kemarin sore, sekitar pukul 17.45 di jl kayu manis condet ada sebuah mobil MPV (sejenis kijang) warna coklat muda yang nyerempet penulis yang sedang berjalan tepat di pinggir jalan aspal. batas antara jalan aspal dengan pinggiran got yg ditutup semen (blok) oleh pemilik rumah di situ. maklum, ini jalan lingkungan, bukan jalan raya. meskipun jalan lingkungan, lebar jalan ini cukup untuk 2 mobil MPV berpapasan.

kondisi jalan saat itu tidak ramai, dan mobil tidak sedang berpapasan dengan kendaraan lain. yang ada cuma motor di belakang mobil. jelas sekali mobil itu terlalu mengambil ke kiri dan tidak memperhitungkan spion dan pejalan kaki.

tanpa ba bi bu… tiba-tiba seperti ada yg menampar lengan kananku. rupanya spion mobil telah menghajar lenganku sampai spion itu menutup. tentu saja tidak nyaman kesampluk seperti itu. masih untung laju mobil tidak kencang.

sebelnya pengemudi tidak merasa bersalah apa-apa. tidak turun, sekedar menanyakan ga apa-apa kan? minta maaf atau apa. yg ada dia mengemudikan mobilnya seolah tidak terjadi apa-apa dan membetulkan spion mobil kira-kira 100 m dari TKP. tepatnya, persis di depan rumah penulis.

reaksiku saat itu, menunggu reaksi pengemudi. begitu ga ada gelagat berhenti langsung lihat-lihat sekeliling nyari batu. tapi segera aku urungkan melempar mobil itu krn ingat bahwa aku masih puasa dan tinggal sebentar lagi buka.

seandainya saat itu tidak puasa, niscaya sudah aku lempar mobil itu dengan batu. anarkis? emang, tapi itu perlu dilakukan untuk aksi tabrak lari seperti itu. apalagi aku jalan cuma 100an meter dari rumahku sendiri.

semoga pelaku atau keluarganya membaca postingan ini.

weekend kemarin aku berdiskusi dengan seorang petugas dari salah satu lembaga amil zakat (lengkapnya lembaga amil zakat, infak dan sedekah atau disingkat LAZIS tetapi daripada rancu dengan nama lembaga maka aku pilih istilah lembaga amil zakat aja). dalam kesempatan itu aku sampaikan kekhawatiranku bahwa antar lembaga amil zakat tidak ada sinergi. sinyalemenku ini muncul dari pengamatan bahwa antar lembaga amil zakat terjadi tumpang tindih (over lap) di satu sisi dan di sisi lain ada ruang yang tidak tersentuh (white space).

jika overlap terjadi karena sangat sedikitnya penerima zakat tentu saja merupakan berita gembira karena dapat diartikan kesejahteraan masyarakat sudah tinggi. tapi hal ini segera terbantahkan dengan berita kelaparan di beberapa daerah baik yang disampaikan oleh media massa maupun orang-per orang yang sering turun ke lapangan.

back to basic, setahuku fungsi zakat secara makro adalah untuk mendistribusikan harta agar tidak berputar-putar di segelintir kalangan. dengan fungsi seperti itu, maka menjadi ironis jika zakat yang jumlahnya belum banyak itu (karena kesadaran umat yang belum optimal) masih berputar-putar di sedikit kalangan. belum lagi potensi tumpang tindih yang tidak kalah parahnya dengan distribusi zakat secara langsung dari wajib zakat (muzakki).

bagi mereka yang menerima double atau triple tentu akan merasa beruntung, lantas bagaimana dengan mereka yang tidak tersentuh? padahal mereka sangat membutuhkannya.

dari diskusi dengan petugas tersebut, informasi yang kudapat bahwa sebetulnya forum organisasi zakat sudah ada tetapi belum berfungsi optimal.

masih menurut petugas tersebut, tidak dapat dinafikan bahwa ada semacam persaingan yang tidak sehat di antara sesama lembaga amil zakat. masing-masing ingin tampil heboh dan menjadi yang paling duluan menggulirkan suatu program populer.

