menarik juga menyimak satu footnote di bawah ini. penjelasan tentang pergantian dari bhumisambhara menjadi bumisegara di dalamnya masih kurang puas. ada info yg lebih valid?

kembali paradoks terjadi di negeri ini…

masa’ polisi syariah (wilayatul hisbah) main perkosa… sembarangan banget.  semprul bin malu-maluin.  aku pagi-pagi sudah kesel berat setelah baca beritanya di jakarta post ini. orang kebanyakan (rakyat jelata) memperkosa itu namanya penjahat kelamin. lah ini, polisi syariah, apa namanya? penjahat kelamin kuadrat nan bejat… harus dihukum berat.

pagi ini baru baca artikel Di Tanjungsari Ditemukan Dua Kepala Arca Budha di Surya Online.

Tanjungsari sendiri terletak di sebelah selatan Candi Borobudur, setelah dsn Bumisegoro dan kali Sileng.

saat baca artikel tsb, ada yang mengganjal… biasanya penemuan arca atau benda purbakala seperti ini cenderung berupa benda kuno tetapi yang satu ini kok benda “kemarin sore”. coba dech dicermati potongan artikel dari Surya Online di bawah ini:

Potongan arca tersebut, lanjut Wiwit, kemungkinan merupakan bagian kepala arca di Borobudur dapat dilihat dari baut penyambung kepala arca dengan badan yang berupa mur besar.

“Cara penyambungan identik dengan cara yang dilakukan Van Erp dari Belanda saat pertama kali memugar candi. Ahli dari konservasi juga menyebut potongan kepala itu identik dengan patung Budha di Borobudur,” tuturnya.

apakah berarti bahwa dua kepala arca ini “berpindah” pada saat pemugaran? jika ya, sebetulnya tidak terlalu aneh karena kesadaran masyarakat memang belum tinggi. fakta lain penulis dapatkan pada saat pemugaran terakhir (era 80-an) saat banyak tetangga ikut bekerja dalam proyek tsb. Sebagian dari mereka memiliki “rasa memiliki” yang tinggi dengan membawa pulang beberapa oleh-oleh berupa papan kayu jati kelas A yang mereka sebut pallet.  padahal pallet ini di rumah mereka juga kurang berguna, hanya dipakai buat hal-hal yang remeh temeh dan seringkali tidak pada tempatnya.  Sangat tidak menghargai kualitas dari pallet tsb. tapi namanya juga barang curian.

apakah kepala arca ini nasibnya sama dengan pallet yang dipindahin tetanggaku?

fakta bahwa kepala arca tersebut ditemukan pada kedalaman 30 cm juga dapat dicermati secara tersendiri. kedalaman yang rendah…  yang lazim bagi masyarakat setempat dalam membuat lubang tanam, lubang pembuangan sampah atau lubang untuk menyembunyikan sesuatu….

perlu undang detektif monk untuk menganalisis kasus ini :-)

Berdasarkan informasi yang penulis terima, saat ini ada program pemerintah yang bernama PNPM mandiri bidang pariwisata. Khusus untuk kecamatan Borobudur,  tahun 2009 ini direncanakan ada 5 desa yang menjadi target pengembangan.  Salah satunya adalah Bumisegoro.  terima kasih buat pak Maladi yang sangat concern terhadap hal ini. Ada apresiasi khusus dari Pak Bakri dan timnya dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata atas antusiasme dan kerjasama yang ditunjukkan pak Maladi.

yang menjadi pertanyaan, apa konsep desa wisata yang akan dikembangkan?

selama ini ada 3 tipe desa wisata yang dikembangkan pemerintah. pertama desa tujuan wisata dimana desa wisata menjadi daya tarik yang dapat memikat dan menarik wisatawan (wisman, wisnus) untuk datang berkunjung. kedua, desa pendukung suatu obyek daya tarik wisata. ketiga, desa pendukung usaha pariwisata.

