Kabar menarik bagi Anda yang suka berpesiar atawa travelling. Sekarang, berwisata ke Borobudur bukan lagi hanya sekedar datang, naik ke candi Borobudur, jeprat-jepret terus sesudah itu pulang.

Ya, sudah bertahun-tahun lamanya tipikal wisata singkat ke Borobudur ini berlangsung.  Selama ini Borobudur sebagai destinasi wisata hanya berhenti pada candi Borobudur an sich. Selebihnya, bali wae ke Yogya. Tidak heran jika mayoritas orang yang pernah berwisata ke candi Borobudur menganggap bahwa candi ini berada di Yogya.

Pola berwisata ini juga berakibat pada mudah bosannya wisatawan untuk datang lagi ke Borobudur. Bagaimana tidak kalau yang dilihat hanya batu semata, tanpa interaksi. Satu-satunya interaksi dalam pola ini paling banter hanya dengan pedagang asongan. Yang terjadi, kenangan wisatawan lebih membekas pada pengalaman dengan pedagang asongan yang kurang mengenakkan.

Nah, kabar baik yang dimaksud berupa berkembanganya beberapa desa wisata di sekitar candi Borobudur. Salah satunya ya Bumisegoro. Di banding desa-desa wisata di sekitarnya Bumisegoro menyimpan pesona sejarah sebagai desa tua yang menyejarah. Banyak yang belum tahu bahwa sejarah candi Borobudur tidak dapat dipisahkan dari desa ini. Selain itu kultur pertanian dan pola hidup masyarakat yang masih alami serta potensi berupa bentang alamnya sayang untuk dilewatkan.

Di mana?

Desa wisata Bumisegoro terletak di belakang candi Borobudur ini, tepatnya di sebelah barat dayanya. Jaraknya sepelemparan batu, jika saja akses dari pintu selatan dan barat daya PT Taman Wisata Candi Borobudur dibuka. Dalam kondisi akses langsung tidak dibuka, dengan alur memutar pun tidak akan lebih dari 5 km. Baik melalui rute timur (Candi Borobudur, Ngaran, Ngaran Ngisor, Gopalan, Bumisegoro), rute selatan (Hotel Aman Jiwo, Majaksingi, Tuksongo, Tanjung Sari, Bumisegoro), rute utara (Candi Borobudur, Kujon, Sabrangrowo, Bumisegoro), atau rute barat (Candi Borobudur, Gunung Bakal, Bumisegoro).

Posisi Bumisegoro dari Candi Borobudur

Foto diambil dari brosur PT. TWCB

Apa yang ditawarkan?

Paket wisata yang ditawarkan desa wisata bumisegoro antara lain

Andong Village Tour. Dengan menggunakan andong, wisatawan bisa menikmati suasana desa dengan mengunjungi lokasi pembuatan kerajinan tradisional, pembuatan makanan tradisional, serta menikmati kesenian tradisional.

Anda juga bisa menikmati Kesenian rakyat yang berupa PITUTUR. Maknanya adalah mengajak dan menghimbau kita sebagai manusia agar selalu ingat kepada Sang pencipta. Seni Pitutur ini disertakan dalam acara saparan dan peringatan hari besar lainnya.

Selain pitutur ada juga kesenian rakyat TOPENG HITAM, yang merupakan penggabungan seni tari dengan gerakan bela diri. Dalam pementasannya seringkali diiringi dengan kesenian barongan dan atraksi obar-abir / atraksi api. Biasanya kesenian ini untuk mengiringi acara khitanan, pernikahan dan penyambutan tamu.

Ziarah juga menjadi salah satu paket wisata di desa wisata bumisegoro. Ziarah dilakukan di makam Mbah Wonosegoro yang merupakan cikal bakal tanah dusun Bumisegoro Borobudur. Kegiatan ini dilakukan setiap malam jumat Kliwon serta tradisi sadranan setiap bulan Ruwah.

Sementara untuk wisata alam, Bumisegoro menawarkan beberapa potensi alamnya, antara lain

Sendang wadon, yang konon merupakan tempat mandi para dewi sehingga dipercaya bisa membuat awet muda, bersih bersinar serta enteng jodoh. Sendang ini biasanya digunakan pada acara padusan menjelang bulan puasa, dan jamasan bagi gadis-gadis yang hendak dipinang. Sehari-hari, masyarakat bumisegoro juga memanfaatkan sendang ini untuk keperluan mandi dan mencuci. (Sampai segede ini baru ngerti kali kebon tu tempat mandi para dewi dan bikin awet muda, pantes aja, meski udah kepala 3, serasa masih anak kuliahan :P – efek mandi di kali kebon waktu kecil-)

Pemandian batu abad, merupakan pancuran nganten yang terletak di sebelah selatan candi Borobudur dengan batu besar yang memiliki beberapa mata air yang sangat jernih dan terbagi menjadi dua pancuran.