alangkah eloknya jika ada sinergi antar lembaga amil zakat, mulai dari hulu (promosi, penggalangan dana) sampai hilir (penyusunan program alokasi zakat, distribusi zakat). di sektor hulu, sinergi bisa mengefisienkan dana promosi tetapi dengan hasil yang lebih efektif.  dengan sinergi di sektor hulu ini dapat dibuat program-program spektakuler sehingga bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada lembaga amil zakat baik secara keseluruhan maupun lembaga per lembaga. sehingga ujung-ujungnya dapat menghasilkan nilai yang lebih optimal dalam penggalangan dana (high value fund raising).

di sektor hulu, koordinasi juga akan meminimalkan tumpang tindih dan white space. katakanlah ada semacam konsensus kapling A (misalkan segmen orang jompo) siapa yang garap, kapling B (misalkan segmen anak usia sekolah) siapa dst. Program dari masing-masing lembaga juga bisa disinergikan sehingga harapannya ada pemberdayaan, tidak sekedar membagi. harapannya mereka yang menerima zakat tahun ini, hopefully tahun depan justru akan memberikan zakat. tidak stagnan jadi penerima zakat terus menerus, atau dengan kata lain berhasil dientaskan dari kemiskinan.

sinergi ini menjadi urgent mengingat sekarang ini dana yang terkumpul di lembaga amil zakat baru beberapa persen dari potensi yang sesungguhnya. dari dana yang masih terbatas ini kalau tidak dikelola dengan semestinya akan kurang berbunyi.

last but not least, bagaimanapun ini adalah dana umat yang harus dipertanggung jawabkan secara vertikal kepada Allah SWT dan secara horizontal kepada pihak yang seharusnya menerima zakat serta pihak yang telah menitipkan zakatnya.

semoga tulisan singkat ini dapat menjadi masukan yang tidak numpang lewat saja tetapi ada tindak lanjut secara nyata, demi perbaikan secara terus menerus.

sejak menjelang ramadan lalu aku sudah beberapa kali dihubungi orang dari lembaga penyalur ZIS (zakat, infak dan sedekah). rupanya mereka ga kalah proaktif dari petugas pajak :-) .

kalau petugas pajak modusnya mulai dari pasang iklan (di media, baliho, spanduk), insentif bebas fiskal bagi yang punya NPWP, kirim blanko NPWP ke wajib pajak, … sampai pembukaan gerai layanan di mal.

sedangkan penyalur ZIS karena pemainnya banyak jadi beragam strateginya. sangat fragmental, mulai dari pasang spanduk, iklan di kendaraan (pernah lihat iklannya di KRL), pasang iklan di media, inforial di media, pengiriman flyer ke rumah-rumah, facebook …. sampai kirim sms.

apakah fenomena ini berlaku umum seperti halnya petugas pajak atau hanya kasuistis menimpa aku dan sebagian teman lain?

karena target penyalur ZIS kurang lebih sama, apakah lantas di antara mereka ada “semacam” kompetisi?

baca imel ada yg posting falsafah makanan di milis, jadi penasaran dan iseng googling, dan hasilnya aku share di sini.

sebagai pengantar aku kutip suatu tulisan yang bagus dari salah satu artikel. “Meskipun semua rasa makanan secara universal hanya mengikuti 2 jalur utama perasa di lidah yaitu saluran ion dan reseptor protein G serta ditransmisikan ke otak melalui kolesistokinin dan neuropeptida, tetapi varian seleranya amat tinggi”.

filosofi/falsafah dalam konteks ini lebih diartikan sebagai perlambang:

1. mie = panjang umur (tradisi china, jepang).

makanya mereka makan dengan sumpit sehingga mienya tidak terpotong. tidak heran jika dalam tradisi mereka mie jadi salah satu menu wajib pas ulang tahun atau pergantian tahun. kalau di bumisegoro, mienya kadang malah diremes mpe hancur.

2.bakso = kesepakatan (china).

bentuk bakso (meat ball) yang bulat melambangkan bulatnya kesepakatan. konteks ini menemukan bentuknya dalam kehidupan rumah tangga yang akur ga banyak cek cok. walhasil menu ini menjadi salah satu favorit disajikan pada pesta pernikahan. kenapa ga sekalian jadi menu pas meeting/rapat aja ya? selain nendang juga mendukung kesepakatan, paling tidak muncul kesepakatan apakah baksonya enak atau tidak. yang jadi masalah sekarang ada juga tuh bakso gepeng atau bakso kotak. gampangnya sih dianggep aja varian bakso gepeng, kotak dll sebagai bid’ah, hehehe

