kuliner


wong ndeso yang agraris dan agamis ternyata juga kenal dg yg namanya mendem (mabuk). bedanya mereka bukan nenggak ekstasi, pil koplo, atawa miras tapi mabuk gadung atau mabuk kepayang.

kalo gadung jelas termasuk umbi-umbian. Biasa dimakan dengan cara dikukus (ditaburi parutan kelapa) dan dalam bentuk keripik. sementara kepayang (kluwek, pangi, picung, klutuk) diambil dari daging biji segede jengkol, hanya saja biji-biji kepayang ini adanya dalam buah yang bentuknya mirip bola yg dipakai orang amrik main football. makanya orang amrik menamainya football fruit. Ada sebagian orang kita yg menamainya klutuk karena dalam satu buah banyak bijinya. Ada cukup banyak variasi dalam menyantap kepayang. Orang sunda menyantap kepayang muda (picung) dengan cara dioseng, digoreng atau disambel.

pengolahan gadung dan picung yang tidak benar membuat orang yg mengkonsumsinya mabuk.

Nah, sekedar ngetes niy ya jack, apakah elo lagi mendem gadung apa tidak cobalah dengan menjawab pertanyaan berikut ini nih dengan singkat, padat dan jelas:

1. apakah mabuk picung dan gadung haram hukumnya?

2. semar mendem apakah bisa bikin mendem jugak?

:-)

Selama ini yang kutahu kata ba’ dalam banyak makanan dengan awalan ba’ (bakso, bakmi, bakwan, bakpia, bakpao, bacang) berarti makanan tersebut aslinya mengandung babi (orang sering memberi kode B1 untuk daging babi, B2 untuk daging anjing). hanya saja karena di indonesia mayoritas muslim, maka umumnya mengalami penyesuaian sehingga namanya tetap sama tetapi kandungan babinya dihilangkan.

hanya saja, validitas informasi ini menjadi goyah ketika membaca pendapat Joseph Kho di situs ini. berikut aku copy paste informasinya, dengan sedikit perbaikan dalam redaksional tanpa merubah esensi, biar lebih enak dibacanya.

mau koreksi dikit…
ba¡¯ atau bak itu artinya bukan babi loh…
ini memang salah kaprah dari sejak dulu..
(lagi…)

Cahkwe (Hanzi: 油條, hanyu pinyin: you tiao, chinese long bread) adalah makanan asal Tiongkok yang dibuat dari tepung trigu, ragi, soda, ammonium bicarbonat dan garam. Adonan kalau sudah “mekar” dibuat seperti tongkat yang panjangnya kira kira 15-20 cm, lalu dua tongkat dilekatkan menjadi satu. Kalau digoreng panjangnya menjadi kira kira 25 cm dan berwarna coklat.

Salah satu varian dari cahkwe adalah odading (kue bantal karena bentuknya mirip bantal ukuran mini) yang banyak dijual di daerah jawa barat sampai jakarta. Bedanya kalau cahkwe berasa gurih, odading manis. kalau di jawa tengah namanya kue bolang baling. orang bule bilangnya Chinese Doughnut. (lagi…)

tahu donk pempek palembang? salah satu yang cukup beken adalah pempek pak raden. merek yang tidak bisa dilepaskan dari karakter tokoh dalam film cerita si unyil. unyil sendiri beken dipakai untuk kategori roti mini (roti unyil yang cukup ngetop di daerah Sukasari Bogor).

puasa-puasa begini rasanya kemecer kalau ngomongin lezatnya makanan. nah, di bawah ini ada tulisan tentang sejarah pempek yang aku copy paste dari situs ini yang juga secara cukup detail mengurai kandungan gizi pempek. karena alasan puasa tadi, di sini cuma aku copy bagian sejarahnya saja. (lagi…)

Dari okezone Selasa, 31/07/2007 22:01 WIB

Cetak E-mail

JAKARTA – Penyakit yang menyerang warga Magelang kemungkinan besar karena bakteri pseudomonas cocovenenans. Bakteri ini diketahui hidup di tempe gembus yang dimakan para korban.

“Mereka makan tempe gembus yang dijual orang lewat. Yang kena banyak perempuan karena perempuan lebih banyak yang tinggal di rumah. Laki-lakinya bekerja di luar,” jelas Menteri kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari di Jakarta, Selasa (31/7/2007).