Bagi Anda yang kangen dengan suasana desa, agro wisata padi juga bisa menjadi alternatif untuk paket tour di desa wisata ini, Tentu untuk paket ini tergantung pada musim.

Sementara kerajinan yang ada di Bumisegoro juga bisa dinikmati, antara lain kerajinan dari kayu yang didesain sebagai tempat buah, asbak, tempat tissue, alat pijat, mainan anak-anak, dll.

Ada juga kerajinan bambu yang diolah rnenjadi bollpoint, kalung, gelang, juga ikat pinggang.

Juga ada kerajinan hiasan berupa binatang diawetkan dalam kemasan kaca yang menarik.

Akomodasi/Fasilitas yang disediakan?

Fasilitas juga cukup memadai, didukung infrastruktur jalan yang lumayan bagus. Untuk penginapan, Anda tidak perlu khawatir.   Tercatat, ada sekitar 28 homestay dengan 56 kamar berkapasitas 112 orang dengan harga yang cukup terjangkau.

Kisaran harganya untuk room only dengan ukuran bed 160×200 hanya Rp. 120.000,- jIka ditambah sarapan cukup merogoh kembali kantong Rp. 30.000,- . Sedangkan untuk fullboard (3 rooms) dengan ukuran bed sama harganya sekitar Rp. 750.000. Harga itupun bukan harga mati, karena wisatawan juga bisa memilih harga sesuai kantong. Jika mau dihitung perorangan, satu orang menginap di homestay bumisegoro berkisar Rp. 100.000, per malam, sedangkan untuk anak sekolah Rp. 30.000,- per malam.

Hubungi kami

Ciptakan kenangan indah berwisata ke Borobudur. Datanglah untuk berinteraksi dengan alam dan masyarakat di mandala Borobudur, desa wisata Bumisegoro.

Anda tertarik?? Bisa menghubungi Panji di nomor 082 135 118 055.

Sudah lama tidak nulis jadi tergelitik melihat ada foto anak-anak Bumisegoro di atas. Foto ini diambil tanpa izin dari wesitenya Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (http://tnp2k.wapresri.go.id). judulnya Tarian Anak di Desa Bumisegoro-Borobudur-Magelang, Upaya Sinergitas Program PNPM.

Idenya bagus, untuk mengakali keterbatasan dana, dibuatlah sinergitas antara pengembangan destinasi pariwisata dan PNPM Mandiri. Sebagaimana nampak dari foto di atas, fokus utama foto adalah dua pejabat dari instansi terkait. Pak Firmansyah Rahim (berambut putih, teknokrat dari Bappenas, sempat beberapa waktu di Setneg, staf ahli menteri Pariwisata dan kemudian menjadi Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata) dan Dr. Sujana Royat, DEA (Deputi Menko Kesra Bidang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan yang juga Ketua Pelaksana Pokja Pengendali PNPM Mandiri). Secara garis besar sinergitas 2 instansi ini hanya bagian kecil dari big picture sinergitas yang dikehendaki, sinergitas lintas stakeholder. melibatkan semua instansi dan institusi lain yang berkepentingan. Misalnya kementerian pertanian, PU, pendidikan, agama, sosial, masyarakat, pengusaha dst.  Filosofinya adalah fokus.

selama ini yang terjadi anggaran yang terbatas dibagi ke banyak titik sehingga hanya sekali datang dan kemudian hilang, tidak berbekas. Diibaratkan rintik gerimis yang tersebar di banyak tempat. Belakangan, setelah sekian lama pendekatan divergen seperti itu tidak membuahkan hasil muncul kesadaran untuk merubah pola menjadi pendekatan konvergen, melalui sinergitas, diibaratkan hujan yang “awet gede” di sedikit lokasi terpilih, dengan frekuensi dan intensitas yang memadai. Menurut hemat penulis 200 desa wisata yang menjadi “fokus” 5 tahun awal kementerian pariwisata juga masih terlalu banyak alias kurang fokus.

sinergi 2 instansi ini merupakan awal yang baik, karena selama ini kendala untuk konvergensi/sinergitas ada pada ego sektoral dari masing-masing instansi.  selain ego sektoral, secara teknis kendala muncul karena ketiadaan master plan yang menjadi jembatan di antara masing-masing pemangku kepentingan.

