seni budaya


Setelah membaca liputan6 baru tahu bahwa ternyata cinderamata relief (candi) itu terbagi setidaknya menjadi dua. Yang pertama terbuat dari batu (gelondongan, maksudnya batu pipih sebagai medium) terus dipahat (aliran mPrumpung; merujuk pada sentra pahat patung yang berlokasi antara borobudur-muntilan). Yang kedua terbuat dari serbuk batu (limbah) terus dicetak (aliran ngKretek; merujuk pada home industry yang berlokasi di Karangrejo, sebelah barat bumisegoro).

relief van kretek

Sumber foto: liputan6.com (lebih…)

Pemberitaan tentang lima arca Museum Radya Pustaka yang disita Poltabes Solo di rumah Hashim di Kemang cukup menghebohkan. Berita itu makin menambah panjang “penjarahan” terhadap cagar budaya kita. Seperti yang disampaikan oleh Djulianto Susantio,

“Bisa dipastikan belum banyak orang tahu kalau Prasasti Watukura (bertarikh 902 hingga 1348) sejak lama bermukim di Denmark dan menjadi koleksi keturunan keluarga L Norgaard. Prasasti Wukayana (angka tarikhnya tidak ada) saat ini tersimpan di Museum Tropen, Prasasti Sangsang di Koninklijk Instituut voor de Tropen, Prasasti Guntur di Museum Maritim, dan Prasasti Tulangan di Museum voor Volkenkunde, semuanya di Belanda. (lebih…)

Soliloque Dari Tumpang

————————————————————————————–

Tulisan ini aku comot mentah-mentah dari salah satu milis sebagai wujud empati atas fenomena “ahistoris” masyarakat kita. fenomena discontinuity dan meninggalkan akar ciri yang mengindikasikan gejala inferiority complex. Tulisan ini cukup panjang untuk ukuran blog ini, tapi demi menjaga orisinalitasnya, aku tidak bermaksud menyunatnya. Apalagi yang tersaji ini sudah dari tangan ke dua. semoga bisa membangkitkan semangat untuk nguri-uri kabudayan, demi peradaban yang lebih baik.

—————————————————————————————-

Empatbelas kilometer arah timur Kota Malang, satu dusun didiami oleh empat dari sedikit seniman tradisi topeng Malangan yang tersisa sampai detik ini. Glagahdowo nama dusun itu. Satu dari empat seniman yang masih eksis itu, Soetrisno (64), berinisiatif mengabarkan dinamika keberadaan kesenian mereka melalui tulisan tangan putrinya. Upaya revitalisasi yang sangat sederhana dari sebentuk kebudayaan khas ini jauh dari hingar bingar seminar kebudayaan, analisa budaya pada massmedia, jargon-jargon LSM dan yayasan dibidang kebudayaan, apalagi retorika kancah politik yang sedang membahana di layar televisi setiap hari. Begitu sunyi. Sebagai soliloque (artinya kurang lebih hampir sama dengan ngunandiko dalam istilah Jawa, yang berarti menggumam sendiri dalam hati) yang melindap diam-diam pada kesadaran normatif publik Malang; pemilik kesenian tradisi tersebut. Berikut tulisan yang direvisi seperlunya oleh redaksi – karena kekhilafan aksarawi tanpa bermaksud mengubah intisari dari maksud sebenarnya.

Keunikan-keunikan dari seni drama tari topeng Malang khususnya yang ada di Dusun Glagahdowo, Kecamatan Tumpang.
Pada umumnya pelaku atau pemain seni drama tari topeng bisa memerankan berbagai karakter tokoh topeng, sebut saja mbah Rasimoen (alm), beliau tidak hanya mahir membawakan gerak tari gunung sari atau memerankan karakter tokoh Gunungsari tetapi beliau juga bisa memerankan karakter tokoh-tokoh lain, misalnya : ratu atau raja jenggala, patih, dsb. Mbah Gimun, selain mahir memerankan karakter tokoh Klono (raja Sabrang), beliau juga bisa memerankan tokoh Bapang, emban, dsb. Dan Mbah Jakimin, selain mahir memerankan tokoh pendeta, beliau juga bisa memerankan karakter tokoh wanita, seperti Dewi Sekartaji, Dewi Ragil Kuning, dsb.

