi sebuah komunitas yang mampu berkomunikasi dengan berbagai macam bahasa, seperti Inggris, Arab, Prancis, Jerman, Jepang, dan tentu Bahasa Kawi yang nyaris punah. Hal ini mengingat wisatawan yang berkunjung ke Borobudur memang berasal dari berbagai bangsa dengan bahasa yang berbeda-beda.

Keberadaan Desa Bahasa ini tidak bisa terlepas dari keberadaan International Community Village, sebuah tempat pembelajaran bahasa yang dirintis Hani Sutrisno, Pemuda Pelopor terbaik II tingkat Jawa Tengah bidang pendidikan. Komunitas yang dirintis sejak tahun 1998 tersebut, kini menjadi semacam laboratorium bahasa, terutama bagi masyarakat setempat. Baik anak-anak, remaja, maupun kalangan orang tua.

Pelatihan bahasa asing di desa ini, tidak hanya sebatas dilakukan untuk kalangan terpelajar, seperti anak-anak SD, SLTP, maupun SLTA, namun diupayakan untuk semua warga. Sehingga seluruh warga desa mampu berkomunikasi dengan wisatawan asing. Secara lebih jauh diharapkan, warga setempat mampu menjadikan bahasa asing sebagai bahasa sehari-hari.

Untuk meperoleh pelatihan bahasa di International Community Village yang kini menempati tiga rumah, yaitu rumah Toha, Lukman dan Muh Danun, memang tidak gratis. Peserta diminta kontribusi Rp 4.000 per bulan. Iuran itu bukan sebagai upaya komersialisasi pelatihan, melainkan untuk melengkapi sarana, terutama diktat.

Bagi anak-anak dan remaja, pelatihan diselenggarakan antara pukul 14.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. Sedangkan untuk kelas bapak-bapak dan ibu diselengarakan sejak pukul 20.00 WIB hingga selesai. Kegiatan pembelajaran bahasa ini, sepekan berlangsung enam hari, yaitu Selasa hinga Ahad. Waktunya dipilih malam hari karena di siang hari, bapak-bapak dan ibu-ibu di desa itu harus bekerja. Umumnya mereka adalah petani.

Agar benar-benar memiliki kemampuan berbahasa asing, setiap dua bulan sekali, para peserta diminta mempraktikkan kemampuan bahasanya di Candi Borobudur. ”Begitu ada turis datang, anak-anak maupun ibu-ibu di sini sudah bisa cas-cis-cus bicara bahasa Inggris,” kata Toha, salah satu penyelenggara pelatihan. Selain bahasa Inggris, pelatihan juga meliputi bahasa Jepang dan Bahasa Kawi. Ke depan, warga akan diperkaya dengan bahasa asing lain seperti Prancis, Jerman dan Bahasa Arab. Lalu bagaiamana mengahadapi bahaya budaya asing yang bakal ‘merobek’ budaya lokal jika impian mereka menarik wisatawan manca untuk tinggal di tempat itu terwujud? Toha mengatakan, sejak dini, mengingat warga desa mayoritas Muslim, baca tulis Alquran serta pelajaran agama menjadi garapannya.

Sumaryati, warga setempat mengakui pelatihan yang diikutinya bisa membantunya memahami bahasa asing, terutama bahasa Inggris. ”Sedikit-sedikit juga bisa ngomong bahasa Inggris,” tutur dia. Lebih jauh, dia berharap nantinya bisa benar-benar mampu memahami dan melayani wisatawan yang hadir ke desanya.

Di samping kemampuan berbahasa, warga Desa Bahasa juga mendapat pelatihan keterampilan hidup meliputi pemasaran, guiding, komputer, dan sebagainya. Cuma, untuk membuka Dusun Parakan dengan Desa Wisata Candirejo, perlu jembatan penghubung dan pengaspalan jalan yang panjangnya tidak lebih dari 350 meter. Sedangkan dengan Desa Kriya, juga hanya butuh pengaspalan jalan sekitar 200 meter.

Sebab dengan kondisi yang sekarang, kendati letaknya dikelilingi Desa Wisata dan Desa Kriya, Desa Bahasa nyaris terpisah. ”Kami memiliki obsesi membuat acara bersama antara ketiganya, sehingga kita bisa maju bersama, memang sarana jalan penghubung,” ujar Toha.

* Diambil dari artikel republika Kamis, 01 Februari 2007

** gambar diambil dari artikel barrie

Next Page »