Pule (Alstonia Scholaris) dikenal dengan banyak sebutan: pulai (sumatera), lame (Sunda), polay (madura), hanjalutung (Kalimantan), kaliti, reareangou,; bariangow, rariangow, wariangow, mariangan, deadeangow, kita (Minahasa), rite (Ambon), tewer (Banda), Aliag (Irian), hange (Ternate), kayu gabus, Chatian;saitan-ka-jhad; saptaparna (India, Pakistan), Co tin pat; phayasattaban (Thailand), Australian quinine bark tree, bitter-bark tree, blackboard tree, chatiyan wood, Devil tree, dita bark tree, Milkwood tree, Milky Pine, white cheesewood tree, shajaratah fi asya al-harrah, Daivappala, dll.
Banyaknya nama dibarengi dengan banyaknya manfaat dari pohon ini, yang antara lain sebagai:
1. obat herbal untuk beragam penyakit
2. bahan baku furniture
3. bahan baku kerajinan (golek, patung, tatakan gelas, piring kayu, mainan, dll)
4. bahan baku pensil
5. bahan baku pulp dan kertas
6. bahan baku batang korek api
7. bahan baku papan tulis
8. bahan baku dalam pembuatan salon, sub woofer dll
9. tanaman perintis untuk lahan kritis
10. bahan baku pembuatan kotak kemasan (box)
11. kayu bakar (sudah pasti)
Segudang manfaat yang dapat dipetik dari pule mempercepat spesies ini mencapai kelangkaan. masyarakat lebih rajin menebang pohon ini daripada menabung. penebangan (liar maupun resmi) yang tidak diimbangi dengan penanamannya. Mau enaknya saja.
Untung saja, belakangan ini mulai tumbuh kesadaran di kalangan sebagian orang bijak di negeri ini untuk menanam pohon pule. entah karena dipicu oleh isu global warming maupun kesadaran berinvestasi untuk masa depan yang lebih baik.
isu kelangkaan pule mendorong lahirnya blog http://pule3.wordpress.com untuk memperkenalkan kembali pohon multifungsi ini sekaligus memfasilitasi penyediaan bibitnya.
![]() |
gambar diambil dari situs ini.![]()