Kalau melihat semacam itu, tentu kita bisa menyimpulkan dengan jelas bahwa mereka belajar atau berkecimpung dalam paguyuban seni drama tari topeng tidak hanya setahun atau dua tahun bahkan bisa sampai berpuluh-puluh tahun, meninjau dari usia mereka yang saat ini rata-rata sudah menginjak 75-80 tahun. Dan di usia mereka yang sudah menjelang senja tentunya mereka mempunyai kenangan fenomena tersendiri dalam proses berkesenian terutama dalam seni drama tari topeng Malang. Saat ini yang menjadi masalah adalah kerprihatinan mereka dalam melestarikan atau mencari regenerasi baru untuk kehidupan komunitas seni drama tari topeng Malang yang akan datang. Yang mereka resahkan, masih adakah anak muda di jaman sekarang ini yang masih mau peduli terhadap kesenian tradisi khususnya seni drama tari topeng Malangan yang dirasa sudah dalam keadaan kembang kempis dan akankah seni drama tari topeng Malang bisa tetap eksis ditengah-tengah era globalisasi saat ini.

Di sebuah komunitas yang mempunyai nama Sri Margo Utomo, tepatnya di Dusun Glagahdowo, Kecamatan Tumpang masih ada dua orang personil pemain drama tari topeng Malang, beliau adalah Mbah Gimun dan Mbah Jakimin. Di usia beliau yang bisa dibilang sudah sepuh tetapi beliau masih mempunyai semangat seperti anak muda dalam melestarikan kesenian drama tari topeng Malang, satu misal beliau masih mau memberi pengarahan-pengarahan dan dorongan semangat pada para penari topeng Malang, khususnya yang ada di Dusun Glagahdowo, Kecamatan Tumpang. Sri Margo Utomo memulai kiprahnya berkesenian kira-kira dari tahun 1939 sampai sekarang. Meskipun saat ini peronilnya tinggal dua orang. Berikut ini adalah biografi pemain drama topeng yang ada dipaguyuban tersebut.

Nama : Mbah Gimoen
Tempat / Tgl lahir : Malang, 1924
Beliau belajar dan berkecimpung dalam dunia seni drama tari topeng malang dari tahun 1939 sampai sekarang, menurut beliau pada waktu itu drama tari topeng tidak hanya sebagai seni pertunjukan saja tetapi juga sebagai mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dan masyarakat pada waktu itu juga sangat peduli dan benar-benar menghargai seni pertunjukan drama tari topeng. Wujud dari kepedulian mereka adalah dengan mengundang dan mendatangkan rombongan kesenian drama tari topeng pada acara acara hajatan misalnya manten, sunatan, entas-entas orang tengger (selamatan untuk yang sudah meninggal / kirim doa) dll. Mbah Gimun adalah pemeran tetap karakter tokoh topeng Kelono (Raja Sabrang) dan sampai sekarang pula tari Kelono pula yang selalu diajarkan pada anak didiknya.

Nama : Mbah Jakimin
Tempat / Tgl lahir : Malang, 1923
Sama seperti mbah Gimun, Mbah Jakimin berkecimpung di dunia seni drama tari topeng malang sejak tahun 1939 sampai sekarang. Meskipun saat ini beliau tidak aktif lagi diatas panggung Mbah Jakimin adalah pemeran yang mempunyai multi fungsi dalam setiap pertunjukan. Beliau tidak hanya bisa memerankan karakter tokoh wanita atau dewa tapi juga karakter tokoh-tokoh yang lainnya.
Adapun beberapa personil lain yang sudah almarhum yakni Mbah Rasimoen, Mbah Sueb, Mbah Lostari, Mbah Warno, Mbah Bilal, Mbah Roselin, Mbah Saruwi, Mbah Rakim.

Masih menurut Mbah Jakimin dan Mbah Gimoen, bahwa ditahun 1939 saat memulai kiprahnya di dunia seni drama tari topeng malang, bangsa Indonesia masih dalam masa penjajahan, dan perekonomian Indonesia juga masih sangat hancur. Bisa dibilang waktu itu rakyat Indonesia juga merasakan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan rombongan kesenian inipun saat itu merasakan hal yang sama.