3. bebek = komitmen dan kesungguhan (china)

barangkali karena bebek dinilai memiliki komitmen dan kesungguhan saat antri :-)

kalau dari literatur cersil, bebek peking merupakan makanan istana. dengan demikian untuk dapat menikmati masakan bebek peking yang enak kudu nyuri ke istana yang penjagaannya ketat. walhasil, kungfunya kudu tinggi. untuk itu butuh komitmen dan kesungguhan dalam berlatih. tafsir ini untuk memperkaya stereotip cersil yang cuma balas dendam mulu :-)

4. ayam = kesejahteraan dan totalitas. (china)

terus terang yang ini aku ga tahu alasannya. ayam sorry … tapi interpretasi dikit boleh dunk. makan ayam bagi kaum yang tidak beruntung bisa memakannya tiap hari merupakan makanan mewah, sehingga bisa memakannya sama saja dengan mengecap kesejahteraan. totalitas dapat ditafsirkan dari kemampuan makan daging dalam satu kesatuan utuh. dalam hal ini ayam lebih terjangkau daripada sapi, kerbau, unta, kambing atau babi (bagi yang memakannya). kenapa bukan ikan mas atau mujair?  ayam sorry lagi neh

copy paste atas seijin pemiliknya.

innalillahi wainailahi rojiun dapat kabar dari mas asrofi kalo mbok anteng meninggal tgl 24/4/09. cuma ga tau meninggal karena apa, sakit ato yang lain, cuma mbok anteng ini memang sudah sepuh, terakhir sering ketemu ya pas smp, heheeee semoga semua amal ibadahnya di terima sisi Nya dan keluarga yg ditinggalkan diberi ketabahan….amin

mbok anteng ini penjual bubur yang suka keliling desa. buburnya macem2 ada bubur sumsum, mutiara, grendul, apa lagi ya…….banyak deh, krn yg sering dibeli itu jadinya ya cm itu yg apal. jualannya di gendong pake tenggok dan msh nenteng ember buat nyuci piring, jalan kaki pula, padahal jalannya lumayan jauh…panas….. salut deh sama mbok anteng…….. klo beli bubur sumsum suka minta langit-langit nya (itu loh bubur yg bagian atas sendiri), tapi….selalu di kasih cuma dikiiiiit tok, alasannya “mbagei sing liyane, ben kabeh ngrasake enak’e (dibagi sm yg lain, biar yg lain ngrasain juga enaknya). krn mmg langit2 ini enak.

biasanya lewat depan rumah jam 11-12an tp kadang juga sampe jam 1 siang br dateng, dia jalan dr rumahnya di bumisegoro, lewat ngaran ngisor, ngaran nduwur (rumahku), trs keliling ke candi. pas ashar biasanya abis, cuma ga tau pulangnya ttp jalan kaki ato naek ojek.

tp stlh smp sudah ga pernah lg beli mbok anteng, soale skolah e pindah p-querto, dan juga rumah ku pindah di belakang jalan besar, jd klo mo beli hrs “ngadang” ke depan. tp kabar terakhir dr tetangganya mbok anteng (mas asrofi), sudah ndak jualan bubur lg tp julan nasi di candi.

hm…..bubur mbok Anteng tinggal kenangan…..

semoga ada mbok anteng – mbok anteng yg lain, yg buburnya enak, orangnya jg ulet, pekerja keras….

AWAS BAHAYA LKS BAGI SISWA SD!

Oleh: Muh.Muslih

Adalah sebuah kisah nyata, Afi, seorang anak kelas II SD, tiba-tiba menangis keras-keras ketika ayahnya meminta mengerjakan PR. Sambil sesenggukan ia mengatakan bahwa PRnya sangat banyak hari itu. Dengan heran bercampur dongkol ayah itu menanyai anaknya, berapa PR yang harus ia kerjakan hari ini? Katanya ,sehari itu ibu guru memberinya tiga PR untuk mata pelajaran yang berbeda. Tak puas dengan jawaban itu, sang ayah mulai membuka PR anaknya. Ternyata semua PR bersumber pada tiga buku LKS (lembar kerja siswa)terbitan sebuah perusahaan swasta yang diberikan sang guru pada awal semester. ‘Pantas saja, anak itu menangis,’ pikir sang ayah ketika melihat PR setiap mata pelajaran yang terdiri dari minimal empat bagian (A,B,C,dan D) dengan jumlah soal tiap bagian 5 – 10 soal. Jadi kalau dijumlah soal untuk ketiga PR itu ada 60 soal. ‘Wah, ini bukan lagi bertujuan agar anak jadi rajin belajar namun justru menyiksa dan membebani anak,’pikir sang ayah.