momentum awal yang baik ini semoga terjaga secara konsisten. karena konsistensi adalah kendala laten dalam program-program yang diinisiasi pemerintah. Untuk itu peran serta masyarakat untuk secara proaktif berpartisipasi dan mengawal menjadi kata kuncinya.

kenapa masyarakat kudu repot? karena hal ini menyangkut kesejahteraan mereka sendiri. Sebagai gambaran, di Borobudur saat ini secara resmi ada 3.500 lapak pengasong yang datang dari 20 desa sekitar. Kalau musim liburan sekolah atau lebaran, jumlah pedagang asongan bisa lebih dari dua kali lipatnya. Kalau desa wisata bisa berkembang bukannya para pengasong ini bisa menyebar, tidak tumplek blek di candi borobudur.

Hitung-hitungan kasarnya begini. Pada hari-hari biasa, jumlah pengunjung Candi Borobudur berkisar 2.000 hingga 4.000 orang per hari. Namun, khusus pada saat liburan seperti musim liburan sekolah dan Lebaran, jumlah pengunjung bisa membeludak mencapai 40.000 hi ngga 50.000 orang per hari. Anggap saja, 5 % dari jumlah pengunjung itu bisa ditarik ke desa wisata di sekitar Candi Borobudur. Bukankah masih angka yang bisa nguripi (memberi nafkah)?

salah satu faktor krusial adalah itikad baik dan kerjasama dari pengelola candi Borobudur untuk memfasilitasi sepenuhnya. Mulai dari membuka akses dari Candi Borobudur ke desa wisata di sekitarnya, menjadi dirigen pengembangan wisata kawasan, memberi bimbingan teknis dll. Intinya jadikan pengelola candi borobudur sebagai DMO, beri mereka target terkait pengembangan pariwisata kawasan dan ukur kinerjanya.

menarik juga menyimak satu footnote di bawah ini. penjelasan tentang pergantian dari bhumisambhara menjadi bumisegara di dalamnya masih kurang puas. ada info yg lebih valid?

kembali paradoks terjadi di negeri ini…

masa’ polisi syariah (wilayatul hisbah) main perkosa… sembarangan banget.  semprul bin malu-maluin.  aku pagi-pagi sudah kesel berat setelah baca beritanya di jakarta post ini. orang kebanyakan (rakyat jelata) memperkosa itu namanya penjahat kelamin. lah ini, polisi syariah, apa namanya? penjahat kelamin kuadrat nan bejat… harus dihukum berat.

pagi ini baru baca artikel Di Tanjungsari Ditemukan Dua Kepala Arca Budha di Surya Online.

Tanjungsari sendiri terletak di sebelah selatan Candi Borobudur, setelah dsn Bumisegoro dan kali Sileng.

saat baca artikel tsb, ada yang mengganjal… biasanya penemuan arca atau benda purbakala seperti ini cenderung berupa benda kuno tetapi yang satu ini kok benda “kemarin sore”. coba dech dicermati potongan artikel dari Surya Online di bawah ini:

Potongan arca tersebut, lanjut Wiwit, kemungkinan merupakan bagian kepala arca di Borobudur dapat dilihat dari baut penyambung kepala arca dengan badan yang berupa mur besar.

“Cara penyambungan identik dengan cara yang dilakukan Van Erp dari Belanda saat pertama kali memugar candi. Ahli dari konservasi juga menyebut potongan kepala itu identik dengan patung Budha di Borobudur,” tuturnya.

apakah berarti bahwa dua kepala arca ini “berpindah” pada saat pemugaran? jika ya, sebetulnya tidak terlalu aneh karena kesadaran masyarakat memang belum tinggi. fakta lain penulis dapatkan pada saat pemugaran terakhir (era 80-an) saat banyak tetangga ikut bekerja dalam proyek tsb. Sebagian dari mereka memiliki “rasa memiliki” yang tinggi dengan membawa pulang beberapa oleh-oleh berupa papan kayu jati kelas A yang mereka sebut pallet.  padahal pallet ini di rumah mereka juga kurang berguna, hanya dipakai buat hal-hal yang remeh temeh dan seringkali tidak pada tempatnya.  Sangat tidak menghargai kualitas dari pallet tsb. tapi namanya juga barang curian.

apakah kepala arca ini nasibnya sama dengan pallet yang dipindahin tetanggaku?