Lalu ada tokoh seniman tari topeng yang bernama pak Item (pak Kasimun) yang mempunyai ide mengumpulkan anak didiknya untuk mbarang/ngamen kedaerah daerah Tengger demi memenuhi kebutuhan hidup mereka masing-masing yang termasuk terlibat didalamnya adalah Mbah Gimun, Mbah Rasimun, Mbah Jakimin, Mbah Paran, Mbah Bilal, Mbah Jari, Mbah Samud, dan Mbah Lostari, dalam perjalanannya tidak sedikit hal yang menjadi kendala buat mereka, karena belum ada fasilitas tranportasi maka mereka harus rela berjalan kaki sekaligus membawa peralatan topeng selengkapnya. Dan tidak mereka tidur di tengah hutan dengan hanya beralaskan daun cemara karena kemalaman di jalanan. Mereka juga rela menahan lapar dan haus ketika dalam perjalanan.

Kalaupun ada orang yang mau mempersilahkan mereka untuk mampir kesalah satu rumah penduduk, barulah mereka bisa makan dan minum, itupun seadanya, sesuai dengan keadaan yang punya rumah, biasanya hanya sekedar kopi, jagung rebus atau kentang rebus, singkong bakar, sayur kubis, kadang ada juga yang mempersilahkan mereka mampir sekaligus menyuruh mereka main (nanggap) dan memberi upah. Pada waktu itu upah mereka hanya dua sen untuk satu orang dan upah dua sen waktu itu sudah cukup untuk beli nasi bungkus. Tapi kalau dibandingkan dengan uang sekarang dua sen ternyata nilainya masih kurang dari 100 rupiah uang sekarang. Jarak perjalanan yang mereka tempuh pun sangat jauh yakni mereka berangkat dari Tumpang ke Gubug Klakah, dari Gubug Klakah ke Ngadas, dari Ngadas ke Ngadiwono, dari Ngadiwono ke Ledokombo, jadi terhitung dari kabupaten malang sampai kebupaten Probolinggo, tidak hanya sampai di Probolinggo mereka juga pernah melakukan perjalanan dari Tumpang ke Gubugklakah, dari Gubugklakah ke Ranu Pani (arah ke puncak gunung Semeru), lalu dari Ranupane ke Nggedok, atau tepatnya dari kabupaten Malang ke kabupaten Lumajang.

Didalam perjalanan mereka masih sempat melestarikan seni drama tari topeng dengan cara mengajari orang-orang dan anak-anak disekitar tempat mereka singgah untuk istirahat. Jadi keberadaan kesenian tari topeng tidak hanya ada dikabupaten Malang saja tapi juga ada di kabupaten Probolinggo dan kabupaten Lumajang.

Inilah sekapur sirih perjalanan hidup seniman drama tari topeng malang di masa lampau, dan melalui cerita ini beliau mempunyai harapan yang besar pada kita, generasi muda. Yang mereka harapkan ialah rasa peduli kita terhadap suka-duka mereka dalam perjalanan hidup berkesenian dan kesediaan kita untuk menyimak keluh-kesah mereka dalam usahanya melestarikan kesenian tradisi khususnya seni drama tari topeng malang

Nara sumber :

Sutrisno
Mbah Gimun
Mbah Jakimin

(tulisan Dwi Wahyu Asmarani, dusun glagahdowo diketik ulang oleh hisyam mawardie, yayak marsose)

Jaya “yayak” setiawira
Litbang Dewan Kesenian Malang

Upacara adat Barong Ider Bumi merupakan upacara bernuansa sakral dari Desa Wisata Using Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.

Dalam upacara tersebut, tujuh wanita membawa ubo rampe. Lima wanita membawa beras kuning dan uang sejumlah Rp 99.900, sedangkan dua wanita lainnya membawa kendi. Ada juga sejumlah anggota mocoan. Mereka dengan khidmat mengikuti upacara itu. Tokoh masyarakat Kemiren, Adi Purwadi mengatakan, acara Barong Ider Bumi sudah dilakukan sejak tahun 1940.

‘’Kenapa pelaksanaanya serba 2, karena kekuatan pelestarian alam ada 2, yakni baik dan buruk, wanita dan laki-laki.’’ Dijelaskan, konon dulu ada pagebluk sejenis penyakit atau bencana melanda masyarakat Kemiren. Setelah itu, tokoh masyarakat mendapat wangsit melewati mimpi dari Buyut Cili yang merupakan tetua Kemiren.

