Dari Suara Merdeka 24 Juli 2007
Fenomena aneh terjadi di Dusun Beran, Desa Kanigoro, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, petang kemarin. Lima orang tewas belum diketahui penyebabnya, begitu juga dengan tiga korban yang dirawat di RSU Muntilan dan 12 lainnya di Puskesmas Grabag. Semua korban mengalami gejala yang hampir sama, pusing, mual, muntah-muntah dan kejang-kejang. Berikut laporannya.DUSUN BERAN yang berada di sebelah barat Gunung Ngandong itu, kemarin hujan air mata. Warga bergerombol di beberapa rumah duka dan suasana terlihat mencekam. Desa yang biasanya sepi itu mendadak gempar karena kabar pagebluk.
Suasana mencekam itu sudah terasa sejak siang menjelang sore kemarin ketika belasan orang tiba-tiba kejang-kejang dan muntah-muntah dalam waktu yang bersamaan. Ridwan (7) yang baru saja bermain di halaman rumahnya tiba-tiba kejang-kejang, warga berbondong-bondong menolongnya. Tak jauh dari tempat itu Aslamiyah (35) juga mengalami hal yang sama. Hampir semua warga pontang-panting menolong korban yang jumlahnya belasan itu. Jerit dan tangis menyelimuti desa itu, dan akhirnya semua korban dibawa ke Puskesmas dengan angkutan desa dan ambulans dari petugas kesehatan setempat.
Dalam kejadian itu akhirnya lima orang meninggal,. Mereka adalah Samudi (60), Musi (28), Parsih (65), ketiganya meninggal di rumah dan langsung dimakamkan Minggu (22/7) petang. Mereka sebelumnya mengalami gejala muntah-muntah dan mual-mual. Sedangkan Aslamiyah (35) yang baru hamil tujuh bulan meninggal saat dirawat di Puskesmas dan Siti Rohmah (26) meninggal dirawat RSU Muntilan, kemarin petang. Korban yang masih dirawat di RSU Muntilan masih tiga orang, yakni Jariyam (50), Saruni (35) dan Ngatemi (40).
Korban yang dirawat di Puskesmas Grabag, Windarti (28), Siti Komsatun (19), Komedi (50), Maryati (40), Walidi (13), Surami (37), Masuri (30), Muji (60), Batok (40), Napsiah (45), Ridwan (7), Samsukah (60) dan Sukini (50).
Sampai kemarin tim medis dari UPT Puskesmas Grabag dan Dinas Kesehatan setempat masih melakukan penyelidikan kasus tersebut dan belum mengetahui penyebabnya. Menurut Kepala UPT Puskesmas Grabag, dokter M Syukri, sebelum ada hasil dari tes laboratorium pihaknya belum bisa memublikasikan penyebabnya. Dia juga mengelak jika kasus itu adalah keracunan, hanya saja gejalanya serupa dengan keracunan. “Setelah petugas kami mengadakan pendataan tak ditemukan adanya sisa makanan yang bisa menyebabkan keracunan. Selain itu di sana juga tak ada hajatan atau pesta lainnya,”katanya.
Dikatakan, korban yang dirawat di tempatnya mengalami gejala yang hampir sama, mual-mual, pusing, muntah-muntah dan kejang-kejang. Pasien yang sudah kritis dan koma langsung dirujuk ke RSU Muntilan. Siti Rohmah dan Aslamiyah kondisinya sangat kritis dan akhirnya meninggal dunia.
“Kami sudah mengupayakan untuk menggerakkan semua tim medis untuk menyelamatkan korban. Mereka yang di sini dirawat dalam satu ruangan agar bisa ditangani secara intensif oleh tim ahli,”katanya.
Menurutnya, kondisi kulit korban masih baik dan tak bengkak atau mengelupas, tapi mereka lemas dan tak sadarkan diri. Untuk memastikan penyebab kejadian itu, pihaknya sudah mengambil sampel urine dan darah untuk dikirim dan diteliti di laboratorium.
Pagebluk
Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) setempat, Ashuri, mengatakan kejadian itu mirip dengan pagebluk (wabah penyakit yang menyerang secara massal) dan baru pertama kali terjadi di desanya. Tapi anehnya tak ada tanda-tanda dan penyebab kejadiannya. Hampir bersamaan warganya tiba-tiba diserang penyakit dengan gejala muntah-muntah dan kejang-kejang.
Dikatakan, pola hidup warganya masih menggunakan sendang dan kali untuk mandi, cuci dan kakus. Jika terserang muntaber karena pola hidup seperti itu harusnya semua warganya terkena, termasuk dusun yang berada di bawahnya, tapi nyatanya hanya sedikit warganya yang kena.
“Jika itu muntaber, Dusun Pete yang berada di bawahnya dusun kami secara logika kemungkinan akan terkena penyakit itu jika penularannya melalui air kali. Nyatanya dusun bawah aman dan hanya dusun kami yang terserang penyakit semacam itu,”katanya.
Surame (34), salah seorang warga yang anaknya menjadi korban, mengatakan anaknya mengalami mual-mual mulai dini hari kemarin. Pada siang harinya kondisinya makin kritis dan lemas. Dia mengaku makanan yang disantap anaknya juga sama yang dimakan anggota keluarga lainnya, dengan menu seperti biasa nasi dan lauk tempe.
“Kalau diakibatkan karena keracunan makanan, seharusnya semua anggota keluarga juga terkena penyakit itu. Jadi mungkin saja bukan karena makanan,” katanya.
Maryati (40) salah seorang korban yang kondisinya agak membaik dirawat di Puskesmas Grabag menceritakan, gejalan mual-mual itu dialami pada dini hari kemarin. Pagi harinya kepalanya pusing dan lemas dan pada siang harinya sempat tak sadarkan diri.
“Saya sendiri juga tak tahu. Tiba-tiba tubuh saya gemetar dan lemas,” katanya.(Solahudin-41)