fakta bahwa kepala arca tersebut ditemukan pada kedalaman 30 cm juga dapat dicermati secara tersendiri. kedalaman yang rendah…  yang lazim bagi masyarakat setempat dalam membuat lubang tanam, lubang pembuangan sampah atau lubang untuk menyembunyikan sesuatu….

perlu undang detektif monk untuk menganalisis kasus ini :-)

Berdasarkan informasi yang penulis terima, saat ini ada program pemerintah yang bernama PNPM mandiri bidang pariwisata. Khusus untuk kecamatan Borobudur,  tahun 2009 ini direncanakan ada 5 desa yang menjadi target pengembangan.  Salah satunya adalah Bumisegoro.  terima kasih buat pak Maladi yang sangat concern terhadap hal ini. Ada apresiasi khusus dari Pak Bakri dan timnya dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata atas antusiasme dan kerjasama yang ditunjukkan pak Maladi.

yang menjadi pertanyaan, apa konsep desa wisata yang akan dikembangkan?

selama ini ada 3 tipe desa wisata yang dikembangkan pemerintah. pertama desa tujuan wisata dimana desa wisata menjadi daya tarik yang dapat memikat dan menarik wisatawan (wisman, wisnus) untuk datang berkunjung. kedua, desa pendukung suatu obyek daya tarik wisata. ketiga, desa pendukung usaha pariwisata.

sejarah mencatat bahwa sejak candi borobudur didirikan bumisegoro adalah pendukung setianya. yang terjadi justru pengelola candi borobudur yang terkesan meninggalkan bumisegoro.  konsep mandala yang dulunya menyatukan candi borobudur dengan lingkungannya diblok oleh pengelolanya secara fisik dengan pagar pembatas yang pintunya selalu tertutup. alhasil, bumisegoro sekarang ini dipantati oleh kompleks Taman Wisata Candi Borobudur. Dulu wilayah Jaten, Tobong, Dagi adalah jalur sutra bagi warga bumisegoro ke arah utara dan timur laut.   Sekarang dengan pagar menjulang setinggi 2 meteran, warga bumisegoro harus ngalang (menempuh jalan memutar) melalui ngaran ngisor atau kujon. tidak heran jika banyak warga bumisegoro yang harus memanjat pagar untuk menuju kawasan candi atau sebagai jalan pintas menuju lokasi lain (ke pasar/terminal bus) misalnya.

terputusnya aksesibilitas ini menjadi cermin bagaimana orientasi pengembangan candi borobudur dalam perspektif warga bumisegoro. hal ini berpengaruh besar bagi perkembangan sosial dan ekonomi warga bumisegoro. Karena dipantati, dibelakangi dan ditinggalkan membawa dampak tidak menerima manfaat nyata secara signifikan dari keberadaan candi ini.

kembali ke topik desa wisata, menurut hemat penulis hal pertama yang harus dirubah adalah aksesibilitas antara candi borobudur dengan bumisegoro. pertama, pintu di wilayah Gebang (sisi barat daya candi, dekat kandang gajah) harus dibuka. apalagi secara historis titik ini pernah menjadi pintu masuk utama candi borobudur (periode awal 80-an). Selain masalah pintu dan konektivitas perlu dipikirkan juga sarana transportasi multimoda. alternatif yang kepikir adalah: gajah, andong/delman/kereta kuda, kereta mini, becak, dan kendaraan roda empat yang lazim (bus, mobil carteran, angkot).

yang kedua adalah mengembangkan atraksi wisata sebagai daya tarik bagi wisatawan untuk datang ke bumisegoro. untuk itu harus dipetakan potensi yang dimiliki bumisegoro dan sekitarnya…. yang penulis tahu antara lain kali sileng,  industri kecil (pembuatan tahu di Gopalan, pembuatan cenderamata seperti ukiran bambu), aktivitas budaya (nyadran, yasinan, selapanan, krida siswa, dayakan, kuntulan, gatoloco, permainan anak-anak/dolanan bocah), pertanian (membajak sawah/ngluku/nggaru, menanam padi/palawija, panen dengan ani-ani plus ngiles sampai bawon, pengolahan daun tembakau), kuliner (apem, sego megono, lentho pethek, peyek belut dari daun singkong, gaya baru, bubur sayur, pergedel talas, jenang baning, jenang candil, jenang ketan, jajanan pasar dll). apa lagi ya? masing-masing daya tarik tersebut harus diplot ke dalam kalender kegiatan (calendar of event) tiap tahunnya yang diusahakan untuk selalu konsisten sehingga memudahkan dalam kegiatan promosi dan pemasaran.

