Ada tulisan menarik berjudul Membangun Gerakan Ekonomi Kolektif dalam Pertanian Berkelanjutan; Perlawanan terhadap Liberalisasi dan Oligopoli Pasar Produk Pertanian oleh Akhmad S. Ada isu menarik yang akan aku komentari lebih jauh.

Pertanian rakyat juga masih menghadapi banyak persoalan. Sulitnya memenuhi faktor-faktor produksi, dari tanah hingga sarana produksi pertanian (benih, pupuk, dll.), dukungan infrastruktur pertanian, inefisiensi akibat tinginya biaya input, minimnya aplikasi teknologi, sampai rendahnya nilai tukar hasil produksi pertanian merupakan masalah yang kunjung hilang dari dunia petani dan pertanian kita.

Yups, yang akan aku komentari adalah isu inefisiensi akibat tingginya biaya input, dan tulisan ini lebih menukik pada input SDM (baca: upah buruh). Komentar ini didasari oleh hasil observasiku pada masyarakat tegalan di Haurbentes, kec. Jasinga, kab Bogor Barat.

Tersebutlah Pak Kotjot, seorang petani tegalan di sekitar hutan milik TN Gn Halimun. Pak Kotjot memiliki lahan garapan hampir 1 ha yang ditanami padi dengan frekuensi dua kali per tahun. Pola penggarapan tegalan milik pak Kotjot terbilang tidak lazim bagi saya yang terbiasa dengan pola penggarapan orang Jawa pada umumnya. Proses penanaman padi (tandur) dan pemanenan (harvesting) dilakukan oleh sekelompok “mitra”. Dengan terlibat dalam dua proses ini, “mitra” tersebut berhak mendapatkan seperlima (20%) dari hasil pertanian. Padahal dalam proses lainnya, “mitra” tersebut tidak menanggung beban apa pun. Jika mereka terlibat dalam proses lain, misalkan menyiangi rumput, maka untuk setiap keterlibatan ini mereka dinilai dengan satuan upah lazimnya buruh tani. Entah dari mana praktek seperti ini bermula, tapi faktanya sekarang ini dialami oleh Pak Kotjot.

bisa dibayangkan, kalau biaya SDM untuk dua proses saja (menanam dan memetik hasil panen) sudah mencapai 20% dari hasil, lantas berapa yang didapatkan Pak Kotjot setelah dikurangi biaya untuk benih, pupuk dan pestisida, upah buruh untuk proses lainnya, pajak bumi bangunan, dst?

Tingginya biaya SDM ini mengakibatkan banyak pemilik tegalan nan pesimis bin males lebih memilih menelantarkan tegalan yang dimilikinya. Hal ini berakibat pada lahan pekerjaan yang makin menyempit. Beberapa tetangga Pak Kotjot yang cukup optimis bin kreatif memilih menanami tegalannya dengan tanaman keras bermodal kolektivitas. Masing-masing pemilik tegalan bergantian mengolah tegalan milik anggota paguyuban tersebut.

Sampai di sini, saya sempat bertanya kenapa praktek kolektif yang bisa menekan biaya ini hanya berlaku untuk tanaman keras, tidak untuk Pak Kotjot yang menanam padi. selidik punya selidik, rupanya hal ini didasari oleh terbatasnya tegalan yang menurut mereka layak untuk ditanami padi. Jarang ada petani padi dengan luasan yang setara di daerah ini. Kesulitan dalam konversi menyebabkan petani padi seperti Pak Kotjot untuk membuat paguyuban. Isu homogenitas ini menjadi penting rupanya dalam menggalang kolektivitas dalam pertanian.

Seandainya Saudara berada dalam posisi pak Kotjot, apa yang akan Saudara lakukan?

Pule (Alstonia Scholaris) dikenal dengan banyak sebutan: pulai (sumatera), lame (Sunda), polay (madura), hanjalutung (Kalimantan), kaliti, reareangou,; bariangow, rariangow, wariangow, mariangan, deadeangow, kita (Minahasa), rite (Ambon), tewer (Banda), Aliag (Irian), hange (Ternate), kayu gabus, Chatian;saitan-ka-jhad; saptaparna (India, Pakistan), Co tin pat; phayasattaban (Thailand), Australian quinine bark tree, bitter-bark tree, blackboard tree, chatiyan wood, Devil tree, dita bark tree, Milkwood tree, Milky Pine, white cheesewood tree, shajaratah fi asya al-harrah, Daivappala, dll.

Banyaknya nama dibarengi dengan banyaknya manfaat dari pohon ini, yang antara lain sebagai:

1. obat herbal untuk beragam penyakit

2. bahan baku furniture

3. bahan baku kerajinan (golek, patung, tatakan gelas, piring kayu, mainan, dll)

4. bahan baku pensil

5. bahan baku pulp dan kertas

6. bahan baku batang korek api

7. bahan baku papan tulis

8. bahan baku dalam pembuatan salon, sub woofer dll

9. tanaman perintis untuk lahan kritis

10. bahan baku pembuatan kotak kemasan (box)

11. kayu bakar (sudah pasti)

Segudang manfaat yang dapat dipetik dari pule mempercepat spesies ini mencapai kelangkaan. masyarakat lebih rajin menebang pohon ini daripada menabung. penebangan (liar maupun resmi) yang tidak diimbangi dengan penanamannya. Mau enaknya saja.

Untung saja, belakangan ini mulai tumbuh kesadaran di kalangan sebagian orang bijak di negeri ini untuk menanam pohon pule. entah karena dipicu oleh isu global warming maupun kesadaran berinvestasi untuk masa depan yang lebih baik.

isu kelangkaan pule mendorong lahirnya blog http://pule3.wordpress.com untuk memperkenalkan kembali pohon multifungsi ini sekaligus memfasilitasi penyediaan bibitnya.

