sejarah segomegono dari Akhmad (Purworejo) ternyata memiliki versi tandingan.

Versi ini mengklaim bahwa nasi megono merupakan makanan khas Pekalongan. Bedanya kalau megono Pekalongan antara nasi dan “sayur” megono terpisah dan “sayurnya” pun secara spesifik identik dengan sayur nangka muda.

megono-cecek-pekalongan.jpg

megono versi pekalongan

di Jakarta, tahun 2000-2002-an biasa makan sego megono versi ini sebagai alternatif sarapan di Karet Gg Anggrek I, Setiabudi Jakarta Selatan. Yang jualan mbok-mbok dari Pekalongan kalau tidak salah inget. Pelanggan setia lainnya adalah Guruh (Pare, Kediri), Prast (Pekalongan), Tomi, Cahyo (Yogya), Cahyo A (Blora) dan Andre (Purwokerto).

Di Bumisegoro segomegono sering terhidang sebagai kiriman untuk tenaga tandur/matun padi. Jenisnya lebih menyerupai sego megono versi Purworejo. Nasi dan sayur tumplek blek menjadi satu. Jenis sayurannya juga bervariasi dan seringnya tidak tunggal (dua atau lebih sekaligus). Paling sering sih nangka muda, buah pepaya muda, daun kacang panjang (bayung), kajang panjang, dan bayam. Lauk favoritnya telur ayam rebus yang dibagi menjadi beberapa bagian (tergantung budget).

Versi manapun sama enaknya. Sekedar membedakan, barangkali akan lebih tepat kalau penulisan segomegono (nasimegono) versi Purworejo penulisannya disambung sedangkan sego megono (nasi megono) versi Pekalongan tulisannya dipisah. setuju? :-)

Ada tulisan menarik dari Akhmad tentang sejarah segomegono yang saya kutip di sini.

Segomegono, adalah makanan yang berbentuk utama nasi dengan lauk dan sayuran “include dan inherent” di dalamnya. Dari segi bahasa Sego artinya nasi sedangkan megono kalau ditelusuri tidak ada akar kata asli Jawa tentang kata tersebut. Ada kemungkinan bahwa megono berasal dari kata mego (Tulisannya mega- red) yang berarti awan/mega dan gegono (Tulisannya gegana- red) yang berarti angkasa. Jadi bila dirangkai menjadi kalimat mungkin akan berbunyi : Megono = Mego ing Gegono

Mengapa didapatkan kalimat unik di atas tersebut ?

 

Marilah kita amati sifat dan penampakan mega di angkasa. Mega berwarna putih bersih sampai kelam yang biasa disebut mendung, pertanda hujan. Ada juga warna mega yang merah terutama di sore atau pagi hari. Berdasarkan penampakan mega tersebut, Segomegono pun terdiferensiasi mulai dari yang berwarna putih bersih, kelam, jingga yang merah merona (kalimat puitis- red).

Segomegono, timbul pertama kali ketika dikenal ada gerilyawan yang memasuki wilayah Purworejo waktu itu. Seperti Pangeran Diponegoro, Sentot Prawirodirjo, Perang Kemerdekaan I dan II (atau Agresi Belanda I dan II). Keadaaan waktu itu dapat dibayangkan sebagai daerah yang subur tetapi dengan keadaan perang membuat hasil bumi sangat menurun tajam dan penghematan di segala bidang, termasuk dalam konsumsi. Bila kita menanak nasi dengan cara konvensional akan timbul kerak nasi (dalam bahasa Jawa Intip). Bagi kebanyakan orang, waktu itu, kerak nasi tersebut akan dijemur dan dikeringkan dan disimpan untuk dimasak lagi, menjadi nasi. Itulah cikal bakal Segomegono. Penyempurnaan terus dilakukan dengan menambahkan berbagai bumbu termasuk mencoba dipadukan dengan urap dan berbagai sayuran dan lauk lainnya.