Dia mengatakan, untuk menghilangkan pagebluk itu harus segera dilakukan Barong Ider Bumi. ‘’Dalam iring-iringan, ada barong sebagai lambang persatuan, uang koin sebagai pengusir lelembut, dan sembur uthik-uthik beras kuning,’’ sebutnya.

 

Diawali dengan permainan angklung sesepuh desa setempat, warga mengarak barong mengelilingi jalan desa. Sembari mengarak barong, beras kuning bercampur uang receh ditabur di sepanjang perjalanan. Anak-anak pun berebut uang recehan sedang orang tua berebut mengambil pisang yang telah dipersiapkan di pinggir jalan.

Setelah menyusuri jalan desa, arak-arakan pun berakhir. Sejumlah ibu-ibu  telah menyiapkan tumpeng dan pecel pitik (pecel ayam) untuk selamatan yang digelar di tengah-tengah jalan desa. Acara makan bersama yang memungkasi ritual hari itu terasa guyub dan mencerminkan kebersamaan khas masyarakat desa.

barong ider bumibarong ider bumi 2barong ider bumi

* Diolah dari berbagai sumber

kebo keboan jugaKebo-keboan merupakan salah salah satu jenis kesenian tradisional yang sakral di Banyuwangi. Disebut Kebo-keboan karena ritual ini diikuti oleh para laki-laki Desa Alas Malang yang bertingkah seperti kerbau. Kebo-keboan sudah ada sejak abad ke 18.
Menurut Subur Bahri, tokoh masyarakat desa setempat, Kebo-keboan pertama kalinya dikenalkan oleh sesepuh desa Buyut Karti. Saat itu di Desa Alas Malang ada pageblug atau bencana berupa kematian warga tanpa sebab. “Sore sakit, pagi mati, begitu sebaliknya. Setelah itu Buyut Karti mendapat wangsit (ilham,red) untuk melakukan ritual Kebo-keboan. Ritual ini memuja dan minta berkah dewi padi, Dewi Sri,” ujar Subur.

Alkisah, setelah digelarnya Kebo-keboan, pagebluk di desa hilang dan petani hidup makmur. Karenanya,kebo keboan too ritual ini dilakukan setiap tahun sebagai wujud syukur dan untuk menolak bala.

Ritual Kebo-keboan didominasi para laki-laki desa yang bertingkah laku seperti kerbau. Badan mereka dilumuri arang hingga berwarna hitam, dengan rambut gimbal dari tali rafia lengkap dengan tanduk kerbau, tali pengekang dan kalungnya. Mereka hanya mengenakan celana kolor warna hitam, sepasang kerbau dipegangi seorang petani.

 

* Diolah dari berbagai sumber

 ** Gambar diambil dari webnya pemkab banyuwangi dan wisatanet 

Di dukuh Semanding kampung terpencil berjarak hanya 1,5 kilometer perbatasan Kabupaten Temanggung-Kendal atau persisnya di Desa Kedungboto, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah terdapat perkumpulan kesenian tradisional Srandul.

Bagi masyarakat dukuh Semanding, tari srandul adalah tarian magis yang ditarikan malam hari untuk mengusir pagebluk (wabah penyakit atau hantu). Tari Srandul yang hampir punah itu adalah tarian untuk tolak bala yang lazim dimainkan orang desa apabila daerahnya mengalami kekeringan yang sangat dahsyat atau munculnya /pagebluk/ (wabah penyakit yang mematikan). 

Tarian Srandul biasanya dimainkan delapan penari di bawah cahaya obor. Seluruh alat musik pengiringnya terbuat dari bambu.

srandul

* Diolah dari sajian Kompas

Seni dongkrek  lahir sekitar tahun 1867 di Kecamatan Caruban yang saat ini namanya berganti menjadi Kecamatan Mejayan, kabupaten Madiun. Kesenian itu  lahir di masa kepemimpinan Raden Ngabehi Lo Prawirodipuro yang menjadi demang (jabatan setingkat kepala desa) yang membawahi lima  desa. 