Hal ini menjadi faktor kuat penyebab 31 orang korban di Magelang. Yakni 21 orang perempuan 10 laki-laki. Sedangkan korban meninggal berjumlah 10 orang, yakni 9 perempuan dan satu laki-laki. (lagi…)

Di suatu kampung hiduplah sebatang pohon pisang yang sangat istimewa. Daunnya tebal, teksturnya halus dan tidak mudah robek sehingga paling cocok dipakai sebagai pembungkus. Menginjak masa berbuah, jantung (begitu penduduk menamai bunga yang tumbuh di ujung tandan buahnya) sangat digemari karena rasanya paling enak. Dipanen muda, buahnya disukai orang untuk rujakan. Ditunggu sampai masak, penduduk berebut dengan Codot untuk menikmati buahnya yang sangat legit, rasanya sangat manis, dan baunya harum. Tidak heran jika ada sebagian penduduk yang memanfaatkannya sebagai bahan untuk membuat anggur.

Peribahasa habis manis sepah dibuang sama sekali tidak berlaku padanya. Karena begitu buahnya diambil, debok (plural: gedebok), lembaran-lembaran batang pohonnya dikelupas penduduk kemudian dikeringkan untuk dimanfaatkan sebagai tali. Tali dari batang pisang jenis ini dikenal yang paling kuat dibandingkan jenis pohon pisang lainnya. Hati dari batang pohon ini yang terbungkus rapi oleh debok juga dimanfaatkan sebagian penduduk untuk dimasak. Rasanya mak nyus. Belum lagi jika kita berbicara mengenai kandungan gizinya dan khasiatnya sebagai tanaman obat. Sungguh istimewa pohon pisang yang satu ini. Keistimewaannya sudah diakui oleh pohon-pohon pisang jenis lainnya. The best in class, top markotop.

Dari rasa bangga, keistimewaan ini berujung pada kesombongan. Sebagai efek sampingnya muncul rasa merendahkan martabat pohon pisang jenis lainnya. Tetapi apa mau dikata, pohon pisang jenis lain tidak bisa berbuat apa-apa selain dongkol dan mengutuk dalam hati, semoga nanti kena batunya!

Merasa tidak ada lawan, dia melakukan ekspansi dengan mencibir pohon lain. Target utamanya adalah pohon randu yang kebetulan tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri. Pohon randu ini sudah cukup tua, batangnya kira-kira satu dekapan laki-laki dewasa.

Mulailah dia ngenyek (mencibir) seenaknya.

Pisang: “Badan segede gitu, masak daunnya kecil-kecil. Udah gitu, ndak bisa dipakai apa-apa. Rontok, berguguran jadi larahan, sampah yang mengotori lingkungan”.

Randu: ”Siapa bilang mengotori, daunku bisa jadi kompos yang menyuburkan tanah tempat kita berpijak”.

Pisang: ”Hanya penduduk yang kurang kerjaan yang mengambil daunmu untuk kompos. Dunia kan tidak selebar daun kelor randu,” katanya meledek. memplesetkan peribahasa Dunia tidak selebar daun kelor secara asal.

Randu: ” Oke, daunku memang tidak sebermanfaat daunmu tapi lihatlah putihnya kapuk yang terurai dari buahku. Tidakkah kau lihat kampung ini jadi romantis oleh ’salju’ di tengah sepoi-sepoi angin dan teriknya matahari tropis? Mana ada musim salju di kampung ini kalau bukan dari terburainya kapukku diterbangkan angin?”

Pisang: ” Iya, mana ada musim salju berbintik-bintik hitam. Salju berkelir klenteng (red. nama biji randu, dibaca dengan ‘e’ pepet/lemah) namanya, hehehe… ”

Randu: ” Jangan salah. Kapukku sangat disukai orang untuk membuat kasur, bantal dan guling. Kapukku di udara membuat suasana romatis, apalagi sewaktu dibuat kasur, bantal dan guling :P

Pisang: ” Romantis pigimana? Mas kok ada yang ngganjel apa nih. Oh, banyak klenteng rupanya di kasur kita. Udah gitu, kok bagian yang paling sering ditiduri/diduduki jadi legok?” Makanya, penduduk lebih seneng makai kapas dan bulu angsa, begitu kesimpulan Pisang mengakhiri cibirannya sambil terus tertawa terpingkal-pingkal (kemplekeren).