Peran Pekerjaan Rumah bagi Siswa

Sebenarnya, apa yang salah dengan PR? Menurut para ahli pendidikan, PR (pekerjaan rumah) berfungsi untuk melatih dan mereview kemampuan siswa secara mandiri di rumah setelah mendapat proses pembelajaran di sekolah . Selain itu, PR juga memiliki tujuan agar siswa rajin belajar di rumah, karena sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak siswa merasa tak perlu membuka pelajaran bila tak ada PR dari guru. Oleh karena itu, agar berjalan efektif biasanya jumlah soal untuk PR hanya sedikit. Jadi PR sesungguhnya baik apabila dilakukan dan dipersiapkan dengan cermat oleh guru. Dari kasus di atas kemungkinan masalahnya adalah guru tidak merencanakan tugas PR dengan baik. Selain membebani siswa dengan jumlah PR yang terlalu banyak, ia juga asal-asalan memberikan tugas PRnya dengan mengambil sumber dari LKS sehingga memberi kesan bahwa sang guru malas mempersiapkan tugasnya.

Menurut Piaget dalam buku The Language and the Tought of the Child pada dasarnya setiap anak merupakan pembelajar aktif. Ia mendapatkan pengetahuan lewat lingkungannya, baik secara fisik maupun penjelasan orang lain. Piaget membagi perkembangan cara berpikir anak menjadi empat tahap: tahap sensor-motorik (dari lahir – 2 tahun), tahap pra-operasional (usia 2 – 7 tahun), tahap operasional kongkrit (usia 7 – 11 tahun), dan tahap operasional formal (usia 11 tahun ke atas).

Anak usia SD, kira-kira mulai 7 – 12 tahun, dalam Teori Piaget termasuk tahap operasional kongkrit (concrete operational stage) artinya mulai usia 7 tahun anak mampu berpikir logis seperti cara berpikir orang dewasa. Kemampuan penerapan logika dalam beberapa pengetahuan, seperti matematika, sains, atau membaca berkembang dalam waktu yang sama. Tetapi, Piaget mengingatkan bahwa kemampuan tersebut dibatasi oleh pengalaman mereka yang masih minim. Oleh karenanya anak usia SD sangat memerlukan bantuan guru untuk memahami konsep-konsep yang dimiliki anak menjadi utuh..

LKS bagi Anak SD

Dalam kasus PR di atas, penulis memandang bahwa penggunaan LKS sebagai media pembelajaran pada usia SD sangat berbahaya bagi perkembangan berpikir anak. Mengapa? Pertama, LKS hanya melatih siswa menjawab soal; ia tidak akan efektif tanpa adanya pemahaman konsep materi secara benar. Pemaparan konsep kita dapatkan dari buku teks. Untuk itu sudah sangat tepat bila pemerintah mengatur standar mutu buku teks lewat Pusat Perbukuan Depdiknas. Hal ini berarti buku yang telah lolos dari lembaga tersebut sudah layak digunakan di sekolah. Apalagi dengan adanya program buku elektonik dari pemerintah, saat ini sangatlah mudah untuk mendapatkan buku teks bermutu. Tugas guru adalah membantu siswa memahami konsep dalam buku-buku tersebut secara menyeluruh sebagaimana Teori Piaget di atas. Untuk mengecek pemahaman dan kemampuan siswa guru dapat memberi latihan atau PR berdasarkan apa yang telah dipelajari. Pemakaian LKS buatan pihak lain bisa menimbulkan ketidak sesuaian (mis-match) antara yang diterangkan dan yang dilatihkan. Hal ini sangat mungkin, karena ibarat makanan, bahan makanan yang sama bisa jadi lain hasilnya bila dimasak oleh koki yang berbeda. Maka paling ideal, LKS yang baik adalah buatan guru itu sendiri karena dia lah yang semestinya tahu persis akan kebutuhan siswanya.