Kesenian dongkrek hanya mengalami masa kejayaan antara 1867 – 1902. Setelah itu, perkembangannya mengalami pasang surut seiring pergantian kondisi politik di Indonesia. Pada masa penjajahan Belanda, kesenian dongkrek sempat dilarang oleh pemerintahan Belanda untuk dipertontonkan dan dijadikan pertunjukan kesenian rakyat. Saat  masa kejayaan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun, kesenian ini dikesankan sebagai kesenian genjer-genjer yang dikembangkan PKI untuk memperdaya masyarakat umum. Sehingga kesenian dongkrek mengalami masa pasang surut akibat imbas politik. 

Konon rakyat desa Mejayan terkena wabah penyakit, ketika siang sakit sore hari meninggal dunia atau pagi sakit malam hari meninggal dunia, dalam kesedihannya, Raden Prawirodipuro sebagai pemimpin rakyat Mejayan mencoba merenungkan metode atau solusi penyelesaian atas wabah penyakit yang menimpa rakyatnya. Renungan, meditasi dan bertapa di wilayah gunung kidul Caruban. Ia mendapatkan wangsit untuk membuat semacam tarian atau kesenian yang bisa mengusir balak tersebut. 

Dalam cerita tersebut wangsit menggambarkan para punggawa kerajaan roh halus atau pasukan gondoruwo menyerang penduduk mejayan dapat diusir dengan menggiring mereka keluar dari desa mejayan, maka dibuatlah semacam kesenian yang melukiskanfragmentasi pengusiran roh halus yang membawa pagelebuk tersebut.  

“Komposisi para pemain fragmen satu babak pengusiran roh halus tersebut terdiri dari barisan buto kolo, orang tua sakti dan kedua perempuan tua separuh baya. Para perempuan yang disimbulkan posisi lemah sedang dikepung oleh para pasukan buto kala dan ingin mematikan perempuan tersebut, maka muncullah sesosok lelaki tua dengan tongkatnya mengusir para barisan roh halus tersebut untuk menjauh dari para perempuan tersebut”; jelasnya. 

Selanjutnya, melalui peperangan yang cukup sengit, pertarungan antar rombongan buto kolo dengan orang tua sakti, dan dimenangkan oleh orang tua tersebut. Pada episode selanjutnya, orang tua tersebut dapat menyelamatkan kedua perempuan dari ancaman para buto kolo tersebut dan rombongan buto kolo itu mengikuti dan patuh terhadap kehendak orang tua sakti tersebut, kemudian orang tua yang didampingi dua perempuan itu menggiring pasukan buto kolo keluar dari desa mejayan sehingga sirnalah pagebluk yang menyerang rakyat desa mejayan selama ini dan tradisi ini menjadi ciri kebudayaan masyarakat caruban, dengan sebutan Dongkrek. 

Masyarakat pada waktu itu mendengar musik dari kesenian dongkrek ini yang berupa bunyian ‘dung’ berasal dari beduk atau kendang dan ‘krek’ ini dan alat musik yang disebut korek. Alat korek ini berupa kayu berbentuk bujur sangkar, di satu ujungnya ada tangkai kayu bergerigi yang saat digesek berbunyi krek. Dari bunyi dung pada kendang dan krek pada korek itulah muncul nama kesenian Dongkrek.Dalam perkembangannya digunakan pula komponen alat musik lainnya berupa gong, kenung, kentongan, kendang dan gong berry sebagai perpaduan antar budaya yang dialiri kebudayaan Islam, kebudayaan cina dan kebudayaan masyarakat jawa pada umumnya. 

Dalam tiap pementasan dongkrek, ada tiga topeng yang digunakan para penari. Ada topeng raksasa atau ‘buto’ dalam bahasa Jawa dengan muka yang seram. Ada topeng perempuan yang sedang mengunyah kapur sirih serta topeng orang tua lambang kebajikan. 

“Dan kalau ditarik kesimpulan, maksud jahat akhirnya akan lebur juga dengan kebakan dan kebenaran sesuai dengan sesanti atau moto surodiro joyoningrat, ngasto tekad darmastuti.” Dalam islam istilahnya, Ja’al haq wa zahaqal bathil. Innal Bathila kaana zahuqa.

* Diolah dari berbagai sumber

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.