entah kenapa minyak goreng yang sekarang harganya sedang muahal dinamakan lengo klentik, bukannya lengo goreng. tapi biarlah rasa penasaran ini tetap ada sampai saatnya nanti ketemu jawaban yang pas.
toh masih ada penasaran lain terkait dengan komoditas sembako (sembilan bahan kebutuhan pokok) yang satu ini. sejauh yang kutahu, di daerah jawa populasi pohon kelapa jauh lebih banyak dari kelapa sawit. kultur pertanian di jawa juga lebih mengenal pohon kelapa yang multifungsi, salah satunya untuk bahan membuat lengo klentik. entah mengapa, lengo klentik sekarang ini dipandang inferior, dekat dengan kesan kismin miskin. meski dalam kemasan lain (VCO) menjadi primadona kembang agribisnis. paradoks ga sih?
Proses pembuatan lengo klentik dari kelapa sebetulnya cukup sederhana. Dulu, ibuku kadang membuatnya sendiri secara tradisional (dikenal dengan cara basah tradisional). Kelapa diparut dan diambil santannya kemudian dipanaskan hingga airnya menguap dan tinggal padatan yang menggumpal. Gumpalan padatan ini disebut blendo. Minyak dipisahkan dari blendo dengan cara penyaringan. Blendo masih banyak mengandung minyak sehingga masih bisa diambil minyaknya dengan cara diperas. beberapa macam teknik pembuatan minyak kelapa (Cara Basah Tradisional, Cara Basah Sentrifugasi, Cara Basah Fermentasi/Tanpa Menggunakan Api) dapat dilihat di sini, sedangkan teknik pancingan di sini.
* teknik pembuatan minyak kelapa tidak diajarkan di jurusan teknik perminyakan (fakultas teknik) , penasaran aja emang diajarkan ya di jurusan teknik nuklir???, plz cek link pertama*
Blendo sebagai residu (ampas) pembuatan lengo klentik memiliki rasa yang manis dan baunya harum. Perpaduan yang ces pleng sebagai teman makan getuk hangat
Lengo klentik sebagai produk akhir sudah jelas penggunaannya, buat goreng-goreng, nyayur, atau pelicin (kerokan boleh, minyak rambut juga boleh!). kebayang ga sih kalo minyak rambutnya dari jlantah (minyak goreng bekas pakai) ikan asin.