Kedua, hal yang paling penulis khawatirkan adalah penggunaan LKS sebagai pengganti buku ajar. Dengan beberapa pertimbangan pragmatis berupa: praktis, tak repot, harga yang murah, bahkan adanya diskon yang cukup menggiurkan ,dll. ada beberapa guru yang lebih mengutamakan penggunaan LKS dalam pembelajaran di kelas ketimbang pemakaian buku teks. Nampaknya belum ada penelitian tentang dominasi LKS menggeser keberadaan buku teks atau buku ajar. Namun sangat masuk akal untuk mempertanyakan apa yang sesungguhnya terjadi di dalam kelas atas penggunaan LKS dan buku ajar karena sudah menjadi semacam ‘ritual’ bahwa setiap pergantian semester ada pembagian (baca: penjualan) buku LKS oleh pihak guru dan sekolah . Memang dari pengamatan penulis terhadap beberapa LKS terbitan swasta pada umumnya sudah mencakup rangkuman materi, contoh-contoh penerapan konsep, dan latihan. Akan tetapi karena LKS memang dirancang sebagai latihan, maka penggunaan LKS sebahai bahan pembelajaran di kelas sama sekali tidak benar.

Pembelajaran pada jenjang sekolah dasar (SD) sangat menentukan keberhasilan di jenjang berikutnya. Pembentukan konsep yang tak mapan pada usia ini akan menjadi sandungan besar pada perkembangan masa berikutnya. Tentu kita tak ingin anak-anak kita mahir menjawab soal pilihan ganda, karena sudah dilatih lewat LKS namun gagal menjelaskan dan mengaplikasikan konsep dalam kondisi kehidupan yang nyata. Kalau itu terjadi anak akan sangat bergantung pada latihan-latihan soal tanpa pernah mampu berpikir untuk berusaha membuat soal sendiri lalu memecahkannya sendiri atau bersama temannya. Padahal belajar yang berhasil ditandai oleh kemampuan pembelajar untuk mau belajar mandiri tanpa arahan dan paksaan orang lain.

Alih-alih menjelaskan konsep, beberapa LKS justru hanya mencantumkan rumus-rumus dalam pelajaran matematika, misalnya. Hal ini karena yang menjadi pertimbangan penerbit adalah nilai ekonomisnya alias keuntungan semata; semakin tebal LKS , semakin mahal dan kurang prospektif pemasarannya. Oleh karenanya buku LKS cenderung tipis dan miskin ilustrasi tetapi pada sampul depannya terpampang tulisan besar-besar, SESUAI DENGAN KTSP. Biasanya LKS buatan penerbit hanya dipakai para guru sebagai bahan latihan di rumah alias PR, dengan catatan mereka yang memakainya biasanya berdalih demi kepraktisan karena tak cukup waktu untuk menyiapkan tugas bikinan sendiri (baca: karena malas) dan kalau bisa, kata para guru itu pada sales buku LKS, tolong sekalian disertakan Promes (program semester) dan RPP (rencana program pengajaran). Ah! Ada-ada saja!

Ketiga, pertimbangan mutu soal dalam buku LKS. Dalam kasus PR di atas, sang ayah mencoba mengamati soal-soal yang ada dalam LKS tersebut. Ternyata dari bagian A hingga D soal-soalnya cenderung monoton, artinya soal-soal yang sudah ditanyakan pada bagian A bisa jadi muncul lagi di B, atau D dengan kalimat yang berbeda. Tentu saja hal ini akan membosankan bagi anak yang telah memahami konsep. Nampaknya sang penulis LKS kekurangan bahan soal, namun dikejar target harus memenuhi sekian soal agar LKS jadi sekian halaman sesuai keinginan penerbit. Oleh karenanya mutu soal kurang menjadi pertimbangan penulis LKS. Berpijak dari pengalaman di atas sudah selayaknya kita mempertanyakan mutu soal yang ada dalam LKS SD. Apakah soal-soal dalam LKS tidak bermutu? Untuk menjawab secara obyektif diperlukan sejumlah penelitian, namun secara kasat mata seorang guru yang kompeten akan mampu menilai kadar mutu soal-soal yang ada dalam LKS sehingga ia bisa memutuskan apakah akan menggunakan sebuah LKS atau tidak. Memang untuk LKS SMP dan SMA , kebanyakan soal – soalnya mirip atau sekedar mencuplik (copy paste) dari soal-soal UN yang tentu sudah melalui penyaringan ketat dari pemerintah. Namun kita patut mempertanyakan keaslian (orisinalitas) ide pembuat LKS tersebut, kalau sekedar copy paste semua orang juga bisa, kan? Terus dimana fungsi pengayaan soal dari sebuah LKS?