sejarah mencatat bahwa sejak candi borobudur didirikan bumisegoro adalah pendukung setianya. yang terjadi justru pengelola candi borobudur yang terkesan meninggalkan bumisegoro.  konsep mandala yang dulunya menyatukan candi borobudur dengan lingkungannya diblok oleh pengelolanya secara fisik dengan pagar pembatas yang pintunya selalu tertutup. alhasil, bumisegoro sekarang ini dipantati oleh kompleks Taman Wisata Candi Borobudur. Dulu wilayah Jaten, Tobong, Dagi adalah jalur sutra bagi warga bumisegoro ke arah utara dan timur laut.   Sekarang dengan pagar menjulang setinggi 2 meteran, warga bumisegoro harus ngalang (menempuh jalan memutar) melalui ngaran ngisor atau kujon. tidak heran jika banyak warga bumisegoro yang harus memanjat pagar untuk menuju kawasan candi atau sebagai jalan pintas menuju lokasi lain (ke pasar/terminal bus) misalnya.

terputusnya aksesibilitas ini menjadi cermin bagaimana orientasi pengembangan candi borobudur dalam perspektif warga bumisegoro. hal ini berpengaruh besar bagi perkembangan sosial dan ekonomi warga bumisegoro. Karena dipantati, dibelakangi dan ditinggalkan membawa dampak tidak menerima manfaat nyata secara signifikan dari keberadaan candi ini.

kembali ke topik desa wisata, menurut hemat penulis hal pertama yang harus dirubah adalah aksesibilitas antara candi borobudur dengan bumisegoro. pertama, pintu di wilayah Gebang (sisi barat daya candi, dekat kandang gajah) harus dibuka. apalagi secara historis titik ini pernah menjadi pintu masuk utama candi borobudur (periode awal 80-an). Selain masalah pintu dan konektivitas perlu dipikirkan juga sarana transportasi multimoda. alternatif yang kepikir adalah: gajah, andong/delman/kereta kuda, kereta mini, becak, dan kendaraan roda empat yang lazim (bus, mobil carteran, angkot).

yang kedua adalah mengembangkan atraksi wisata sebagai daya tarik bagi wisatawan untuk datang ke bumisegoro. untuk itu harus dipetakan potensi yang dimiliki bumisegoro dan sekitarnya…. yang penulis tahu antara lain kali sileng,  industri kecil (pembuatan tahu di Gopalan, pembuatan cenderamata seperti ukiran bambu), aktivitas budaya (nyadran, yasinan, selapanan, krida siswa, dayakan, kuntulan, gatoloco, permainan anak-anak/dolanan bocah), pertanian (membajak sawah/ngluku/nggaru, menanam padi/palawija, panen dengan ani-ani plus ngiles sampai bawon, pengolahan daun tembakau), kuliner (apem, sego megono, lentho pethek, peyek belut dari daun singkong, gaya baru, bubur sayur, pergedel talas, jenang baning, jenang candil, jenang ketan, jajanan pasar dll). apa lagi ya? masing-masing daya tarik tersebut harus diplot ke dalam kalender kegiatan (calendar of event) tiap tahunnya yang diusahakan untuk selalu konsisten sehingga memudahkan dalam kegiatan promosi dan pemasaran.

dari potensi yang ada tersebut dapat dipilah mana yang bisa dilihat (sebagai obyek tontonan pasif), dirasakan (wisatawan bisa ikut terlibat di dalamnya) dan dibeli oleh wisatawan (cendera mata). pengembangan potensi ini dapat mentransformasi bumisegoro untuk menjadi desa wisata dengan titik berat pada pendukung obyek daya tarik wisata (candi borobudur), tetapi dapat juga menjadi daya tarik tambahan sehingga mengurangi beban yang dirasakan candi borobudur (intensity dan density dari pengunjung yang selama ini tumplek blek terutama pas peak season, misal lebaran). dengan demikian bumisegoro menjadi salah satu sabuk hijau (green belt) dan sabuk budaya bagi candi borobudur.  pengembangan potensi juga dapat dilakukan melalui intensifikasi pertanian untuk mendukung hotel-hotel yang ada di sekitar candi dan usaha-usaha pariwisata lainnya.