Kemajuan pesat terasa ketika gerilyawan masuk ke desa dengan cara yang sangat mendadak dengan muka yang lusuh, kelelahan dan tanpa dukungan logistik yang memadai. Penduduk desa yang melihat keadaan tersebut segera “cancut taliwondo” menghubungi tetangga-tetangga untuk membuat makanan yang dapat mengembalikan kesegaran pejuang-pejuang tersebut. Tapi apa daya ? Dengan mengumpulkan beras yang sangat sulit didapat dan lebih banyak mendapatkan intip kering. Persoalan muncul ketika bahan terkumpul lauk atau sayurnya apa ? Atas inisiatif “sesorang” (Tokoh inilah sebenarnya penemu Segomegono, tetapi sayang keterbatasan data menyebabkan sulit untuk mengetahui siapa tokoh tersebut) pengumpulan bahan sayuran pun dikumpulkan, untuk sayuran tidak menemui hambatan sedikitpun, tetapi untuk lauk pada jaman itu yang banyak tersedia adalah ikan asin.

Begitu melihat bahan yang terkumpul, kondisi yang membutuhkan cara pemasakan yang cepat, makanan yang mengandung semua unsur pokok gizi, agar stamina para gerilyawan meningkat lagi, maka terpikirlah memasak makanan itu bersama-dan dijadikan satu sehingga menghemat waktu, tenaga dan tempat untuk menampung makanan yangsudah jadi. Dan seperti teriakan Archimedes “:Eureka” maka suatu nama perlu dimunculkan untuk makanan lengkap tesebut, akhirnya setelah melalui proses yang sangat-sangat spontan tiba-tiba terlintas “megono !!!!!!!!!”, ya megono, nama yang indah dan bernuansa lain serta kata itu menggambarkan semua segi filosofi, kedalaman rasa dan bentuk fisik dari makanan itu.

Pada saat perang kemerdekaan, ketika semakin banyak gerilyawan yang datang dan pergi, Segomegono menjadi sebuah nama yang menjadi impian harapan dan kesenangan yang sangat-sangat menghibur dan memberikan kelegaan, kebahagiaan yang akan terus dikenang oleh para gerilyawan tersebut. Sampai-sampai karena berita tersebut Segomegono menjadi sebuah pencarian yang kadang terasa agak magis dan melegenda diantara para gerilyawan. Ketika kemerdekaan RI telah dicapai dan pekik “merdeka !!!!” menjadi salam nasional, di Purworejo pekik tersebut oleh para gerilyawan diteriakkan dengan Merdeka !!!!
Megono !!!!!!” yang berati mereka sangat menginginkan Segomegono sebesar mereka menginginkan kemerdekaan . Itulah asal mula segomono sehingga bentuk paripurnanya dapat kita lihat dan rasakan hingga sekarang.

Segomegono yang asli berwarna agak “kotor” atau agak mendung yang menandakan dibuat dari kerak nasi, sedangkan yang putih bersih biasanya dibuat dari beras, disediakan untuk para “penikmat pemula”. Bentuk Segomegono adalah “nasi” dengan warna agak kecoklatan atau kemerahan untuk yang pedas berasa pedas. Sayuran yang terdapat Segomegono adalah daun bayam, ketela, daun kacang pancang (mBayung, Jawa-red) atau hijauan yang lain. Sayuran tersebut dicampurkan dengan “nasi” yang sudah matang dengan ditambah sambal “jenggot” yaitu sambal yang terbuat dari parutan kelapa. Sambal inilah yang menyebabkan warna kemerahan seperti senja hari. Satu bagian yang tidak dapat dilepaskan dari Segomegono adalah ikan asin, yang ditumbuk dan dicampurkan bersama-sama dengan sambal dan sayuran. Segomegono yang asli menggunakan ikan asin bukan ikan segar, sehingga aromanya terasa tajam, khas paduan antara aroma “nasi”, sambal, sayuran dan ikan menjadi satu yang sangat membangkitkan selera dan imajinasi.

