kehidupan


mengadakan pesta pernikahan di kapal pesiar mungkin jadi impian di siang bolong bagi kebanyakan orang. Bagi yang pundi2 ripisnya ga sebanyak itu, mimpi itu bisa dibelokkan tempatnya ke moda transportasi yang “membumi” dengan harga cukup terjangkau. Yups, terkait terobosan menarik yang dilakukan PT Kereta Api Indonesia. spektakuler untuk ukuran BUMN. Sebagaimana dirilis koran Republika Senin, 02 Juni 2008. Di tengah ketatnya persaingan transportasi antar moda (kereta VS montor mabur, kereta VS travel, kereta VS bus) dan sulitnya nyari gedung pernikahan, ide ini sungguh cerdas. penasaran aja, siapa yang bakal jadi customer pertama. bisa masuk MURI nih…. :-)

Selamat Datang Gerbong Pengantin

Di tengah kemurungan bangsa ini akibat berbagai persoalan yang silih berganti datang melanda, masih ada beberapa kabar yang bisa membuat tersenyum. Salah satunya, program ‘gerbong pengantin’ yang segera diluncurkan PT Kereta Api (KA). Apa pula itu?

Terdengar agak menyimpang dari kelaziman, memang. Namun, mulai Juni 2008 ini, acara pernikahan tak hanya akan digelar di hotel, gedung serbaguna, tempat ibadah, kapal pesiar, atau di rumah-rumah, tapi juga di atas kereta api. Ada paket-paket yang disediakan.

Mulai proses ijab kabul, resepsi dengan pelaminan dan tamu-tamu, hingga malam pertama, akan berlangsung ditingkahi ‘gempa-gempa kecil’. Membayangkan goyangan sepanjang jalan itulah, di internal PT KA, muncul sebutan pelesetan untuk program itu: ‘kereta goyang’

Kepala Humas Daerah Operasional (Daop) I PT KA, Ahmad Sujadi, mengatakan gerbong pengantin terinspirasi dari penyelenggaraan dialog Seabad Kebangkitan Nasional di atas kereta, 17 Mei lalu. Kalau dipakai seminar bisa, tentu pernikahan pun bisa. ”Toh, tidak jauh beda.”

Tapi, tak sekadar menawarkan tempat baru, yang lebih ingin ditonjolkan justru nuansa serba kereta. ”Undangan pernikahan, suvenir, dan segala macamnya, serba kereta api,” kata Ahmad Sujadi. (lagi…)

KRL Jabodetabek berikut stasiunnya adalah salah satu miniatur sosial yang paling orisinil dari masyarakat berbangsa Indonesia. Darinya potret sosial kemasyarakatan niscaya lebih tegas dan jelas dibandingkan dengan TMII misalnya. Bagaimana tidak, kalau TMII berusaha memotret sisi indah semata dari Keindonesiaan sementara KRL berikut stasiunnya menghidangkan realitas kehidupan masyarakat penghuninya. Sajian yang benar-benar lugas dan telanjang, apa adanya.

Jadi penasaran, adakah Indonesianis atau peneliti sungguhan formal yang sudah meneliti dengan menyempatkan diri membaur selama beberapa hari dari kereta pertama di pagi buta sampai kereta terakhir di malam hari. Kalau ada mau donk dibagi hasilnya. Tentu akan menarik.

lha wong, dalam sekali dua kali kesempatan naik KRL aja sudah banyak kejadian aneh bin ajaib yang bikin aku geleng-geleng kepala.

Kemarin pagi misalnya, dalam perjalanan dari sta Tanjung Barat ke Bogor di tengah jalan rel KRL tiba-tiba berhenti. aku yang lagi baca koran sempet bingung, bukan stasiun kenapa berhenti. kebingunganku teralihkan oleh suara gaduh di gerbong sebelah. Kegaduhan yang terjadi antara massa penumpang yang mau main hakim sendiri terhadap 3 penumpang “sakit” yang berusaha kabur setelah dengan seenaknya menarik tuas rem kereta. dua  penumpang “sakit” berhasil melompat di sisi kiri dan satu sisanya melompat di sisi kanan. apa coba maksudnya? menarik tuas rem demi kepentingan segelintir orang dan berpotensi menimbulkan bencana bagi seluruh kru dan penumpang KRL sungguh hanya bisa dilakukan oleh orang “sakit”. orang bumisegoro bilangnya, “syaraf”, sambil menaruh satu jari telunjuk dimiringkan di dahi.

pagi tadi di sta pasar minggu juga ada orang yang tidak kalah “sakit”nya. seorang bapak stw  dari etnis b mengacung-acungkan golok sambil ngomel-ngomel ke seseorang yang sedang duduk membaca koran di bangku lapak penjaja gorengan. karena ga ngikutin dari awal aku nanya ke tetangga sebelah. rupanya dia ga rela ditegur oleh bapak yang lagi baca koran tsb. “Padahal negurnya sih cukup sopan, ” kata tetangga.

oalah…. semprul … semprul. orang “sakit” kok pada berkeliaran bebas…

beberapa tahun terakhir ini kenaikan harga barang kebutuhan publik sering banget menjadi berita heboh. Mulai dari kenaikan harga BBM, beras, minyak goreng, dan seterusnya. Yang terbaru adalah kedelai. meskipun demikian tingginya frekuensi kejadian ini tidak banyak mendatangkan pelajaran bagi kita. fenomena yang kurang lebih sama kita dapati dalam hal bencana. bedakan dengan jepang yang langganan gempa dan tsunami, kemudian belajar banyak dan menjadi ahli dalam bidang itu. Juga Belanda yang karena negaranya terpapar resiko tenggelam menjadi ahli dalam bidang teknik sipil yang terkait dengan air.

lha kita, bangsa tempe? bertahun-tahun berwacana tentang impor kedelai tetapi sampai sekarang masih bergantung pada impor kedelai. donkey? yang jelas donkey=keledai, tidak biasa makan kedelai ;-) . (lagi…)

Sampai menginjak remaja aku masih menyangka bahwa Mbah Bing adalah anggota keluarga Asmorejo (simbahku) karena ikatan darah. Sampai suatu hari ibuku bercerita bahwa Mbah Bing sebenarnya orang dari tetangga kampung yang ikut simbahku (ngenger), membantu apa yang dia bisa (rewang). Mulai dari urusan domestik (masak, nyuci, mengurus anak, ngerokin Mbah Putri dst) sampai menjemur gabah untuk keluarga simbahku. (lagi…)

Disclaimer:

aku ga tahu, ini aslinya tulisan siapa. yang jelas dapet dari temen, tapi yakin bukan dia penulisnya. bagi yang merasa menulisnya harap mengaku :-) karena tulisan ini sungguh menarik. Donal Bebek gitu loh…..

Sekedar catatan nyinyir dari admin, ada satu Untung yang dalam sejarah tercatat tidak beruntung: Letkol Untung yang dalam PSPB (Pelajaran Sejarah Perjuangan Bangsa) tercatat sebagai antagonis.

Rahasia si Untung

Kita semua pasti kenal tokoh si Untung di komik Donal Bebek. Berlawanan dengan Donal yang selalu sial. Si Untung ini dikisahkan untung terus. Ada saja keberuntungan yang selalu menghampiri tokoh bebek yang di Amerika bernama asli Gladstone ini. Betapa enaknya hidup si Untung. Pemalas, tidak pernah bekerja, tapi selalu lebih untung dari Donal. Jika Untung dan Donal berjalan bersama, yang tiba-tiba menemukan sekeping uang dijalan, pastilah itu si Untung. Jika Anda juga ingin selalu beruntung seperti si Untung, dont worry, ternyata beruntung itu ada ilmunya. (lagi…)

Menyambung tulisan Mas Muslih, menarik untuk menuliskan tentang profesi yang oleh Iwan Fals dipopulerkan lewat hitsnya Oemar Bakrie. Format mp3nya bisa didownload di sini.Sebetulnya profesi guru itu muncul dalam beragam bentuk mulai dari pengajar di playgroup, TK, SD, madrasah, SMP, SMU, perguruan tinggi, guru ngaji, ulama (ustadz), instruktur (aerobik, body language, fitness, senam, beladiri), trainer, dll yang terkait dengan kegiatan mengajar. Tetapi entah kenapa kata guru lebih identik terbatas pada pengajar di sekolah formal dari tingkatan pendidikan paling rendah sampai SMU. Di perguruan tinggi lebih populer dengan istilah dosen (master, profesor), suhu/sensei untuk sebagian beladiri, dst. (lagi…)

 

Berikut tulisan menarik sumbangan dari mas Muh. Muslih, seorang guru MA Ma’arif Borobudur yang aktif menulis di beberapa media massa, untuk blog bumisegoro.

MENULIS SEBAGAI PENAMBAH INCOME GURU

Oleh : Muh.Muslih

Profesi guru saat ini, utamanya di Indonesia, masih menempati urutan bawah dalam hal pendapatan. Menjadi guru merupakan salah satu profesi yang sangat didambakan hingga tahun 1950-an. Namun pada awal 60-an, profesi guru bukan lagi pilihan pertama. Peringkatnya telah digusur oleh profesi lain seperti dokter, ahli hukum atau teknisi. Bahkan para anak guru kalau ditanya kebanyakan tidak ingin berprofesi sebagai guru seperti orang tuanya. Mungkin benar hasil beberapa penelitian di banyak negara yang menyatakan : that teaching as an occupation for people with low commitment and willing to accept low salaries. ( H.R. Tilaar, 50 Tahun Pembangunan Pendidikan Nasional, Grassindo,1995 )

Bagi kaum guru pendapatan yang masih rendah itu perlu disiasati. Sebab sebagai seorang profesional, tentulah tak mungkin bagi seorang guru untuk berpindah haluan mencari pekerjaan yang bukan bidang keahliannya. Sangat ironis bila seorang tamatan sarjana pendidikan harus menjadi tukang batu atau pemulung sampah ( Nyata, Desember 2005 ). Itu karena sebagai guru GTT gajinya tidak cucuk dengan kebutuhan harian. Nah, saran yang paling pas, menurut saya adalah menulis sebagai penambah income seorang guru. (lagi…)

Halaman Berikutnya »