yang ketiga adalah perlunya dibuat paket wisata yang berisi pola perjalanan wisatawan dimana wisatawan tidak cuma numpang lewat bumisegoro tetapi singgah dengan waktu yang cukup. misalkan paket A, naik gajah dari borobudur, bumisegoro baru ke tanjung sari, … sampai ke hotel Amanjiwo. paket B, dari borobudur naik kereta ke bumisegoro, gopalan, ngaran ngisor, kembali ke borobudur (lewat pintu sebelah manohara).  paket C dari borobudur, bumisegoro ke kretek, bumen, bumisegoro, balik lagi ke borobudur dengan rute yang berbeda. paket D dari borobudur, bumisegoro, gunung bakal, maitan, kujon, dagi, borobudur. paket E dari borobudur, bumisegoro, tanjung sari, kalitengah, seganan, ngaran, borobudur. dan seterusnya…

paket tadi lebih berorientasi untuk kunjungan siang, padahal beberapa daya tarik lebih afdol kalau dinikmati malam. untuk itu homestay dapat dipertimbangkan untuk dibangun disamping kerjasama dengan losmen/hotel yang sudah ada.  perlu ditekankan di sini model kerja samanya bersifat dua arah. disamping memfasilitasi akomodasi (penginapan dan makan)bagi  wisatawan, pihak losmen/hotel juga harus memasarkan dan menjual desa wisata kepada wisatawan.

dukungan inilah yang paling dibutuhkan agar bumisegoro sebagai desa wiata dapat memberi manfaat nyata. dukungan lain tentu saja diperlukan, antara lain dalam bentuk bimbingan teknis, pelatihan dan dana.

kemarin sore, sekitar pukul 17.45 di jl kayu manis condet ada sebuah mobil MPV (sejenis kijang) warna coklat muda yang nyerempet penulis yang sedang berjalan tepat di pinggir jalan aspal. batas antara jalan aspal dengan pinggiran got yg ditutup semen (blok) oleh pemilik rumah di situ. maklum, ini jalan lingkungan, bukan jalan raya. meskipun jalan lingkungan, lebar jalan ini cukup untuk 2 mobil MPV berpapasan.

kondisi jalan saat itu tidak ramai, dan mobil tidak sedang berpapasan dengan kendaraan lain. yang ada cuma motor di belakang mobil. jelas sekali mobil itu terlalu mengambil ke kiri dan tidak memperhitungkan spion dan pejalan kaki.

tanpa ba bi bu… tiba-tiba seperti ada yg menampar lengan kananku. rupanya spion mobil telah menghajar lenganku sampai spion itu menutup. tentu saja tidak nyaman kesampluk seperti itu. masih untung laju mobil tidak kencang.

sebelnya pengemudi tidak merasa bersalah apa-apa. tidak turun, sekedar menanyakan ga apa-apa kan? minta maaf atau apa. yg ada dia mengemudikan mobilnya seolah tidak terjadi apa-apa dan membetulkan spion mobil kira-kira 100 m dari TKP. tepatnya, persis di depan rumah penulis.

reaksiku saat itu, menunggu reaksi pengemudi. begitu ga ada gelagat berhenti langsung lihat-lihat sekeliling nyari batu. tapi segera aku urungkan melempar mobil itu krn ingat bahwa aku masih puasa dan tinggal sebentar lagi buka.

seandainya saat itu tidak puasa, niscaya sudah aku lempar mobil itu dengan batu. anarkis? emang, tapi itu perlu dilakukan untuk aksi tabrak lari seperti itu. apalagi aku jalan cuma 100an meter dari rumahku sendiri.

semoga pelaku atau keluarganya membaca postingan ini.

weekend kemarin aku berdiskusi dengan seorang petugas dari salah satu lembaga amil zakat (lengkapnya lembaga amil zakat, infak dan sedekah atau disingkat LAZIS tetapi daripada rancu dengan nama lembaga maka aku pilih istilah lembaga amil zakat aja). dalam kesempatan itu aku sampaikan kekhawatiranku bahwa antar lembaga amil zakat tidak ada sinergi. sinyalemenku ini muncul dari pengamatan bahwa antar lembaga amil zakat terjadi tumpang tindih (over lap) di satu sisi dan di sisi lain ada ruang yang tidak tersentuh (white space).

jika overlap terjadi karena sangat sedikitnya penerima zakat tentu saja merupakan berita gembira karena dapat diartikan kesejahteraan masyarakat sudah tinggi. tapi hal ini segera terbantahkan dengan berita kelaparan di beberapa daerah baik yang disampaikan oleh media massa maupun orang-per orang yang sering turun ke lapangan.

