kemarin ada info yang bikin aku tepar seketika. bermula dari temen yang dalam waktu dekat akan pindah rumah ke daerahku. sebelum pindahan ybs mencari sekolah untuk anaknya yang masih SD dan masuk SMP. untuk anaknya yang masih SD, biaya masuk ke SD dengan jarak terdekat dari rumah barunya ga tanggung-tanggung. ya, 25 juta dan tiap bulan masih kudu bayar 1 juta untuk spp. belum termasuk biaya catering, biaya antar jemput dll.

emang sih SD yang di belakang namanya ada embel-embel Islamic School ini mayan beken. tapi 25 juta gitu loh. wajar aja jika pas jam anter sekolah jalanan di sekitarnya macet habis oleh lalu lintas boil-boil pribadi sopir/ortu yang nganter anak di sekolah ini.

jadi inget pas aku masih SD di “Nglegok”, SD muhammadiyah yang terletak di lembah antara Sabrangrowo dan Kujon, uang masuk tidak lebih dari 5 ribu ripis dan spp per bulan tidak lebih dari 500 ripis aja waktu itu udah terbilang paling mahal dalam radius beberapa kilo meter.

perbandingannya menarik nih.

  • yang satu labelnya muhammadiyah dan yang satunya lagi islamic school
  • beda zaman selama 27 tahun
  • rasio biaya uang masuk lebih dari 5.000 kalinya
  • rasio biaya spp per bulan lebih dari 2.000 kalinya
  • kualitas pendidikan ???

apakah di daerah selain jakarta, juga mengalami hal serupa?

trus, dengan biaya pendidikan segitu kira-kira guru-gurunya pada tajir ga ya?

sudah lama ga makan kue ape tiba-tiba tadi pagi lihat abang-abang yang jualan di deket kolong dukuh atas. karena sambil lalu ke kantor jadinya agak buru-buru. beli yang ada aja tapi itu pun ga tahunya uang kecil di dompet terbatas. terpaksa nyodorin satu lembar 50an ribu. untuk ukuran sepagi itu sebetulnya kasihan buat si abang, tapi apa mau dikata. yang bersangkutan pun sempet bingung karena naga-naganya dia ga ada uang kembalian dan di tempat itu cuma dia seorang yang berjualan.

sempet bilang batal aja, ga jadi beli kalau ga ada kembalian karena aku juga ga ada receh. tapi melihat ekspresinya jadi ga tega dan coba dulu  berusaha cari-cari receh di tas, barangkali ada harta karun… dan ternyata oh ternyata emang ada pas seharga kue ape tadi dan lebih 100 ripis. ekspresi si abang berubah jadi semringah… kalau udah rejeki emang ga akan kemana ya bang… :-)

di kalangan pedagang kaki lima, penglaris (buka dasar) merupakan transaksi yang sakral dan akan dijaga suasananya. tidak heran jika untuk penglaris mereka rela ngasih harga khusus atau bonus…. yang penting deal, mereka ga rugi dan transaksi tetep berjalan lancar. kata sebagian pedagang yang pernah aku ajak ngobrol, penglaris jadi semacam cermin bagaimana transaksi yang akan mereka dapatkan di hari itu. jika transaksi awal sudah bermasalah, bawaannya hari itu akan bermasalah juga. sebagian malah punya ritual mengibas-ibaskan uang hasil transaksi penglaris ini ke barang dagangannya. dengan mengucap mantra laris, laris,laris. tentu saja jika uangnya kertas, kalau receh ya beda lagi caranya hehehe.

di luar validitas mitos tersebut, secara psikologis, transaksi awal ini emang jadi semacam mood setter bagi pedagang. mood bagus pada saat dapat penglaris akan coba dia pertahankan sampai dia pulang.

dalam konteks ini sebagai konsumen alih-alih aji mumpung, alangkah eloknya jika bisa membantu mereka, dengan melancarkan transaksi tersebut.

di kalangan yang lebih luas, penglaris muncul dalam istilah early bird.  kurang lebih nuansa batinnya juga sama…

setelah sekian lama vakum ngeblog akhirnya menyempatkan diri barang sebentar corat coret. judul di atas sekedar pembenaran atas rasa males. load gawean emang lagi tinggi, tapi itu bukan alasan yang dapat diterima sepenuhnya…. sebenarnya hehehe

btw, antara nyepi, kampanye dan earth hour menarik juga dihubung-hubungkan.

