baca imel ada yg posting falsafah makanan di milis, jadi penasaran dan iseng googling, dan hasilnya aku share di sini.

sebagai pengantar aku kutip suatu tulisan yang bagus dari salah satu artikel. “Meskipun semua rasa makanan secara universal hanya mengikuti 2 jalur utama perasa di lidah yaitu saluran ion dan reseptor protein G serta ditransmisikan ke otak melalui kolesistokinin dan neuropeptida, tetapi varian seleranya amat tinggi”.

filosofi/falsafah dalam konteks ini lebih diartikan sebagai perlambang:

1. mie = panjang umur (tradisi china, jepang).

makanya mereka makan dengan sumpit sehingga mienya tidak terpotong. tidak heran jika dalam tradisi mereka mie jadi salah satu menu wajib pas ulang tahun atau pergantian tahun. kalau di bumisegoro, mienya kadang malah diremes mpe hancur.

2.bakso = kesepakatan (china).

bentuk bakso (meat ball) yang bulat melambangkan bulatnya kesepakatan. konteks ini menemukan bentuknya dalam kehidupan rumah tangga yang akur ga banyak cek cok. walhasil menu ini menjadi salah satu favorit disajikan pada pesta pernikahan. kenapa ga sekalian jadi menu pas meeting/rapat aja ya? selain nendang juga mendukung kesepakatan, paling tidak muncul kesepakatan apakah baksonya enak atau tidak. yang jadi masalah sekarang ada juga tuh bakso gepeng atau bakso kotak. gampangnya sih dianggep aja varian bakso gepeng, kotak dll sebagai bid’ah, hehehe

3. bebek = komitmen dan kesungguhan (china)

barangkali karena bebek dinilai memiliki komitmen dan kesungguhan saat antri :-)

4. ayam = kesejahteraan dan totalitas. (china)

terus terang yang ini aku ga tahu alasannya. ayam sorry …

copy paste atas seijin pemiliknya.

innalillahi wainailahi rojiun dapat kabar dari mas asrofi kalo mbok anteng meninggal tgl 24/4/09. cuma ga tau meninggal karena apa, sakit ato yang lain, cuma mbok anteng ini memang sudah sepuh, terakhir sering ketemu ya pas smp, heheeee semoga semua amal ibadahnya di terima sisi Nya dan keluarga yg ditinggalkan diberi ketabahan….amin

mbok anteng ini penjual bubur yang suka keliling desa. buburnya macem2 ada bubur sumsum, mutiara, grendul, apa lagi ya…….banyak deh, krn yg sering dibeli itu jadinya ya cm itu yg apal. jualannya di gendong pake tenggok dan msh nenteng ember buat nyuci piring, jalan kaki pula, padahal jalannya lumayan jauh…panas….. salut deh sama mbok anteng…….. klo beli bubur sumsum suka minta langit-langit nya (itu loh bubur yg bagian atas sendiri), tapi….selalu di kasih cuma dikiiiiit tok, alasannya “mbagei sing liyane, ben kabeh ngrasake enak’e (dibagi sm yg lain, biar yg lain ngrasain juga enaknya). krn mmg langit2 ini enak.

biasanya lewat depan rumah jam 11-12an tp kadang juga sampe jam 1 siang br dateng, dia jalan dr rumahnya di bumisegoro, lewat ngaran ngisor, ngaran nduwur (rumahku), trs keliling ke candi. pas ashar biasanya abis, cuma ga tau pulangnya ttp jalan kaki ato naek ojek.

tp stlh smp sudah ga pernah lg beli mbok anteng, soale skolah e pindah p-querto, dan juga rumah ku pindah di belakang jalan besar, jd klo mo beli hrs “ngadang” ke depan. tp kabar terakhir dr tetangganya mbok anteng (mas asrofi), sudah ndak jualan bubur lg tp julan nasi di candi.

hm…..bubur mbok Anteng tinggal kenangan…..

semoga ada mbok anteng – mbok anteng yg lain, yg buburnya enak, orangnya jg ulet, pekerja keras….