Alangkah baiknya buku LKS buatan penerbit juga bermula dari pembuatan kisi-kisi soal yang benar lalu dilakukan testing dan analisa butir soal secara benar. Nah, berdasarkan analisa tersebut akan diketahui apakah rangkaian soal-soal tersebut memiliki ketepatan (validity) dan keajegan (realibility) yang cukup. Lewat analisa tersebut Juga akan diketahui tingkat kesukaran (TK) dan daya pembeda (DP) masing-masing soal sehingga memudahkan pembuat soal untuk menentukan butir soal mana yang bisa dipakai dan mana yang harus disingkirkan. Memang untuk menuju kualitas harus menempuh jalan yang berliku, namun dengan garansi kualitas itulah seharusnya para pembuat buku LKS bersaing menawarkan dagangannya.

LKS SD Bisa Mematikan Potensi Anak

Penulis tidak apriori akan keberadaan buku LKS, terutama bila memang memenuhi kualitas standar. Namun penggunaan yang tidak tepat terhadap LKS akan mematikan kemampuan anak sebagai pembelajar aktif dan menjadikan LKS sebagai beban yang menyiksa anak, maka sekali lagi penulis menegaskan bahwa pada usia SD lebih membutuhkan pemahaman konsep secara utuh, dan untuk mengecek kemampuan siswa, guru tidak perlu menggunakan LKS buatan penerbit. Lebih baik para guru memaksimalkan penggunaan buku ajar untuk pemahaman siswanya. Buatlah LKS sendiri yang lebih membumi dan sesuai dengan kebutuhan anak didiknya. Tentu untuk jumlah soal guru yang paling mampu memperkirakan ketuntasan belajar dari masing-masing bab. Tidak harus banyak yang penting tuntas pemahaman materinya. Semoga dengan pencangan sertifikasi guru akan menambah semangat para guru untuk menunjukkan profesionalisme mereka. Selamat mencoba!

Tentang penulis:

Muh.Muslih, peneliti pada MAARIF CENTER, mahasiswa S-2 Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. (HP 081804030020)

Alamat : Kompleks kampus SMP Terpadu Ma’arif Muntilan, Bintaro, Gunungpring, Muntilan, 56415

Email : muslih_upi@yahoo.com atau afiborobudur_mgl@yahoo.co.id

kemarin ada info yang bikin aku tepar seketika. bermula dari temen yang dalam waktu dekat akan pindah rumah ke daerahku. sebelum pindahan ybs mencari sekolah untuk anaknya yang masih SD dan masuk SMP. untuk anaknya yang masih SD, biaya masuk ke SD dengan jarak terdekat dari rumah barunya ga tanggung-tanggung. ya, 25 juta dan tiap bulan masih kudu bayar 1 juta untuk spp. belum termasuk biaya catering, biaya antar jemput dll.

emang sih SD yang di belakang namanya ada embel-embel Islamic School ini mayan beken. tapi 25 juta gitu loh. wajar aja jika pas jam anter sekolah jalanan di sekitarnya macet habis oleh lalu lintas boil-boil pribadi sopir/ortu yang nganter anak di sekolah ini.

jadi inget pas aku masih SD di “Nglegok”, SD muhammadiyah yang terletak di lembah antara Sabrangrowo dan Kujon, uang masuk tidak lebih dari 5 ribu ripis dan spp per bulan tidak lebih dari 500 ripis aja waktu itu udah terbilang paling mahal dalam radius beberapa kilo meter.

perbandingannya menarik nih.

  • yang satu labelnya muhammadiyah dan yang satunya lagi islamic school
  • beda zaman selama 27 tahun
  • rasio biaya uang masuk lebih dari 5.000 kalinya
  • rasio biaya spp per bulan lebih dari 2.000 kalinya
  • kualitas pendidikan ???

apakah di daerah selain jakarta, juga mengalami hal serupa?

trus, dengan biaya pendidikan segitu kira-kira guru-gurunya pada tajir ga ya?

Halaman Berikutnya »