1. antara nyepi dan kampanye
dua hal ini apa ga saling bertentangan ya? apajadinya kampanye dalam sepi? sepi ing pamrih rame ing gawe? yg terakhir ini juga bukan tipikal kampanye partai/caleg di kita dech.

2. antara nyepi dan earth hour.
bisa ga ya nyepi dikategorikan earth day? bukankah nyepi diadakan tiap tahun dan “aktivitas puasa” a mati geni (tanpa api) merupakan salah satu bagian penting dari caturbrata dalam perayaan nyepi?

3. antara earth hour dan kampanye
jarang banget dech partai/caleg yg mengkampanyekan lingkungan dalam prioritas atasnya. atau aku yg ga update? yg ada aktivitas dalam kampanye turut berkontribusi mencemari. lihat saja spanduk dan poster yg merusak lingkungan baik lingkungan sosial maupun lingkungan hidup. baik secara materi maupun penempatannya.

4. last but not least… antara nyepi dan ngeblog
bukannya dalam nyepi ada a mati karya (tidak mengerjakan apa2). kenapa justru dalam momen menjelang nyepi bangun dari tidur panjang dalam ngeblog?

mbuh ah… sambil membayangkan eksotisnya suasana bali dalam suasana nyepi (karena belum pernah maksudnya)..

Dalam rangka menyemarakkan syiar islam, ulama seringkali mereka/mengadaptasi tradisi sehingga ibadah yang sifatnya transendental menjadi kegiatan komunal. menggeser aktivitas privat antara hamba dengan Tuhannya menjadi kegiatan berjamaah, lengkap dengan serba-serbi yang mengiringinya.

Dalam menyemarakkan 10 hari terakhir Ramadan, tradisi yang antara lain berkembang adalah mengejar malam seribu bulan (lailatul qadar) dengan menggelar malam likuran. Sesuai hitungan hari dari puasa yang sedang dijalani. selikuran (malam 21), telu likuran (23), selawe (25), pitu likuran (27) dan songo likuran (29).

Meski secara matematis ada lima malam ganjil, tapi tradisi likuran punya preferensi tersendiri. Di Bumisegoro, malam paling rame terjadi pada malam selikuran dan pitu likuran. di kedua malam ini biasanya acaranya lebih rame dari biasanya.

serba-serbi dalam malam likuran di Bumisegoro yang cukup khas adalah tradisi jaburan. gotong royong dalam menyediakan konsumsi bagi acara likuran yang biasanya dilangsungkan di masjid/mushola besar. sistem yang berlaku adalah giliran, kuantitas dan kualitas jaburan seikhlasnya.

tiap tahun biasanya jaburan memiliki trend sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi serta “selera pasar”. meski ada beberapa jenis makanan seperti lumpia, pisang goreng, tahu pong (sejenis tahu sumedang) dan beberapa gorengan lain yang sepertinya tak lekang di makan waktu selalu digemari.

tradisi lain yang menyertai malam likuran di Bumisegoro adalah khataman (selesai membaca quran) yang biasanya ditandai dengan, again, makan-makan. biasanya ada acara potong ayam yang dedicated untuk yang ikut darusan, baca Quran secara kolektif dengan sistem sambung menyambung secara bergantian.

Misalnya si A baca 100 ayat, B melanjutkan 90 ayat berikutnya, C melanjutkan 5 halaman berikutnya dan seterusnya. Alhasil, kegiatan ini tidak berat karena sifat tanggung rentengnya. semangatnya adalah bertolong menolong dlm kebajikan dan takwa (wata’awanu ‘alal birri wat tawqa).