Perkembangan lebih lanjut dari Segomegono adalah dengan ditambah ikan segar yang digoreng dan terpisah. “Nasi” berasal dari beras bukan kerak nasi, dan aksesories lainnya yang makin memperbanyak khasanah ke-Segomegono-an di Purworejo.Salah satu variasi yang menjadi legenda adalah hasil kerja bareng antara penjual Segomegono dan penjual tempe legendaris mBok Pringgo. Variasi adalah yang terbaik dan tersisa hingga sekarang.

Untuk mendapatkan Segomegono yang asli dengan tempe legendaris mBok Pringgo, kita harus rela untuk bangun pagi minimal jam 06.00 pagi. Lokasinya di Pasar Pagi Purworejo, dekat dengan Buh Liwung (Jembatan Hanyut -red) sekitar 1 km Alun-Alun Purworejo ke arah Timur. Lebih baik lagi kalau kita sambil berjalan pagi menikmati suasana Pasar Pagi di pagi hari. Ketika jam 09.00 Pasar Pagi tersebut berakhir dan pindah ke Pasar Baledono. Biasanya dijual oleh penduduk asli asal Pegunungan Menoreh, karena dari tangan merekalah kita akan mendapatkan rasa Segomegono yang masih asli dan tanpa bahan aditif. Mirip dengan yang dirasakan oleh Prajurit Pangeran Diponegoro, Sentot Prawirodirjo, atau para pejuang kita yang bergerilya.

Selamat Menikmati……………….

Pesan Pengarang (Akhmad):

Asal-usul makanan tersebut berdasarkan tinjauan sejarah yang sangat terbatas dan referensi yang sangat minimal.

Google memang top markotop.

Dengan bantuan piranti dari mbah Google kita dapat mengetahui keberadaan tempat tinggal kita secara real 3 dimensi. Pemetaan dengan citra satelit ini sangat membantu dalam mencari di mana gerangan rumah si fulan. Berikut peta Bumisegoro dan sekitarnya. Biru-biru di antara candi Borobudur dan Bumisegoro (ngrowo) juga antara Bumisegoro dan Sileng adalah sawah. kemungkinan besar terekspos saat sawah tergenang air (dilep), menjelang musim tanam. Sungai Sileng sendiri tergambar sebagai garis hitam tebal yang meliuk-liuk seperti ular.

peta bumisegoro

Ente dapat menambahkan denah tempat bersejarah di sini (klik saja).
Selebihnya terserah anda mencari alamat teman atau membuat alamat anda sendiri. Ada yang wanti-wanti, “Jangan coba-coba mencari kamar mandi yang terbuka atasnya.” hehehe….

Versi gratis, peta yang ada tidak secara real time.

kubro2.jpgkubro4.jpgkubrosiswo in action

Kubrosiswo merupakan kesenian tradisional berlatar belakang penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa. Kubro berarti besar dan siswo berarti siswa atau murid, mengandung arti murid – murid Tuhan yang diimplementasikan dalam pertunjukan yang selalu menjunjung kebesaran Tuhan. Kubro sisiwo merupakan singkatan dari Kesenian Ubahing Badan Lan Rogo (kesenian mengenai gerak badan dan jiwa), sarana untuk mengingatkan umat islam dan manusia pada umumnya agar menyelaraskan kehidupan dunia dan akhirat.

Termasuk salah satu jenis kesenian tradisional khas Magelang. Konon, berasal dari daerah sekitar candi Mendut. Sejak tahun 1965 kesenian ini sudah ada di daerah Borobudur dan sekitarnya. Kapan dan dimana tepatnya diciptakan belum ada keterangan yang pasti.