 

                                                 gambar diambil dari situs ini.

Harian Kompas pernah menuliskan artikel tentang Hukum Rimba di Jalan Raya Jakarta yang dapat disimak di sini. Lepas dari artikel tersebut, banyak pendapat dapat dikemukakan, mulai dari arogansi pejabat tinggi di jalan raya, etika pengguna jalan raya, tidak efektifnya (penempatan) marka jalan raya, penegakan hukum (law enforcement), dan seterusnya. Beragam wacana sudah lama menyeruak, meski sampai sekarang kondisi yang ada tidak lebih baik dari sebelumnya, bahkan ada indikasi makin buruk. Apa pasal?

Salah seorang teman mengatakan pokok pangkal berlakunya hukum rimba di jalan raya adalah jenis penghuninya yang memang makhluk rimba. Saya yang serius dengerin minta penjelasan atas statemen yang rada sarkas tersebut. Yang bersangkutan dengan enteng mengatakan, coba siapa penghuni jalan raya? Bukankah mereka adalah para Bebek (sepeda motor), Tiger (sepeda motor), Kijang (mobil), Kuda (mobil), Jaguar (mobil), Kancil (bajaj), Kodok (mobil VW), Panther (mobil), Zebra (mobil Daihatsu)?

gubrak!

Umumnya, yang pertama terlintas begitu mendengar kata Nyonya adalah Nyonya Meneer. tapi kali ini bukan industri jamu cap potret tersebut yang akan aku tuliskan di sini.

Terinspirasi oleh bilboard iklan salah satu produk deterjen yang bertajuk I “love” NY(uci, etrika) , maka keisenganku otak atik gatuk seketika timbul dan baru kali ini bisa diposting di sini.

ternyata, nyonya emang pas banget disingkat dengan NY karena beberapa alasan berikut ini:

1. NYenengin Tuan (suaminya): para suami pasti setuju dengan tugas pokok dan fungsi ini ;-)

2. NYanyi buat Nona: Tuan yang berusaha me-ninabobo-in nona justru jadi bahan ketawaan dalam salah satu iklan pelembut pakaian.

3. NYuci: pekerjaan domestik yang some how melekat pada tanggung jawab ibu rutang, terutama kalau asisten/PRT pulang kampung.

4. NYeterika: idem dengan NYuci

5. NYayur: idem dengan NYuci

6. NYuruh: setidaknya terlihat dalam relasinya dengan asisten/PRT.

7. NYisir: doyan berdandan lama di depan kaca, atau (more…)

berikut asal usul nama kingkong dan “turunannya” menurut sohibul hikayat (terima kasih kepada temen mas Moch Ardan atas ijinnya buat admin untuk nayangin di blog ini) .

Mengapa King Kong digunakan untuk nama Kera atau Monyet Raksasa ?
Mengapa tidak digunakan nama Great Ape, King Monkey, Giant Ape, Giant Monkey atau yang lainnya ?

Menurut ahli bahasa, kata King Kongberasal dari bahasa Inggris dan bahasa Latin, yang artinya Raja Monyet. King artinya Raja (bahasa Inggris) dan Kong artinya Monyet (bahasa Latin).

Berik ut adalah kata-kata yang terkait dengan Kong :

1. Kong Kali Kong:
Artinya banyak Monyet ! Bayangin, Monyet dikalikan dengan Monyet !

2. Kong Res (Kongres) :
Artinya Monyet Ngumpul ! Res singkatan dari Residu, sisa yang terkumpul.

3. Kong Kow :
Artinya, Monyet Gaul ! Kow dari bahasa Mandarin non-formal yang artinya main, bergaul atau ngerumpi. (more…)

Setelah membaca liputan6 baru tahu bahwa ternyata cinderamata relief (candi) itu terbagi setidaknya menjadi dua. Yang pertama terbuat dari batu (gelondongan, maksudnya batu pipih sebagai medium) terus dipahat (aliran mPrumpung; merujuk pada sentra pahat patung yang berlokasi antara borobudur-muntilan). Yang kedua terbuat dari serbuk batu (limbah) terus dicetak (aliran ngKretek; merujuk pada home industry yang berlokasi di Karangrejo, sebelah barat bumisegoro).

relief van kretek

Sumber foto: liputan6.com

(more…)

atas ajakan temen di fs aku iseng mengunjungi “kota kecil”-nya. rupanya yang ia maksud adalah semacam simulasi online yang disediakan oleh myminicity.com. iseng-iseng hari ini juga aku bangun bumisegoro di situ.

kampung virtual bumisegoro

caranya sangat sederhana, tanpa perlu registrasi, ga perlu download dan yang paling penting nih, ga perlu bayar alias gratis. Cukup pilih negara dan bikin kota virtual yang ente pingin bangun. Terus penduduknya darimana? Pengunjung dari suatu kota virtual secara otomatis akan dihitung sebagai warga kota tersebut. Di situ juga ada papan meninggalkan pesan (shout box) yang bisa diisi.Seperti lazimnya simulasi kota (kayak SimCity), dengan bertambahnya populasi penduduk maka kota tersebut akan berkembang. penasaran? Coba klik aja di http://bumisegoro.myminicity.com

juga di http://borobudur.myminicity.com (belum nemu nih gimana caranya bikin candi borobudur di situ, hehehe).

warning:

penulis tidak bertanggung jawab jika ente jadi ketagihan main simulasi ini ;-)

« Previous PageNext Page »