back to basic, setahuku fungsi zakat secara makro adalah untuk mendistribusikan harta agar tidak berputar-putar di segelintir kalangan. dengan fungsi seperti itu, maka menjadi ironis jika zakat yang jumlahnya belum banyak itu (karena kesadaran umat yang belum optimal) masih berputar-putar di sedikit kalangan. belum lagi potensi tumpang tindih yang tidak kalah parahnya dengan distribusi zakat secara langsung dari wajib zakat (muzakki).

bagi mereka yang menerima double atau triple tentu akan merasa beruntung, lantas bagaimana dengan mereka yang tidak tersentuh? padahal mereka sangat membutuhkannya.

dari diskusi dengan petugas tersebut, informasi yang kudapat bahwa sebetulnya forum organisasi zakat sudah ada tetapi belum berfungsi optimal.

masih menurut petugas tersebut, tidak dapat dinafikan bahwa ada semacam persaingan yang tidak sehat di antara sesama lembaga amil zakat. masing-masing ingin tampil heboh dan menjadi yang paling duluan menggulirkan suatu program populer.

alangkah eloknya jika ada sinergi antar lembaga amil zakat, mulai dari hulu (promosi, penggalangan dana) sampai hilir (penyusunan program alokasi zakat, distribusi zakat). di sektor hulu, sinergi bisa mengefisienkan dana promosi tetapi dengan hasil yang lebih efektif.  dengan sinergi di sektor hulu ini dapat dibuat program-program spektakuler sehingga bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada lembaga amil zakat baik secara keseluruhan maupun lembaga per lembaga. sehingga ujung-ujungnya dapat menghasilkan nilai yang lebih optimal dalam penggalangan dana (high value fund raising).

di sektor hulu, koordinasi juga akan meminimalkan tumpang tindih dan white space. katakanlah ada semacam konsensus kapling A (misalkan segmen orang jompo) siapa yang garap, kapling B (misalkan segmen anak usia sekolah) siapa dst. Program dari masing-masing lembaga juga bisa disinergikan sehingga harapannya ada pemberdayaan, tidak sekedar membagi. harapannya mereka yang menerima zakat tahun ini, hopefully tahun depan justru akan memberikan zakat. tidak stagnan jadi penerima zakat terus menerus, atau dengan kata lain berhasil dientaskan dari kemiskinan.

sinergi ini menjadi urgent mengingat sekarang ini dana yang terkumpul di lembaga amil zakat baru beberapa persen dari potensi yang sesungguhnya. dari dana yang masih terbatas ini kalau tidak dikelola dengan semestinya akan kurang berbunyi.

last but not least, bagaimanapun ini adalah dana umat yang harus dipertanggung jawabkan secara vertikal kepada Allah SWT dan secara horizontal kepada pihak yang seharusnya menerima zakat serta pihak yang telah menitipkan zakatnya.

semoga tulisan singkat ini dapat menjadi masukan yang tidak numpang lewat saja tetapi ada tindak lanjut secara nyata, demi perbaikan secara terus menerus.

sejak menjelang ramadan lalu aku sudah beberapa kali dihubungi orang dari lembaga penyalur ZIS (zakat, infak dan sedekah). rupanya mereka ga kalah proaktif dari petugas pajak :-) .

kalau petugas pajak modusnya mulai dari pasang iklan (di media, baliho, spanduk), insentif bebas fiskal bagi yang punya NPWP, kirim blanko NPWP ke wajib pajak, … sampai pembukaan gerai layanan di mal.

sedangkan penyalur ZIS karena pemainnya banyak jadi beragam strateginya. sangat fragmental, mulai dari pasang spanduk, iklan di kendaraan (pernah lihat iklannya di KRL), pasang iklan di media, inforial di media, pengiriman flyer ke rumah-rumah, facebook …. sampai kirim sms.

apakah fenomena ini berlaku umum seperti halnya petugas pajak atau hanya kasuistis menimpa aku dan sebagian teman lain?

karena target penyalur ZIS kurang lebih sama, apakah lantas di antara mereka ada “semacam” kompetisi?

Halaman Berikutnya »