Sepertiga malam yang terakhir adalah waktu yang afdhol untuk berkhusuk masyuk dengan sang Khalik. Waktu yang tepat untuk menghidupkan malam ber-qiyamul lail; menggelar sajadah, memohon ampunan dan menengadahkan tangan.

rumus sepertiga masa yang terakhir sebagai momen istimewa juga berlaku di bulan Ramadan, yang dikenal sebagai iktikaf. Sesuai rumusan, jatuhnya pada sepuluh hari terakhir bulan ramadan. jumhur ulama sepakat mengenai hal ini.

istilah no pain no gain berlaku di sini. untuk menghidupkan malam bukan perkara gampang krn sepertiga malam adalah waktu paling enak buat tidur. waktu yang enak banget untuk narik selimut dan mengambil posisi tidur yg lebih nendang.

demikian halnya dengan sepertiga akhir ramadan. waktu yang lebih sering dipakai untuk ngurus serba-serbi persiapan lebaran. bagi perantau, tentu saja agenda utamanya adalah persiapan mudik dan mudik itu sendiri. yg ga mudik jg ga kurang acara krn daftar belanja pada momen ini umunya lebih panjang dari biasanya.

lantas kapan iktikafnya?

di tvri yogya tahun 90-an salah satu acara yang digemari masyarakat ngayojokarto dan sekitarnya adalah “mbangun deso” dengan tokoh-tokoh seperti Den Baguse Ngarso, Kang Kuriman, Pak Bina, Sronto dkk. Yang ditunggu-tunggu siapa lagi kalau bukan Den Baguse Ngarso, karakter kemaki bin nyebelin yang justru jadi primadona acara ini. ga tahu nih, sekarang masih tayang ga di TVRI Yogya. kalaupun masih, entah masih digemari atau tidak di jaman yang menganggap klompencapir sebagai basi ini ….

postingan ini merupakan rangkaian dari postingan sebelumnya, permainan simulasi kota secara daring (online). yang ini simulasinya membangun desa. kalau den baguse ngarso lewat petuah petitih dari pak bina, yang ini murni permainan :-)

desa bumisegoro meski baru mulai kemarin, udah merambah ranah maya yang ini juga…. ini dia status per hari ini di http://www.travian.co.id

perkembangan desa bumisegoro di travian per sebelum mudik adalah sbb:

bumisegoro@s1.travian

bumisegoro@s1.travian

mengadakan pesta pernikahan di kapal pesiar mungkin jadi impian di siang bolong bagi kebanyakan orang. Bagi yang pundi2 ripisnya ga sebanyak itu, mimpi itu bisa dibelokkan tempatnya ke moda transportasi yang “membumi” dengan harga cukup terjangkau. Yups, terkait terobosan menarik yang dilakukan PT Kereta Api Indonesia. spektakuler untuk ukuran BUMN. Sebagaimana dirilis koran Republika Senin, 02 Juni 2008. Di tengah ketatnya persaingan transportasi antar moda (kereta VS montor mabur, kereta VS travel, kereta VS bus) dan sulitnya nyari gedung pernikahan, ide ini sungguh cerdas. penasaran aja, siapa yang bakal jadi customer pertama. bisa masuk MURI nih…. :-)

Selamat Datang Gerbong Pengantin

Di tengah kemurungan bangsa ini akibat berbagai persoalan yang silih berganti datang melanda, masih ada beberapa kabar yang bisa membuat tersenyum. Salah satunya, program ‘gerbong pengantin’ yang segera diluncurkan PT Kereta Api (KA). Apa pula itu?

Terdengar agak menyimpang dari kelaziman, memang. Namun, mulai Juni 2008 ini, acara pernikahan tak hanya akan digelar di hotel, gedung serbaguna, tempat ibadah, kapal pesiar, atau di rumah-rumah, tapi juga di atas kereta api. Ada paket-paket yang disediakan.

Mulai proses ijab kabul, resepsi dengan pelaminan dan tamu-tamu, hingga malam pertama, akan berlangsung ditingkahi ‘gempa-gempa kecil’. Membayangkan goyangan sepanjang jalan itulah, di internal PT KA, muncul sebutan pelesetan untuk program itu: ‘kereta goyang’

Kepala Humas Daerah Operasional (Daop) I PT KA, Ahmad Sujadi, mengatakan gerbong pengantin terinspirasi dari penyelenggaraan dialog Seabad Kebangkitan Nasional di atas kereta, 17 Mei lalu. Kalau dipakai seminar bisa, tentu pernikahan pun bisa. ”Toh, tidak jauh beda.”

Tapi, tak sekadar menawarkan tempat baru, yang lebih ingin ditonjolkan justru nuansa serba kereta. ”Undangan pernikahan, suvenir, dan segala macamnya, serba kereta api,” kata Ahmad Sujadi. (lagi…)

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »