kelana


belum genap seminggu, aku sudah harus naik rakit 3 kali di 2 kota yang berbeda. yang terbaru tadi pagi, yang mengingatkanku pada pengalaman pertama naik rakit. herannya, pengalaman pertama tersebut didapat di daerah pegunungan dan lokasinya tidak berdekatan dengan sungai atau laut.

ceritanya sabtu kemarin jalan-jalan dari cikunir (Tasik, bukan Bekasi) menuju Karang Nunggal membonceng motor temen yang emang orang Cikunir. Perjalanan yang menyenangkan, apalagi siang itu tidak terik tapi juga tidak terlalu mendung dan paginya habis hujan gede. cuaca yang nyaman untuk menikmati indahnya pemandangan di jalur menuju pangandaran, cipatujah, dan pangandaran ini. sampai sindang reret* semuanya masih serba indah. (lagi…)

sungai ciliwung di sekitar condet dari jaman baheula sering dilewati getek/rakit. yang paling reguler adalah pedagang bambu yang menghanyutkan dagangannya dari atas (bogor, depok dan sekitarnya) ke arah kampung melayu. penduduk sekitar juga sering menyeberang dengan getek untuk keperluan sehari-hari, mulai dari beli sayur sampai sholat berjamaah di mushola.

tidak seperti biasanya, pagi ini penumpang getek lebih bervariasi. dari pedagang, ibu rumah tangga yang beli sayur di pasar minggu sampai pegawai kantoran. Lucu aja, ada beberapa karyawan swasta yang ngantor di gedung tertinggi di negeri ini berangkat kerja naik getek. apa pasal? rupanya jembatan gantung darurat yang menghubungkan kedua kawasan ini kemarin putus dihantam tumpukan sampah yang digelontorin air bah. putusnya jembatan darurat bukan baru kali ini saja, tetapi sebelumnya masih bisa disambung lagi (kayak orang pacaran aja ya). apalagi di lokasi kejadian banyak tenaga kerja yang sedang mengerjakan proyek jembatan gantung permanen. proyek pemda yang direalisasikan pasca pilkada, sebagai realisasi janji cagub saat itu. ternyata, kali ini kondisinya sudah tidak tertolong. walhasil, getek jadi solusinya, alternatif terbaik daripada kudu muter jauh. (lagi…)