AWAS BAHAYA LKS BAGI SISWA SD!

Oleh: Muh.Muslih

Adalah sebuah kisah nyata, Afi, seorang anak kelas II SD, tiba-tiba menangis keras-keras ketika ayahnya meminta mengerjakan PR. Sambil sesenggukan ia mengatakan bahwa PRnya sangat banyak hari itu. Dengan heran bercampur dongkol ayah itu menanyai anaknya, berapa PR yang harus ia kerjakan hari ini? Katanya ,sehari itu ibu guru memberinya tiga PR untuk mata pelajaran yang berbeda. Tak puas dengan jawaban itu, sang ayah mulai membuka PR anaknya. Ternyata semua PR bersumber pada tiga buku LKS (lembar kerja siswa)terbitan sebuah perusahaan swasta yang diberikan sang guru pada awal semester. ‘Pantas saja, anak itu menangis,’ pikir sang ayah ketika melihat PR setiap mata pelajaran yang terdiri dari minimal empat bagian (A,B,C,dan D) dengan jumlah soal tiap bagian 5 – 10 soal. Jadi kalau dijumlah soal untuk ketiga PR itu ada 60 soal. ‘Wah, ini bukan lagi bertujuan agar anak jadi rajin belajar namun justru menyiksa dan membebani anak,’pikir sang ayah.

Peran Pekerjaan Rumah bagi Siswa

Sebenarnya, apa yang salah dengan PR? Menurut para ahli pendidikan, PR (pekerjaan rumah) berfungsi untuk melatih dan mereview kemampuan siswa secara mandiri di rumah setelah mendapat proses pembelajaran di sekolah . Selain itu, PR juga memiliki tujuan agar siswa rajin belajar di rumah, karena sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak siswa merasa tak perlu membuka pelajaran bila tak ada PR dari guru. Oleh karena itu, agar berjalan efektif biasanya jumlah soal untuk PR hanya sedikit. Jadi PR sesungguhnya baik apabila dilakukan dan dipersiapkan dengan cermat oleh guru. Dari kasus di atas kemungkinan masalahnya adalah guru tidak merencanakan tugas PR dengan baik. Selain membebani siswa dengan jumlah PR yang terlalu banyak, ia juga asal-asalan memberikan tugas PRnya dengan mengambil sumber dari LKS sehingga memberi kesan bahwa sang guru malas mempersiapkan tugasnya.

Menurut Piaget dalam buku The Language and the Tought of the Child pada dasarnya setiap anak merupakan pembelajar aktif. Ia mendapatkan pengetahuan lewat lingkungannya, baik secara fisik maupun penjelasan orang lain. Piaget membagi perkembangan cara berpikir anak menjadi empat tahap: tahap sensor-motorik (dari lahir – 2 tahun), tahap pra-operasional (usia 2 – 7 tahun), tahap operasional kongkrit (usia 7 – 11 tahun), dan tahap operasional formal (usia 11 tahun ke atas).

Anak usia SD, kira-kira mulai 7 – 12 tahun, dalam Teori Piaget termasuk tahap operasional kongkrit (concrete operational stage) artinya mulai usia 7 tahun anak mampu berpikir logis seperti cara berpikir orang dewasa. Kemampuan penerapan logika dalam beberapa pengetahuan, seperti matematika, sains, atau membaca berkembang dalam waktu yang sama. Tetapi, Piaget mengingatkan bahwa kemampuan tersebut dibatasi oleh pengalaman mereka yang masih minim. Oleh karenanya anak usia SD sangat memerlukan bantuan guru untuk memahami konsep-konsep yang dimiliki anak menjadi utuh..