Randu: ” Dasar, kelewatan. Aku sumpahin deh, biji-biji segede klentengku menghiasi buahmu. Biar tahu rasa.”

Sumpah serapah Randu ternyata dikabulkan oleh Yang Maha Mendengar dan kun fayakun, sejak saat itu penduduk terkaget-kaget ketika makan buah pisang tersebut. Kaget karena tidak menyangka terdengar bunyi kelutuk ketika mengunyah buahnya. Berhentilah mereka memakannya dan dengan penuh penasaran mengambilnya dari mulut, apa gerangan sumber bunyi kelutuk tadi. Ternyata oh ternyata, sumber bunyi itu berasal dari biji berbentuk bulat berwarna hitam segede biji klenteng. Maka mengumpatlah orang tersebut, “Sialan, pisang kelutuk!”

Pohon pisang lain yang mendengar sumpah serapah penduduk tersebut tanpa dikomando menjadikannya bahan gosip ke pohon-pohon lain di kampung itu. ”Pohon pisang sombong itu kena batunya!”.

Begitulah, akhirnya pohon pisang yang sombong tersebut dikenal dengan nama Pisang Kelutuk atau Pisang Batu.

* Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesesuaian nama dan tempat peristiwa, bukanlah suatu kesengajaan he he he

Zat lilin yang melapisinya, membuat daun pisang dapat menampung hidangan berkuah kental. Daun pisang pun memberi aroma sedap pada masakan jika kita menuangkan makanan panas di atasnya. Cara membuatnya praktis, hanya bermodalkan daun pisang dan biting (lidi yang diruncingkan). biting merupakan simbol ketajaman pikir dari yang punya hajat, dimaksudkan agar yang empunya hajatan bila mau mengerjakan segala sesuatu harus dipikirkan baik-baik.

Empat wadah model lipatan dari daun pisang yang paling populer di Bumisegoro adalah:

pincuk-tum-takir-sudi

  • Pincuk

‘piring’ saji tradisional berbentuk segiempat dengan tiga sisi, yang biasanya dilengkapi dengan suru yaitu sendok dari daun pisang dengan lebar sekitar 2,5 cm dilipat menjadi dua. Bila hendak digunakan untuk mengambil makanan di bagian tengah agak dilekukkan dengan jari telunjuk. suru biasanya dibuat sendiri oleh si penyantap makanan dengan menyobek sedikit bagian pinggir pincuknya.

Pincuk masih banyak digunakan di berbagai daerah di Jawa, dan bahkan di Jakarta, terutama oleh para pedagang pecel.

  • Tum

‘piring’ saji tradisional yang dibuat dengan cara menangkupkan ujung-ujung dari daun pisang dan “dikunci” dengan biting. Pincuk lebih ditujukan untuk ngiras (makan di tempat, dine in), sehingga ‘atmosfirnya’ terbuka, siap santap. Sedangkan tum lebih fleksibel, termasuk di dalamnya delivery atau walk through. Di Bumisegoro tum banyak dipakai untuk membungkus bubur lengkap dengan sayur dan kuahnya, pelas, tape ketan, dan meniran.

  • Takir

Wadah berbentuk “bak”, kotak yang terbuka bagian atasnya.

Di Bumisegoro banyak dipakai untuk wadah lauk pauk berkuah kental pada berkatan (kenduri). Takir juga sering dipakai sebagai wadah untuk bubur merah – bubur putih.

  • Sudi

Wadah bentuk bundar dengan ‘tonjolan’ di tengahnya.

Di Bumisegoro, dipakai sebagai wadah kue atau lauk kering dan pemakaiannya bisa bersifat menggantikan (substitusi) atau saling melengkapi (komplementer) dengan takir. Kompetitornya adalah sudi dari kertas.

catatan. gambar diambil dari:

http://ncc.blogsome.com/2006/05/29/pat-pat-gulipat-lipat-daung-pisangnya/

Ada riset menarik tentang KEMASAN SEBELUM KERTAS DAN PLASTIK oleh Setiawan Saban yang dimuat di Jurnal Seni Rupa dan Desain Volume 1,1, Agustus 2000a. Jika tertarik bisa menyimaknya di sini.

Riset Kemasan Sebelum Kertas dan Plastik

Halaman Berikutnya »