Kubrosiswo juga sering dikaitkan dengan Ki Garang Serang, prajurit Pangeran Diponegoro yang mengembara di daerah Pegunungan Menoreh untuk menyebarkan Agama Islam. Dalam pengembaraannya, beliau memasuki hutan lebat yang masih banyak di huni oleh binatang buas. Ketika hutan itu dibakar, terjadilah pertentangan antara Ki Garang Serang dengan sekelompok binatang buas. Tetapi karena kesaktiannya, maka para binatang buas dapat tunduk dan mengikuti perintah beliau.

Selain menyebarkan Agama Islam, beliau juga berjuang mengusir penjajah. Tidak heran jika irama gerak dalam kubrosiswo bercirikan tarian prajurit yang ritmis dan padu dengan musik yang menggugah semangat. “roh” Kubro Siswo yang bersifat spiritual, enerjik dan genit.

Kesenian ini umumnya dipentaskan pada malam hari dengan durasi kurang lebih 5 jam dan ditampilkan secara massal, dengan musik pengiring mirip dengan lagu perjuangan dan qasidah, tetapi liriknya telah diubah sesuai misi Islam. Kesenian ini diiringi dengan bende, 3 buah dodok dan jedor. Dandanan mereka seperti tentara pada jaman keraton, tapi dari pinggang kebawah memakai dandanan ala pemain bola tak lupa ada “kapten” yang memakai peluit. Selain memadukan antara tari-tarian dan lagu serta musik tradisional, terdapat juga atraksi-atraksi yang menakjubkan. Diantaranya mengupas kelapa dengan gigi, naik tangga yang anak tangganya terdiri dari beberapa berang (istilah jawa bendho) dan yang lebih menariknya lagi beberapa penarinya ada yang kesurupan (ndadi, trance) atau kemasukan roh.

Adegan kesurupan ini merupakan penggambaran peperangan si Ki Ageng Serang dengan binatang –binatang buas perbukitan Menoreh, bedanya si binatang digantikan oleh pemain berbaju singa atau kerbau (kewanan). Seiring lecutan pecut dan bau kemenyan maka, menarilah binatang – binatang tersebut. Mereka akan unjuk kesurupannya dengan cara yang macam- macam. pemain yang kesurupan ada kecenderungan untuk mendekati jedor atau alat musik lain yang ramai dibunyikan saat itu.

Di akhir acara pawang akan memaksa para binatang untuk mendekati sebuah gentong, yang ternyata berguna untuk melepas roh asing yang menempel pada tubuh si penari. Ketika tubuh si penari berhasil dipaksa mendekati gentong dan doa pun di panjatkan, maka ia akan terkulai lemas. Ketika semua penari berhasil disembuhkan maka selesailah acara tersebut.

Dalam lagu yang dinyanyikan itu, terdapat beberapa pesan-pesan dakwah. Pesan yang diharapkan mampu mempengaruhi segi kognitif para penontonnya, terutama dalam hal pengetahuan keagamaan.

Salah satu contoh syair lagu dalam Kubro Siswo adalah :

Kito Poro Menungso
(Kita Semua Manusia)

 

Kito poro menungso ayo podo ngaji
(Kita semua manusia ayo mengaji)
Islam ingkang sampurno pepadanging bumi
(Islam agama yang sempurna, memberi cahaya bagi bumi)
Ayo konco-ayo konco ojo podo lali
(Ayo kawan-ayo kawan jangan sampai lupa)
Lali mundhak ciloko mlebu njroning geni
(Lupa membuatmu celaka, masuk dalam api)
Yo iku aran neroko bebenduning Gusti
(Yaitu neraka tempat pembalasan Tuhan)

 

kubro2.jpg

Paguyuban Kubro siswa di Bumisegoro (Krida Siswa) sempat timbul dan tenggelam dengan masa kejayaan pada saat dipimpin oleh bapak Bagiyo. Saat itu, cukup sering ditanggap main di antaranya oleh pengelola Taman Wisata Candi Borobudur atau oleh warga yang sedang hajatan.