LKS bagi Anak SD

Dalam kasus PR di atas, penulis memandang bahwa penggunaan LKS sebagai media pembelajaran pada usia SD sangat berbahaya bagi perkembangan berpikir anak. Mengapa? Pertama, LKS hanya melatih siswa menjawab soal; ia tidak akan efektif tanpa adanya pemahaman konsep materi secara benar. Pemaparan konsep kita dapatkan dari buku teks. Untuk itu sudah sangat tepat bila pemerintah mengatur standar mutu buku teks lewat Pusat Perbukuan Depdiknas. Hal ini berarti buku yang telah lolos dari lembaga tersebut sudah layak digunakan di sekolah. Apalagi dengan adanya program buku elektonik dari pemerintah, saat ini sangatlah mudah untuk mendapatkan buku teks bermutu. Tugas guru adalah membantu siswa memahami konsep dalam buku-buku tersebut secara menyeluruh sebagaimana Teori Piaget di atas. Untuk mengecek pemahaman dan kemampuan siswa guru dapat memberi latihan atau PR berdasarkan apa yang telah dipelajari. Pemakaian LKS buatan pihak lain bisa menimbulkan ketidak sesuaian (mis-match) antara yang diterangkan dan yang dilatihkan. Hal ini sangat mungkin, karena ibarat makanan, bahan makanan yang sama bisa jadi lain hasilnya bila dimasak oleh koki yang berbeda. Maka paling ideal, LKS yang baik adalah buatan guru itu sendiri karena dia lah yang semestinya tahu persis akan kebutuhan siswanya.

Kedua, hal yang paling penulis khawatirkan adalah penggunaan LKS sebagai pengganti buku ajar. Dengan beberapa pertimbangan pragmatis berupa: praktis, tak repot, harga yang murah, bahkan adanya diskon yang cukup menggiurkan ,dll. ada beberapa guru yang lebih mengutamakan penggunaan LKS dalam pembelajaran di kelas ketimbang pemakaian buku teks. Nampaknya belum ada penelitian tentang dominasi LKS menggeser keberadaan buku teks atau buku ajar. Namun sangat masuk akal untuk mempertanyakan apa yang sesungguhnya terjadi di dalam kelas atas penggunaan LKS dan buku ajar karena sudah menjadi semacam ‘ritual’ bahwa setiap pergantian semester ada pembagian (baca: penjualan) buku LKS oleh pihak guru dan sekolah . Memang dari pengamatan penulis terhadap beberapa LKS terbitan swasta pada umumnya sudah mencakup rangkuman materi, contoh-contoh penerapan konsep, dan latihan. Akan tetapi karena LKS memang dirancang sebagai latihan, maka penggunaan LKS sebahai bahan pembelajaran di kelas sama sekali tidak benar.

Pembelajaran pada jenjang sekolah dasar (SD) sangat menentukan keberhasilan di jenjang berikutnya. Pembentukan konsep yang tak mapan pada usia ini akan menjadi sandungan besar pada perkembangan masa berikutnya. Tentu kita tak ingin anak-anak kita mahir menjawab soal pilihan ganda, karena sudah dilatih lewat LKS namun gagal menjelaskan dan mengaplikasikan konsep dalam kondisi kehidupan yang nyata. Kalau itu terjadi anak akan sangat bergantung pada latihan-latihan soal tanpa pernah mampu berpikir untuk berusaha membuat soal sendiri lalu memecahkannya sendiri atau bersama temannya. Padahal belajar yang berhasil ditandai oleh kemampuan pembelajar untuk mau belajar mandiri tanpa arahan dan paksaan orang lain.

Alih-alih menjelaskan konsep, beberapa LKS justru hanya mencantumkan rumus-rumus dalam pelajaran matematika, misalnya. Hal ini karena yang menjadi pertimbangan penerbit adalah nilai ekonomisnya alias keuntungan semata; semakin tebal LKS , semakin mahal dan kurang prospektif pemasarannya. Oleh karenanya buku LKS cenderung tipis dan miskin ilustrasi tetapi pada sampul depannya terpampang tulisan besar-besar, SESUAI DENGAN KTSP. Biasanya LKS buatan penerbit hanya dipakai para guru sebagai bahan latihan di rumah alias PR, dengan catatan mereka yang memakainya biasanya berdalih demi kepraktisan karena tak cukup waktu untuk menyiapkan tugas bikinan sendiri (baca: karena malas) dan kalau bisa, kata para guru itu pada sales buku LKS, tolong sekalian disertakan Promes (program semester) dan RPP (rencana program pengajaran). Ah! Ada-ada saja!