dari potensi yang ada tersebut dapat dipilah mana yang bisa dilihat (sebagai obyek tontonan pasif), dirasakan (wisatawan bisa ikut terlibat di dalamnya) dan dibeli oleh wisatawan (cendera mata). pengembangan potensi ini dapat mentransformasi bumisegoro untuk menjadi desa wisata dengan titik berat pada pendukung obyek daya tarik wisata (candi borobudur), tetapi dapat juga menjadi daya tarik tambahan sehingga mengurangi beban yang dirasakan candi borobudur (intensity dan density dari pengunjung yang selama ini tumplek blek terutama pas peak season, misal lebaran). dengan demikian bumisegoro menjadi salah satu sabuk hijau (green belt) dan sabuk budaya bagi candi borobudur.  pengembangan potensi juga dapat dilakukan melalui intensifikasi pertanian untuk mendukung hotel-hotel yang ada di sekitar candi dan usaha-usaha pariwisata lainnya.

yang ketiga adalah perlunya dibuat paket wisata yang berisi pola perjalanan wisatawan dimana wisatawan tidak cuma numpang lewat bumisegoro tetapi singgah dengan waktu yang cukup. misalkan paket A, naik gajah dari borobudur, bumisegoro baru ke tanjung sari, … sampai ke hotel Amanjiwo. paket B, dari borobudur naik kereta ke bumisegoro, gopalan, ngaran ngisor, kembali ke borobudur (lewat pintu sebelah manohara).  paket C dari borobudur, bumisegoro ke kretek, bumen, bumisegoro, balik lagi ke borobudur dengan rute yang berbeda. paket D dari borobudur, bumisegoro, gunung bakal, maitan, kujon, dagi, borobudur. paket E dari borobudur, bumisegoro, tanjung sari, kalitengah, seganan, ngaran, borobudur. dan seterusnya…

paket tadi lebih berorientasi untuk kunjungan siang, padahal beberapa daya tarik lebih afdol kalau dinikmati malam. untuk itu homestay dapat dipertimbangkan untuk dibangun disamping kerjasama dengan losmen/hotel yang sudah ada.  perlu ditekankan di sini model kerja samanya bersifat dua arah. disamping memfasilitasi akomodasi (penginapan dan makan)bagi  wisatawan, pihak losmen/hotel juga harus memasarkan dan menjual desa wisata kepada wisatawan.

dukungan inilah yang paling dibutuhkan agar bumisegoro sebagai desa wiata dapat memberi manfaat nyata. dukungan lain tentu saja diperlukan, antara lain dalam bentuk bimbingan teknis, pelatihan dan dana.

kemarin sore, sekitar pukul 17.45 di jl kayu manis condet ada sebuah mobil MPV (sejenis kijang) warna coklat muda yang nyerempet penulis yang sedang berjalan tepat di pinggir jalan aspal. batas antara jalan aspal dengan pinggiran got yg ditutup semen (blok) oleh pemilik rumah di situ. maklum, ini jalan lingkungan, bukan jalan raya. meskipun jalan lingkungan, lebar jalan ini cukup untuk 2 mobil MPV berpapasan.

kondisi jalan saat itu tidak ramai, dan mobil tidak sedang berpapasan dengan kendaraan lain. yang ada cuma motor di belakang mobil. jelas sekali mobil itu terlalu mengambil ke kiri dan tidak memperhitungkan spion dan pejalan kaki.

tanpa ba bi bu… tiba-tiba seperti ada yg menampar lengan kananku. rupanya spion mobil telah menghajar lenganku sampai spion itu menutup. tentu saja tidak nyaman kesampluk seperti itu. masih untung laju mobil tidak kencang.

sebelnya pengemudi tidak merasa bersalah apa-apa. tidak turun, sekedar menanyakan ga apa-apa kan? minta maaf atau apa. yg ada dia mengemudikan mobilnya seolah tidak terjadi apa-apa dan membetulkan spion mobil kira-kira 100 m dari TKP. tepatnya, persis di depan rumah penulis.

reaksiku saat itu, menunggu reaksi pengemudi. begitu ga ada gelagat berhenti langsung lihat-lihat sekeliling nyari batu. tapi segera aku urungkan melempar mobil itu krn ingat bahwa aku masih puasa dan tinggal sebentar lagi buka.

seandainya saat itu tidak puasa, niscaya sudah aku lempar mobil itu dengan batu. anarkis? emang, tapi itu perlu dilakukan untuk aksi tabrak lari seperti itu. apalagi aku jalan cuma 100an meter dari rumahku sendiri.

semoga pelaku atau keluarganya membaca postingan ini.

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.