Terbersit pemikiran iseng…. Kalau Sampoerna Group pernah membangun merek dengan menggelar marching band ke negeri paman sam, adakah pengelola merek yang berminat menggelar kubrosiswo untuk membangun mereknya? Terobosan yang layak ditunggu….

* sari kata dari kenangan lama dan terbantu oleh beberapa sumber
** Foto diambil dari blognya nuri widhi

Daerah sekeliling Borobudur itu sekarang ada yang bernama Tanjung (Tanjungsari), Karang, Bumisegoro, Sabrangrowo, dan sebagainya. Secara toponimi (asal-usul nama daerah), jelas mengindikasi adanya telaga/rawa di sekitar itu.

teratai

Adalah van Bemmelen, diilhami oleh penelitiannya di wilayah Bandung tahun 1933,
berhipotesis bahwa Telaga Borobudur terjadi akibat bendungan piroklastika Merapi menyumbat aliran Kali Progo di kaki timurlaut Perbukitan Menoreh. Itu terjadi sebelum Borobodur didirikan tahun 830-850. Dan adalah van Bemmelen juga yang berhipotesis (bisa dibaca di bukunya : the Geology of Indonesia) yang menyebutkan bahwa piroklastika Merapi pada letusan besar tahun 1006 telah menutupi danau Borobudur menjadi kering dan sekaligus menutupi candi ini – lenyap dari sejarah, sampai ditemukan kembali oleh tim van Erp pada tahun 1907-1911. Kalau melihat gambar peta dan penampang geologi volkano-tektonik Gunung Merapi (van Bemmelen, 1949), akan tahulah kita bahwa ”nasib” Borobudur sepanjang sejarahnya telah banyak ditentukan oleh merosot-runtuhnya dinding baratdaya Merapi.

Hasil kajian geologi yang dilakukan Ir Helmy Murwanto MSc, Ir Sutarto MT dan Dr Sutanto dari Geologi UPN ‘Veteran’ serta Prof Sutikno dari Geografi UGM membuktikan, keberadaan danau di kawasan Candi Borobudur memang benar adanya. Penelitian itu dilakukan sejak 1996 dan masih berlanjut sampai sekarang. Bahkan, tahun 2005, penelitian tentang keberadaan danau purba itu oleh Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi Jawa Tengah, CV Cipta Karya dan Studio Audio Visual Puskat, dibuat film dokumenter ilmiah dengan judul ‘Borobudur Teratai di Tengah Danau’.

Yang diteliti adalah endapan lempung hitam yang ada di dasar sungai sekitar Candi Borobudur yaitu Sungai Sileng, Sungai Progo dan Sungai Elo. Setelah mengambil sampel lempung hitam dan melakukan analisa laboratorium, ternyata lempung hitam banyak mengandung serbuk sari dari tanaman komunitas rawa atau danau. Antara lain Commelina, Cyperaceae, Nymphaea stellata, Hydrocharis. “Istilah populernya tanaman teratai, rumput air dan paku-pakuan yang mengendap di danau saat itu,” katanya.

Penelitian itu terus berlanjut. Selain lempung hitam, fosil kayu juga
dianalisa dengan radio karbon C14. Dari analisa itu diketahui endapan
lempung hitam bagian atas berumur 660 tahun. Tahun 2001, Helmy melakukan pengeboran lempung hitam pada kedalaman 40 meter. Setelah dianalisis dengan radio karbon C14 diketahui lempung hitam itu berumur 22 ribu tahun. “Jadi kesimpulannya, danau itu sudah ada sejak 22 ribu tahun lalu, jauh sebelum Candi Borobudur dibangun, kemudian berakhir di akhir abad ke XIII,” katanya.