Ketiga, pertimbangan mutu soal dalam buku LKS. Dalam kasus PR di atas, sang ayah mencoba mengamati soal-soal yang ada dalam LKS tersebut. Ternyata dari bagian A hingga D soal-soalnya cenderung monoton, artinya soal-soal yang sudah ditanyakan pada bagian A bisa jadi muncul lagi di B, atau D dengan kalimat yang berbeda. Tentu saja hal ini akan membosankan bagi anak yang telah memahami konsep. Nampaknya sang penulis LKS kekurangan bahan soal, namun dikejar target harus memenuhi sekian soal agar LKS jadi sekian halaman sesuai keinginan penerbit. Oleh karenanya mutu soal kurang menjadi pertimbangan penulis LKS. Berpijak dari pengalaman di atas sudah selayaknya kita mempertanyakan mutu soal yang ada dalam LKS SD. Apakah soal-soal dalam LKS tidak bermutu? Untuk menjawab secara obyektif diperlukan sejumlah penelitian, namun secara kasat mata seorang guru yang kompeten akan mampu menilai kadar mutu soal-soal yang ada dalam LKS sehingga ia bisa memutuskan apakah akan menggunakan sebuah LKS atau tidak. Memang untuk LKS SMP dan SMA , kebanyakan soal – soalnya mirip atau sekedar mencuplik (copy paste) dari soal-soal UN yang tentu sudah melalui penyaringan ketat dari pemerintah. Namun kita patut mempertanyakan keaslian (orisinalitas) ide pembuat LKS tersebut, kalau sekedar copy paste semua orang juga bisa, kan? Terus dimana fungsi pengayaan soal dari sebuah LKS?

Alangkah baiknya buku LKS buatan penerbit juga bermula dari pembuatan kisi-kisi soal yang benar lalu dilakukan testing dan analisa butir soal secara benar. Nah, berdasarkan analisa tersebut akan diketahui apakah rangkaian soal-soal tersebut memiliki ketepatan (validity) dan keajegan (realibility) yang cukup. Lewat analisa tersebut Juga akan diketahui tingkat kesukaran (TK) dan daya pembeda (DP) masing-masing soal sehingga memudahkan pembuat soal untuk menentukan butir soal mana yang bisa dipakai dan mana yang harus disingkirkan. Memang untuk menuju kualitas harus menempuh jalan yang berliku, namun dengan garansi kualitas itulah seharusnya para pembuat buku LKS bersaing menawarkan dagangannya.

LKS SD Bisa Mematikan Potensi Anak

Penulis tidak apriori akan keberadaan buku LKS, terutama bila memang memenuhi kualitas standar. Namun penggunaan yang tidak tepat terhadap LKS akan mematikan kemampuan anak sebagai pembelajar aktif dan menjadikan LKS sebagai beban yang menyiksa anak, maka sekali lagi penulis menegaskan bahwa pada usia SD lebih membutuhkan pemahaman konsep secara utuh, dan untuk mengecek kemampuan siswa, guru tidak perlu menggunakan LKS buatan penerbit. Lebih baik para guru memaksimalkan penggunaan buku ajar untuk pemahaman siswanya. Buatlah LKS sendiri yang lebih membumi dan sesuai dengan kebutuhan anak didiknya. Tentu untuk jumlah soal guru yang paling mampu memperkirakan ketuntasan belajar dari masing-masing bab. Tidak harus banyak yang penting tuntas pemahaman materinya. Semoga dengan pencangan sertifikasi guru akan menambah semangat para guru untuk menunjukkan profesionalisme mereka. Selamat mencoba!

