Di suatu kampung hiduplah sebatang pohon pisang yang sangat istimewa. Daunnya tebal, teksturnya halus dan tidak mudah robek sehingga paling cocok dipakai sebagai pembungkus. Menginjak masa berbuah, jantung (begitu penduduk menamai bunga yang tumbuh di ujung tandan buahnya) sangat digemari karena rasanya paling enak. Dipanen muda, buahnya disukai orang untuk rujakan. Ditunggu sampai masak, penduduk berebut dengan Codot untuk menikmati buahnya yang sangat legit, rasanya sangat manis, dan baunya harum. Tidak heran jika ada sebagian penduduk yang memanfaatkannya sebagai bahan untuk membuat anggur.
Peribahasa habis manis sepah dibuang sama sekali tidak berlaku padanya. Karena begitu buahnya diambil, debok (plural: gedebok), lembaran-lembaran batang pohonnya dikelupas penduduk kemudian dikeringkan untuk dimanfaatkan sebagai tali. Tali dari batang pisang jenis ini dikenal yang paling kuat dibandingkan jenis pohon pisang lainnya. Hati dari batang pohon ini yang terbungkus rapi oleh debok juga dimanfaatkan sebagian penduduk untuk dimasak. Rasanya mak nyus. Belum lagi jika kita berbicara mengenai kandungan gizinya dan khasiatnya sebagai tanaman obat. Sungguh istimewa pohon pisang yang satu ini. Keistimewaannya sudah diakui oleh pohon-pohon pisang jenis lainnya. The best in class, top markotop.
Dari rasa bangga, keistimewaan ini berujung pada kesombongan. Sebagai efek sampingnya muncul rasa merendahkan martabat pohon pisang jenis lainnya. Tetapi apa mau dikata, pohon pisang jenis lain tidak bisa berbuat apa-apa selain dongkol dan mengutuk dalam hati, semoga nanti kena batunya!
Merasa tidak ada lawan, dia melakukan ekspansi dengan mencibir pohon lain. Target utamanya adalah pohon randu yang kebetulan tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri. Pohon randu ini sudah cukup tua, batangnya kira-kira satu dekapan laki-laki dewasa.
Mulailah dia ngenyek (mencibir) seenaknya.
Pisang: “Badan segede gitu, masak daunnya kecil-kecil. Udah gitu, ndak bisa dipakai apa-apa. Rontok, berguguran jadi larahan, sampah yang mengotori lingkungan”.
Randu: ”Siapa bilang mengotori, daunku bisa jadi kompos yang menyuburkan tanah tempat kita berpijak”.
Pisang: ”Hanya penduduk yang kurang kerjaan yang mengambil daunmu untuk kompos. Dunia kan tidak selebar daun kelor randu,” katanya meledek. memplesetkan peribahasa Dunia tidak selebar daun kelor secara asal.
Randu: ” Oke, daunku memang tidak sebermanfaat daunmu tapi lihatlah putihnya kapuk yang terurai dari buahku. Tidakkah kau lihat kampung ini jadi romantis oleh ’salju’ di tengah sepoi-sepoi angin dan teriknya matahari tropis? Mana ada musim salju di kampung ini kalau bukan dari terburainya kapukku diterbangkan angin?”
Pisang: ” Iya, mana ada musim salju berbintik-bintik hitam. Salju berkelir klenteng (red. nama biji randu, dibaca dengan ‘e’ pepet/lemah) namanya, hehehe… ”
Randu: ” Jangan salah. Kapukku sangat disukai orang untuk membuat kasur, bantal dan guling. Kapukku di udara membuat suasana romatis, apalagi sewaktu dibuat kasur, bantal dan guling
”
Pisang: ” Romantis pigimana? Mas kok ada yang ngganjel apa nih. Oh, banyak klenteng rupanya di kasur kita. Udah gitu, kok bagian yang paling sering ditiduri/diduduki jadi legok?” Makanya, penduduk lebih seneng makai kapas dan bulu angsa, begitu kesimpulan Pisang mengakhiri cibirannya sambil terus tertawa terpingkal-pingkal (kemplekeren).
Randu: ” Dasar, kelewatan. Aku sumpahin deh, biji-biji segede klentengku menghiasi buahmu. Biar tahu rasa.”
Sumpah serapah Randu ternyata dikabulkan oleh Yang Maha Mendengar dan kun fayakun, sejak saat itu penduduk terkaget-kaget ketika makan buah pisang tersebut. Kaget karena tidak menyangka terdengar bunyi kelutuk ketika mengunyah buahnya. Berhentilah mereka memakannya dan dengan penuh penasaran mengambilnya dari mulut, apa gerangan sumber bunyi kelutuk tadi. Ternyata oh ternyata, sumber bunyi itu berasal dari biji berbentuk bulat berwarna hitam segede biji klenteng. Maka mengumpatlah orang tersebut, “Sialan, pisang kelutuk!”
Pohon pisang lain yang mendengar sumpah serapah penduduk tersebut tanpa dikomando menjadikannya bahan gosip ke pohon-pohon lain di kampung itu. ”Pohon pisang sombong itu kena batunya!”.
Begitulah, akhirnya pohon pisang yang sombong tersebut dikenal dengan nama Pisang Kelutuk atau Pisang Batu.
* Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesesuaian nama dan tempat peristiwa, bukanlah suatu kesengajaan he he he