Kenapa berakhir, kata Helmy, karena lingkungan danau merupakan muara dari beberapa sungai yang berasal dari gunung api aktif, seperti Sungai Pabelan dari Gunung Merapi, Sungai Elo dari Gunung Merbabu, Sungai Progo dari Gunung Sumbing dan Sindoro. Sungai itu membawa endapan lahar yang lambat laun bermuara dan menimbun danau. Sehingga danau makin dangkal, makin sempit kemudian diikuti dengan endapan lahar Gunung Merapi pada abad XI. Lambat laun danau menjadi kering tertimbun endapan lahar dan berubah menjadi dataran Borobudur seperti sekarang.

Menurut Helmy, pada saat dilakukan pengeboran, endapan danaunya banyak
mengeluarkan gas dan air asin. “Tapi lambat laun tekanannya berkurang, dan sekarang kita pakai sebagai monumen saja,” katanya.

Ditargetkan, pada penelitian berikutnya akan diteliti luasan danau kaitannya dengan sejarah perkembangan lingkungan Borobudur dari waktu ke waktu, mulai air laut masuk sampai laut tertutup sehingga berkembang menjadi danau, kemudian danau menjadi rawa dan menjadi dataran.

* Disunting dari berbagai sumber

** gambar diambil dari kartu ucapan

Tidak ada tulisan sejarah yang menceritakan secara pasti asal usul bumisegoro. Juga tidak ada prasasti yang menguatkan kapan dan oleh siapa desa tua yang teletak di lembah sungai Sileng ini terbentuk.

Bagi generasi terkini, peninggalan yang menjadi rujukan terakhir adalah cungkup makam yang secara getok tular disampaikan oleh generasi terdahulu sebagai cikal bakal desa ini. Cungkup yang terletak di bagian selatan desa dan dikatakan sebagai sarean Mbah Wonosegoro. Sayangnya tidak ada angka tahun yang tertera di sana yang menjadi penanda sejarah desa. Praktek penanggalan lebih mendokumentasikan kapan bangunan fisik cungkup tersebut didirikan/direnovasi.

Jika memang Mbah Wonosegoro merupakan pendiri bumisegoro maka menjadi menarik untuk mencermati kaitan di antara kedua nama. Wonosegoro terdiri atas 2 kata, wono yang kurang lebih berarti hutan dan segoro yang berarti laut. Sedangkan bumisegoro berasal dari kata bumi yang lebih berasosiasi pada tanah dan segoro. Ada pergeseran dari wono menjadi bumi. Apakah lantas berarti beliau yang babat alas/hutan menjadi bumi tempat bermukim?

Yang lebih menarik lagi apa kaitannya dengan laut? bukankah desa ini justru terletak di kaki bukit menoreh?? jauh panggang dari api, jauh nian dari laut??? ataukah dulu merupakan laut yang kemudian menjadi daratan????

Wallahu a’lam.

Pencarian di google dengan menggunakan bumisegoro sebagai kata kunci pada saat tulisan ini dibuat memperlihatkan statistik yang cukup menggelitik.

  • Kata kunci bumisegoro menghasilkan 227 hasil pencarian dalam web, namun jika diikuti secara cermat cuma terdiri atas 39 hasil pencarian. Pencarian dalam gambar menghasilkan 9 gambar.
  • Kata kunci frase eksak “bumi segoro” (dipisahkan dengan spasi, dalam tanda petik) menghasilkan 31 hasil pencarian, namun jika diikuti secara cermat cuma terdiri atas 12 hasil pencarian. Pencarian dalam gambar menghasilkan 4 gambar saja.

Mayoritas diantaranya terkait dengan candi Borobudur. Yang umumnya dalam dimensi kesejarahan, baik sebagai tempat ditemukannya candi Borobudur pada masa Raffles berkuasa di negeri ini maupun untuk justifikasi hipotesis adanya Telaga Borobudur. Beberapa hasil pencarian lain mengindikasikan database alamat yang terkait dengan sekolah atau domisili untuk kepentingan melamar pekerjaan.

Dinamika kehidupan di dalamnya nyaris tidak pernah terekspos media. Apakah karena dinilai tidak penting???

candi borobudur dan sekitarnya

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.