Tentang penulis:

Muh.Muslih, peneliti pada MAARIF CENTER, mahasiswa S-2 Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. (HP 081804030020)

Alamat : Kompleks kampus SMP Terpadu Ma’arif Muntilan, Bintaro, Gunungpring, Muntilan, 56415

Email : muslih_upi@yahoo.com atau afiborobudur_mgl@yahoo.co.id

kemarin ada info yang bikin aku tepar seketika. bermula dari temen yang dalam waktu dekat akan pindah rumah ke daerahku. sebelum pindahan ybs mencari sekolah untuk anaknya yang masih SD dan masuk SMP. untuk anaknya yang masih SD, biaya masuk ke SD dengan jarak terdekat dari rumah barunya ga tanggung-tanggung. ya, 25 juta dan tiap bulan masih kudu bayar 1 juta untuk spp. belum termasuk biaya catering, biaya antar jemput dll.

emang sih SD yang di belakang namanya ada embel-embel Islamic School ini mayan beken. tapi 25 juta gitu loh. wajar aja jika pas jam anter sekolah jalanan di sekitarnya macet habis oleh lalu lintas boil-boil pribadi sopir/ortu yang nganter anak di sekolah ini.

jadi inget pas aku masih SD di “Nglegok”, SD muhammadiyah yang terletak di lembah antara Sabrangrowo dan Kujon, uang masuk tidak lebih dari 5 ribu ripis dan spp per bulan tidak lebih dari 500 ripis aja waktu itu udah terbilang paling mahal dalam radius beberapa kilo meter.

perbandingannya menarik nih.

  • yang satu labelnya muhammadiyah dan yang satunya lagi islamic school
  • beda zaman selama 27 tahun
  • rasio biaya uang masuk lebih dari 5.000 kalinya
  • rasio biaya spp per bulan lebih dari 2.000 kalinya
  • kualitas pendidikan ???

apakah di daerah selain jakarta, juga mengalami hal serupa?

trus, dengan biaya pendidikan segitu kira-kira guru-gurunya pada tajir ga ya?

sudah lama ga makan kue ape tiba-tiba tadi pagi lihat abang-abang yang jualan di deket kolong dukuh atas. karena sambil lalu ke kantor jadinya agak buru-buru. beli yang ada aja tapi itu pun ga tahunya uang kecil di dompet terbatas. terpaksa nyodorin satu lembar 50an ribu. untuk ukuran sepagi itu sebetulnya kasihan buat si abang, tapi apa mau dikata. yang bersangkutan pun sempet bingung karena naga-naganya dia ga ada uang kembalian dan di tempat itu cuma dia seorang yang berjualan.

sempet bilang batal aja, ga jadi beli kalau ga ada kembalian karena aku juga ga ada receh. tapi melihat ekspresinya jadi ga tega dan coba dulu  berusaha cari-cari receh di tas, barangkali ada harta karun… dan ternyata oh ternyata emang ada pas seharga kue ape tadi dan lebih 100 ripis. ekspresi si abang berubah jadi semringah… kalau udah rejeki emang ga akan kemana ya bang… :-)

di kalangan pedagang kaki lima, penglaris (buka dasar) merupakan transaksi yang sakral dan akan dijaga suasananya. tidak heran jika untuk penglaris mereka rela ngasih harga khusus atau bonus…. yang penting deal, mereka ga rugi dan transaksi tetep berjalan lancar. kata sebagian pedagang yang pernah aku ajak ngobrol, penglaris jadi semacam cermin bagaimana transaksi yang akan mereka dapatkan di hari itu. jika transaksi awal sudah bermasalah, bawaannya hari itu akan bermasalah juga. sebagian malah punya ritual mengibas-ibaskan uang hasil transaksi penglaris ini ke barang dagangannya. dengan mengucap mantra laris, laris,laris. tentu saja jika uangnya kertas, kalau receh ya beda lagi caranya hehehe.

di luar validitas mitos tersebut, secara psikologis, transaksi awal ini emang jadi semacam mood setter bagi pedagang. mood bagus pada saat dapat penglaris akan coba dia pertahankan sampai dia pulang.

dalam konteks ini sebagai konsumen alih-alih aji mumpung, alangkah eloknya jika bisa membantu mereka, dengan melancarkan transaksi tersebut.

di kalangan yang lebih luas, penglaris muncul dalam istilah early bird.  kurang lebih nuansa batinnya juga sama…

setelah sekian lama vakum ngeblog akhirnya menyempatkan diri barang sebentar corat coret. judul di atas sekedar pembenaran atas rasa males. load gawean emang lagi tinggi, tapi itu bukan alasan yang dapat diterima sepenuhnya…. sebenarnya hehehe

btw, antara nyepi, kampanye dan earth hour menarik juga dihubung-hubungkan.

1. antara nyepi dan kampanye
dua hal ini apa ga saling bertentangan ya? apajadinya kampanye dalam sepi? sepi ing pamrih rame ing gawe? yg terakhir ini juga bukan tipikal kampanye partai/caleg di kita dech.

2. antara nyepi dan earth hour.
bisa ga ya nyepi dikategorikan earth day? bukankah nyepi diadakan tiap tahun dan “aktivitas puasa” a mati geni (tanpa api) merupakan salah satu bagian penting dari caturbrata dalam perayaan nyepi?

3. antara earth hour dan kampanye
jarang banget dech partai/caleg yg mengkampanyekan lingkungan dalam prioritas atasnya. atau aku yg ga update? yg ada aktivitas dalam kampanye turut berkontribusi mencemari. lihat saja spanduk dan poster yg merusak lingkungan baik lingkungan sosial maupun lingkungan hidup. baik secara materi maupun penempatannya.

4. last but not least… antara nyepi dan ngeblog
bukannya dalam nyepi ada a mati karya (tidak mengerjakan apa2). kenapa justru dalam momen menjelang nyepi bangun dari tidur panjang dalam ngeblog?

mbuh ah… sambil membayangkan eksotisnya suasana bali dalam suasana nyepi (karena belum pernah maksudnya)..

Dalam rangka menyemarakkan syiar islam, ulama seringkali mereka/mengadaptasi tradisi sehingga ibadah yang sifatnya transendental menjadi kegiatan komunal. menggeser aktivitas privat antara hamba dengan Tuhannya menjadi kegiatan berjamaah, lengkap dengan serba-serbi yang mengiringinya.

Dalam menyemarakkan 10 hari terakhir Ramadan, tradisi yang antara lain berkembang adalah mengejar malam seribu bulan (lailatul qadar) dengan menggelar malam likuran. Sesuai hitungan hari dari puasa yang sedang dijalani. selikuran (malam 21), telu likuran (23), selawe (25), pitu likuran (27) dan songo likuran (29).

Meski secara matematis ada lima malam ganjil, tapi tradisi likuran punya preferensi tersendiri. Di Bumisegoro, malam paling rame terjadi pada malam selikuran dan pitu likuran. di kedua malam ini biasanya acaranya lebih rame dari biasanya.

serba-serbi dalam malam likuran di Bumisegoro yang cukup khas adalah tradisi jaburan. gotong royong dalam menyediakan konsumsi bagi acara likuran yang biasanya dilangsungkan di masjid/mushola besar. sistem yang berlaku adalah giliran, kuantitas dan kualitas jaburan seikhlasnya.

tiap tahun biasanya jaburan memiliki trend sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi serta “selera pasar”. meski ada beberapa jenis makanan seperti lumpia, pisang goreng, tahu pong (sejenis tahu sumedang) dan beberapa gorengan lain yang sepertinya tak lekang di makan waktu selalu digemari.

tradisi lain yang menyertai malam likuran di Bumisegoro adalah khataman (selesai membaca quran) yang biasanya ditandai dengan, again, makan-makan. biasanya ada acara potong ayam yang dedicated untuk yang ikut darusan, baca Quran secara kolektif dengan sistem sambung menyambung secara bergantian.

Misalnya si A baca 100 ayat, B melanjutkan 90 ayat berikutnya, C melanjutkan 5 halaman berikutnya dan seterusnya. Alhasil, kegiatan ini tidak berat karena sifat tanggung rentengnya. semangatnya adalah bertolong menolong dlm kebajikan dan takwa (wata’awanu ‘alal birri wat tawqa).

Halaman Berikutnya »